BELAJAR AL-ARBAIN HADITSAN : RINGKASAN 40 HADITS

Belajar Al-Arbain Haditsan, Ringkasan 40 Hadis2

Sanad dalam tradisi keilmuan Islam memiliki peran dan posisi penting. Bahkan, oleh as-Syahrastani, sebagaimana ditegaskan dalam kitab al-Milal wa an-Nihal, sanad disebut-sebut sebagai salah satu distingsi (pembeda) utama antara Islam dan agama lainnya.

Keberadaan sanad menjadi faktor kuat serta bukti dan validitas sebuah fakta ilmiah tertentu. Tidak hanya di bidang ilmu hadits, tetapi juga merambah hampir ke tiap disiplin ilmu. Abdullah Ibnu al-Mubarak pernah mengatakan, sanad adalah separuh dari kekuatan agama.

Tanpa sanad, niscaya siapa pun orangnya akan berpendapat apa pun yang dikehendaki tanpa mengindahkan dalil dan argumentasi agama yang kuat dan absah, ujar al-Mubarak. Dalam tradisi periwayatan hadits, validitas dan autentitas sanad merupakan syarat mutlak penerimaan sebuah riwayat tertentu.

Berbagai macam kitab hadits pun telah ditulis untuk menginventarisasi dan mengumpulkan ragam riwayat yang tercecer, baik di lembaran-lembaran catatan maupun hafalan para perawi yang tersebar di seluruh wilayah Arab kala itu. Mulai dari kitab al Jami’, Musnad, Sunan, al Mustakhraj, al Mustadrak, sampai kitab sederhana dan ringkas yang hanya memuat empat puluh hadits saja.

Untuk kategori kitab sederhana dan ringkas itu, para ulama kerap menyebutnya dengan al-Arbain (empat puluh). Salah satu contoh al-Arbain adalah kitab karangan seorang ulama Nusantara berdarah Padang, Sumatra Barat, yang telah menetap lama di Makkah, Arab Saudi, bernama Syekh Abu Al Faidl Muhammad Yasin bin Isa al-Fadani al-Makki.

Ulama Nusantara itu mendapat julukan Musnid ad-Dunya (pakar sanad dunia) lantaran penguasaannya terhadap ilmu hadits baik riwayat ataupun dirayat. Di antara peninggalan berharga ulama terkemuka itu adalah kitab yang bertajuk al-Arbain Haditsan min Arbaina Kitaban an-Arbaina Syaikhan.

Kitab itu adalah ringkas yang mengumpulkan hadits nabi dari 40 syekh dan 40 kitab yang berbeda pula. Maksud 40 syekh adalah mereka para syekh yang dijadikan referensi sanad bagi Syekh Yasin dari 40 ragam kitab yang dinukilnya.

Belajar Al-Arbain Haditsan, Ringkasan 40 Hadis3
Menurut Syekh Yasin, kitab itu disusun tatkala dirinya mendapat kesempatan mengajar kitab al-Arba’in fi Mabani al-Islam wa Qawaid al-Ahkam karangan imam an-Nawawi di Madrasah Dar al-Ulum, Makkah al-Mukarramah. Sejumlah sahabatnya dari para pegiat ilmu hadits lantas meminta syekh untuk mengumpulkan 40 hadits tentang berbagai persoalan mulai dari akidah hingga muamalat.

Tetapi, permintaan itu tidak serta-merta direalisasikan oleh Syekh Yasin. Setelah beristikharah lantas beliau merasa yakin untuk menulis sebuah kitab hadits yang terdiri dari 40 hadits saja. Uniknya, kitab yang rampung ditulis pada tahun 1363 H itu memuat 40 hadits berbeda serta dinukil dari 40 kitab hadits yang beragam pula.

Tak hanya itu, ke 40 hadits tersebut sanadnya diperoleh secara langsung oleh Syekh Yasin dari para syekh ahli hadits. Sebenarnya, ada satu lagi kitab dengan corak serupa yang ditulis Syekh Yasin dengan 40 hadits dari 40 syekh. Hanya saja, kitab kedua yang kelar ditulis satu tahun setelah kitab pertamanya tersebut selesai, tidak dinukil dari 40 kitab,  tetapi diperolehnya dari 40 wilayah yang berbeda hasil perjalanannya mencari hadits rahlat fi thalab al hadits.

Maka serupalah mereka (ulama dan orang saleh) jika tidak bisa sama persis karena sesungguhnya mencontoh orang mulia adalah kunci kesuksesan, kata Syekh Yasin mengutip sebuah pepatah Arab.

Metode penulisan yang digunakannya sangat sistematis karena latar belakang keilmuannya di bidang ilmu hadits riwayat dan dirayat yang sangat mendalam. Secara berurutan, Syekh Yasin menyebutkan hadits satu per satu sesuai dengan derajat kitab hadits yang pernah ada.

Tentunya apa yang dilakukan Syekh Yasin tak hanya menukil lalu mencomot begitu saja dari kitab bersangkutan. Akan tetapi disertai dengan menyebutkan sanad yang didapatkannya. Kitab yang menjadi nukilan pun sangat beragam mulai dari kitab shahih, sunan, musnad, mu’jam, mushannaf, hingga kitab hadits tentang fadlail a’mal.

Bahkan, Syekh Yasin menyertakan informasi singkat tentang hukum hadits yang dibahasnya berikut takhrij ijmali (takhrij global) akan keberadaan hadits serupa di kitab-kitab hadits lainnya.

Syeikh Yasin memulakan kitabnya dengan 6 (enam) kitab hadits mu’tabar yang menduduki rangking utama. Keenam kitab itu adalah Shahih al-Bukhar, Shahih Muslim, Sunan Abu Daud, Jami’ at-Turmudzi, Sunan an-Nasai dan Sunan Ibnu Majah.

Tak ketinggalan, kitab Muwaththa’ karangan Imam Malik, baik yang berasal dari riwayat Yahya maupun Muhammad menyusul dalam deretan keenam kitab tersebut, sedangkan tiga kitab yang termasuk deretan terakhir dalam kitab Syekh Yasin adalah kitab as-Sunnah karangan al-Kai, Hilyat al-Awliya’ karya Abu Nu’aim al-Ashfahani dan kitab Amal al-Yaum wa al-Lailat karangan Ibnu as-Sinni.

Sebagai contoh, hadits pertama yang disebutkan dalam kitab itu terdapat dalam kitab Shahih Bukhari tentang landasan haji qiran atau menunaikan ibadah haji sekaligus umrah. Riwayat hadits tersebut diperoleh Syekh Yasin dari Syekh Hafsh Umar bin Hmadan al-Mahrasi at-Tunisi, seorang pakar hadits di Arab Saudi.

Sanad yang disampaikan oleh Syekh Hafsh tak terputus dan menyambung hingga Muhammad bin Ismai’il al-Bukhari, sementara sanad yang dimiliki al-Bukhari tersambung dengan Ibnu Abbas dan Umar bin Khattab. Hadits tersebut berbunyi, Saya (Umar bin al-Khattab) mendengar Rasulullah bersabda saat berada di lembah al-Aqiq (sebuah lembah yang dekat al-Baqi’ yang berjarak 4 mil dari Madinah): Seorang utusan dari Tuhanku mendatangiku suatu malam dan berkata : Shalatlah di lembah yang diberkah ini dan berniatlah umrah dan haji (qiran).

Syekh Yasin lantas memberikan sedikit keterangan tentang hadits itu. Menurut dia, derajat hadits tersebut adalah sahih. Imam Bukhari meriwayatkannya dalam kitab al-Hajj dengan redaksi dan sanad sama persis. Hadits itu juga dirwayatkan oleh beberapa pakar antara lain, Abu Daud dan Ibnu Majah dalam kitab Sunan-nya, Ibnu Abi Syaibah dari kitab al-Mushannaf, dan Ibnu al-Jarud dalam kitab Shahih-nya.

Konsistensi Syekh Yasin dalam memaparkan tiap hadits yang dinukilnya terjaga dengan apik hingga pembahasan terakhir. Di pengujung karyanya itu, syekh mengutip sebuah hadits dari kitab karangan Ibn As Sinni bertajuk Amal al-Yaum wa al-Lailat. Menggunakan sanad dari Syekh Umar bin Abi Bakar Bajunaid, ia menukil sebuah hadits riwayat Anas bin Malik Al Anshari.

Diriwayatkan bahwasanya Rasulullah SAW bersabda,

Apabila seorang laki-laki keluar dari rumah, ucapkanlah: Bismillahi alaihi tawakkaltu ’alallahi la haula wala quwwata illa billah (Dengan menyebut nama Allah aku bertawakkal kepada Allah tidak ada daya dan upaya kecuali dengan Allah). Maka, seketika itu juga dikatakan padanya, ’Engkau telah dijaga, diberikan petunjuk, dan dicukupi’.

Dia berkata, “Setan malu bertemu dengannya lalu setan tersebut bertemu dengan setan lainnya dan mengatakan: ‘Bagaimana bisa menggoda seorang laki-laki yang telah dijaga, diberi petunjuk, dan telah dicukupkan’.

Wallohu a’lam bishshawab

KEMBALILAH KE TUGAS UTAMAMU

 

Mari kembali ke tugas kita, ilmu, amal dan dakwah. Mari kita menghargai waktu kita, kembali membenahi hubungan kita dengan Allah saat fitnah seperti ini.

012517-kembalilah-ke-tugas-utamamu

Akhir-akhir ini, banyak orang bahkan penuntut ilmu dan ustadz tersedot waktu, energi dan pikiran untuk mengikuti berita perkembangan politik praktis negeri ini yang semakin carut marut.

Beberapa penuntut ilmu bahkan ustadz mendadak berubah profesi dari pendakwah menjadi pengamat politik bahkan politikus yang mengulas dan menganalisa peta politik sehingga tersibukkan dari tugas mulia yang inti.

Lebih parah lagi, para awam yang tidak mengerti thaharah (bersuci) dan shalat pun berani berbicara masalah besar tanpa kontrol dan kendali seakan ulama kibar dan Mufti.

Manhaj salaf yang saya kenal sejak dulu adalah menyibukkan diri dengan ilmu, amal dan dakwah, bukan dengan politik praktis zaman ini yang penuh dengan noda-noda yang bertentangan dengan syariat Islam yang mulia.

Dahulu Syaikh Albani berkata:

من السياية اليوم ترك السياية

“Termasuk politik syar’i zaman ini adalah meninggalkan politik praktis”.

Sebuah nasehat dan ucapan yang sangat indah. Dan lebih indah lagi jika kita mengamalkannya, lebih-lebih dalam situasi hiruk-pikuk politik yang melelahkan saat ini.

Mari kembali ke tugas kita, ilmu, amal dan dakwah. Mari kita menghargai waktu kita, kembali membenahi hubungan kita dengan Allah saat fitnah seperti ini. Bukankah Nabi  Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

العبادة في الهرج كهجرة إلي

Ibadah saat kacau pahalanya sepertinya hijrah padaku” (HR. Muslim no. 2948).

Mungkin Anda bertanya-tanya, kenapa bisa begitu? Karena saat situasi kacau, biasanya banyak orang lalai dari ibadah kepada Allah.

Bukan berarti kita tidak memikirkan masalah negeri, tetapi kita punya cara tersendiri untuk menghadapinya berdasarkan tuntunan illahi, yaitu dengan menyibukkan diri dengan ibadah.

Kalaupun berbicara tentang politik, biarlah hal itu kita serahkan kepada orang-orang yang ahli di bidangnya dari ulama dan umara’ tanpa menyibukkan umat dan memprovokasi menuju anarkisme, demonstrasi dan pertumpahan darah.

Mari bersikap tenang, jangan sibukkan diri kita dengan politik praktis.

Wahai para penuntut ilmu dan para ustadz, tolong ajarkanlah kami kembali kepada ilmu yang bermanfaat, gandenglah tangan kami menuju surga, jangan sibukkan kami terlibat dan terjun dalam dunia politik praktis yang kotor.

Semoga Allah memperbaiki keadaan negeri ini.

Barakallah

@kaefota

MENJADI MUSLIM SEJATI

042414 KF - majlis ta'lim

Imam Taqiyuddin Abu Amr Usman bin Abdurrahman bi Usman bin Musa bin Abi Nasr an-Nashry as-Syahrazy atau lebih dikenal dengan nama Imam Ibnu Shalah, telah membagi tingkatan hadits sahih menjadi tujuh tingkatan.

Pertama, Shahih muttafaq ‘alaihi, yaitu hadits sahih yang disepakati oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. Inilah tingkatan yang teratas, yang disebut juga Shahihain.

Kedua, Shahih Bukhari, yakni hanya diriwayatkan oleh Imam Bukhari.

Ketiga, Shahih Muslim, yakni hanya diriwayatkan oleh Imam Muslim.

Keempat, sahih menurut syarat yang ditentukan oleh Imam Al Bukhari dan Imam Muslim, namun keduanya tidak meriwayatkan hadits tersebut.

Kelima, sahih hanya menurut syarat Imam Al-Bukhari, namun Bukhari tidak meriwayatkannya.

Keenam, sahih hanya menurut syarat Imam Muslim, namun ia tidak meriwayatkannya.

Ketujuh, sahih menurut riwayat lain-lainnya, tidak menurut syarat keduanya.

Al-Hafizh Ibnu Hajar, seorang tokoh terkemuka dalam bidang ilmu hadits menegaskan bahwa yang dimaksud dengan kesesuaian Imam Bukhari dengan Imam Muslim (muttafaq ‘alaihi) adalah di dalam hal pen-takhrij-an kemurnian hadits dari para perawinya, walaupun di sana ada beberapa perbedaan di beberapa susunan haditsnya.

Kitab Al Lu’lu wa al-Marjan fii ma Ittafaqa ‘Alaihi as-Syaikhan, karya Muhammad Fuad Abdul Baqy, dapat dikatakan sebagaimana yang dimaksud oleh Ibnu Ash Shalah tadi.

Buku yang di-Indonesiakan oleh Penerbit Pustaka As-Sunnah dengan judul Al-Lu’lu’ wal Marjan: Ensiklopedi Hadits-hadits Shahih yang Disepakati Oleh Bukhari dan Muslim ini memuat hadits-hadits yang berada pada puncak kesahihan, tingkatan pertama dan utama yang memuat hadits-hadits sahih yang disepakati kesahihannya oleh Imam Bukhari dan Muslim.

Karena itu, buku yang menghimpun 1.906 hadis sahih–dan merupakan intisari dari apa yang ada di dalam Shahihain–ini merupakan rujukan yang sangat penting bagi kaum Muslimin untuk memahami dan melaksanakan ajaran Islam secara kaffah (sempurna).

Penulis memberi komentar-komentar singkat pada tiap-tiap hadits dan menukil perkataan para ahli ilmu, pensyarah hadits-hadits khususnya Imam Nawawi (Syarah Shahih Muslim) dan Ibn Hajar al-Asqalany dalam kitabnya, Fath al-Baari fi syarhi Shahih al-Bukhary.

Pustaka As-Sunnah menerbitkan buku ini dalam 2 (dua) jilid hard cover, yang tebalnya masing-masing 800 dan 836 halaman. Jilid I dimulai dengan kitab iman yang mencapai 69 pembahasan, dari pengertian dan ciri-ciri iman, cabang-cabang iman, mencintai Rasulullah, hukum menyembunyikan iman bagi orang yang takut, hingga orang-orang yang masuk surga dan neraka.

Disusul kemudian dengan pembahasan masalah thaharah (bersuci) yang mencakup 19 pembahasan, antara lain wajib bersuci untuk melakukan shalat, siwak, tuntunan fitrah, adab buang air, hukum jilatan anjing, mencuci mani yang melekat di baju, serta najisnya darah dan cara membersihkannya.

Pembahasan berikutnya adalah haid yang mencakup 24 pembahasan.  Banyak hal yang sangat penting dan kerap ditanyakan oleh umat dibahas di sini. Misalnya, bergaul dengan istri yang sedang haid, tidur bersama istri yang sedang haid dalam satu selimut, hukum air madzi, tidur sebelum mandi junub, wajib mandi bagi wanita karena keluar mani, cara mandi junub, tayammum dan apakah tidur membatalkan wudhu.

Objek pembahasan lainnya adalah shalat. Bab ini meliputi 37 pembahasan. Di dalamnya dibahas, antara lain tentang azan dan iqamat, berbagai hal tentang rukun, sunah dan bacaan shalat, hingga larangan berjalan di depan orang yang shalat. Bab ini dilengkapi dengan pembahasan masalah masjid dan tempat-tempat shalat, lalu shalatnya musafir dan cara meng-qashar shalat, shalat Jumat, shalat hari raya, shalat istitsqa, shalat gerhana dan shalat jenazah.

Pembahasan berikutnya adalah bab zakat, puasa, iktikaf, haji, nikah, susuan, talak, li’an, itqi, permasalahan tentang jual beli.

Buku jilid II menyajikan hal-hal yang tidak kalah pentingnya. Dalam bagian kedua ini, dibahas tentang berbagai hal menyangkut masalah kehidupan umat lainnya.

Topik pertama yang dibahas adalah masalah tanaman yang disiram dan tentang pertanian secara umum.
Kemudian, dibahas juga mengenai muamalah, seperti jual beli, hukum menjual minuman keras, jual beli saham dan hukum sumpah palsu dalam jual beli.

Sedangkan dalam bab waris, dibahas mengenai orang-orang yang berhak menerima warisan, yang tidak mendapatkan warisan, cara membagi warisan, membagi warisan apabila si mayit pernah berwasiat dan lainnya.

Bab berikutnya adalah sumpah, pembagian, hukuman (hudud) dan keputusan hukum. Selanjutnya, kitab barang temuan, jihad, kepemimpinan (pemerintahan), hukum berburu dan menyembelih, serta binatang yang boleh dimakan, hewan kurban, minuman dan makanan, pakaian dan perhiasan.

Kemudian, penulis juga mengupas tentang masalah akhlak dan adab, mengucapkan salam dan kata-kata yang santun. Tak lupa pula, penulis menyertakan sebuah bahasan khusus tentang masalah syair.

Agar umat bisa meneladani akhlak dan pribadi Rasulullah SAW, pengarang kitab ini juga menyertakan pembahasan tentang akhlak dan keutamaan para sahabat Nabi SAW, seperti Abu Bakar as-Siddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib RA. Tak ketinggalan juga kalangan tabiin (generasi setelah sahabat), hingga tabi’ at-tabiin (generasi setelah tabiin).

Masih banyak topik bahasan lainnya yang terdapat dalam kitab Al-Lu’lu’ wa al-Marjan. Seperti, keutamaan berdzikir, tobat, zuhud, ilmu dan lain sebagainya.

AS SYAKWA WA AL ITAB : MENGELOLA POTENSI INDIVIDU

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Interaksi antarsesama manusia memerlukan keahlian dan seni tersendiri. Bagaimana bersikap dan berbicara dengan orang lain yang memiliki latar belakang yang berbeda. Semua itu sepatutnya dilakukan dengan etika dan cara yang elegan, tanpa menegasikan jati diri dan keistimewaan dalam diri seseorang.

Begitu pula kaitannya dengan pengelolaan potensi internal yang ada pada diri seseorang, tentunya membutuhkan keterampilan lewat proses panjang dan tempaan yang berkesinambungan, terutama mengoptimalkan energi positif dan mengubah daya negatif menjadi sebuah kekuatan dahsyat.

Abu Manshur Abd Al Malik bin Muhammad bin Ismail menulis sebuah karya yang berkenaan dengan pengelolaan potensi yang ada pada diri seseorang. Melalui kitab yang berjudul As Syakwa Wa Al Itab Wama Waqa li Al Khillan wa Al Ashhab, tokoh kelahiran Nisabur, Iran, tersebut mencoba mengupas topik-topik itu.

Guna mendukung ulasannya itu, sosok yang lebih dikenal dengan panggilan Ats Tsa’alabi tersebut mengonsep tulisannya secara sederhana.  Kesederhanaan itu tampak di 10 bab utama yang menjadi bahasan kitab ini.

Ats Tsa’alabi cukup menukil hadits, perkataan-perkataan tokoh dan syair-syair yang berkorelasi langsung dengan tema yang ia bahas. Bahkan pada sejumlah kesempatan, ia mengutip teks-teks keagamaan yang terdapat di kitab suci Nasrani, yaitu Injil. Hampir tak ditemukan sama sekali komentar-komentar dan analisis yang ditampilkan oleh penulis.

Selain itu, pemilihan tema di setiap babnya pun dipilih secara acak. Jika beberapa buku raqaiq dan zuhd yang memuat etika-etika ibadah dan sosial kebanyakan diawali dari pembahasan hati ataupun niat, namun di kitab ini Ats Tsa’alabi lebih memilih mengawali uraiannya pada bab pertama mengenai tradisi teguran dan aduan oleh seseorang. Di bab ini, tokoh kelahiran 350 H/961 M ini menyodorkan argumentasi bahwa teguran bisa memicu kebencian antar dua sahabat.

Pada bab kedua, misalnya, Ats Tsa’alabi membahas bagaimana menghadapai pembantu, budak dan pelayan yang sehari-hari mengabdi di rumah. Di bab yang lain, figur yang dikenal piawai di berbagai bidang keilmuan itu membahas fenomena rasa rindu yang hinggap pada diri seseorang. Lalu, di bab terakhir ia menukil argumentasi tentang urgensi bersikap adil.

As Syakwa Wa Al Itab, Mengelola Potensi Individu3

Dalam bukunya ini, murid dari ulama ternama, Abu Bakar al-Khawarizmi tersebut, menyajikan teks-teks keagamaan terkait sebuah teguran pada bab pertama. Menurut dia, sebagaimana yang terdapat di hadits riwayat Anas bin Malik RA, Rasulullah tidak pernah menegur—dalam konotasi negatif—selama ia tinggal dan membaktikan diri kepada Rasulullah.

“Saya mengabdi kepada Rasulullah selama 10 tahun. Beliau tidak pernah berkata ‘uff’ , tidak pernah mencela apa yang dibuat dan tidak pernah marah,” kata Anas yang dijuluki Khadim ar-Rasul (pembantu Rasulullah).

Riwayat lain menyebutkan, kesalahan apa pun yang diperbuat tak sepantasnya disebarluaskan, sekalipun pelanggaran yang dilakukan adalah zina.

Jika pembantu perempuan kalian berzina, berlakukanlah had, dan janganlah kalian mempermalukannya (di hadapan publik),” demikian sabda Rasulullah.

Menurut Abu Ad Darda’—seperti dinukil Ats Tsa’alabi — teguran santun di kondisi tertentu tetap dibutuhkan, tanpa menghilangkan arti sebuah hubungan atau mungkin, menafikan estetika pergaulan. Dengan teguran-teguran ‘bersahabat’ itu, diharapkan mampu mempertahankan hubungan yang telah terjalin apik.

“Menegur saudara lebih mudah dibandingkan kehilangan mereka,” kata Abu Ad Darda’. Teguran harus menjadi prosedur pertama yang lazim dijalani sebelum dijatuhkan sanksi. Hal ini seperti dikutip dari Aus bin Haritsah. Ia pernah berkata kepada salah satu anaknya, “Teguran sebelum hukuman.”

Ats Tsa’alabi mengutip pula beberapa teks yang menegaskan pentingnya memperlakukan para budak dengan baik. Hadits riwayat Ali bin Abi Thalib menyebutkan kedudukan seorang budak di mata Allah. Budak ahli ibadah dan mampu memberikan nasihat yang baik untuk tuannya, dijanjikan- Nya termasuk salah satu golongan yang pertama kali masuk surga, selain para syahid.

Wasiat berinteraksi yang baik kepada para budak juga ditegaskan oleh Rasulullah di akhir khotbahnya saat haji wada’.

Shalat, shalat, dan takutlah kalian atas Allah terhadap para budak,” kata Rasulullah di penggalan khotbah terakhir Beliau.

Di bagian lain, ulama yang wafat pada 429 H/ 1038 M itu menukil dalil-dalil yang menyangkut anjuran agar tidak bersikap malas dan menunda-nunda pekerjaan. Dalam hal berbuat baik, praktiknya tak selalu berupa amaliah yang berat. Adakalanya kebajikan itu adalah ucapan-ucapan ringan. Karena itu, tak ada alasan untuk tidak melakukannya. Bertasbih, salah satunya.

Diwayatkan dari Sa’ad bin Abi Waqash RA, ketika itu para sahabat sedang berkumpul bersama Rasulullah. Beliau pun bertanya,

Apakah kalian tidak mampu memperoleh seribu kebajikan setiap hari?” Sahabat lalu menimpali, “Bagaimana bisa sehari seribu kebaikan?”

Beliau menjawab, “Bertasbihlah setiap hari 1.000 kali maka akan dicatat baginya 1.000 kebaikan sekaligus menghapus 1.000 dosa.”

Imam Ali bin Abi Thalib juga pernah berkata, “Barang siapa yang menaati rasa malas maka ia telah menghilangkan hak-hak.”

Ats Tsa’alabi menyebutkan pula tentang perasaan rindu yang bisa menimpa sese orang. Konon, ketika Aisyah membebaskan budaknya, Barirah yang bersuamikan Mughits, seorang Habsyi, Aisyah memberikan pilihan kepada Barirah antara tetap bersama suaminya atau tinggal berpisah. Barirah kemudian lebih memilih tak lagi menyatu dengan suami.

Selang berapa lama keduanya tak lagi bertemu, hingga keduanya saling bertemu saat thawaf bersama. Selama thawaf, air mata Barirah berlinang karena rasa rindu. Nabi SAW pun menanyakan kepada Bari rah, apakah ia ingin kembali lagi ke suami lantaran Beliau merasa iba dan prihatin. Bila keinginan itu benar, Rasulullah tak segan lagi mempertemukan dan mengikat mereka kembali.

Namun, Barirah menolak. Betapa rasa rindu, juga sangat menyentuh perasaan Rasulullah. Al-Jahidz pernah berkata bahwa rindu adalah istilah bagi rasa cinta yang berlebih, seperti halnya kata kemuliaan dipergunakan untuk menyebut kebaikan yang berlimpah dan bakhil sebagai ungkapan bagi sikap ekonomi yang keterlaluan.

MODAL MENJADI PEJABAT ADALAH TAKWA

Modal Menjadi Pejabat adalah Takwa2

Mengawali mukadimah kitabnya, Al-Mawardi yang kelahiran Basrah 336 H/975 M itu mengutarakan tentang posisi penting seorang wazir di sebuah negara. Menurutnya, wazir tidak hanya mengatur rakyat, tetapi juga mengurusi raja yang berkuasa.

Wazir bisa mengeluarkan kebijakan yang berpengaruh langsung pada pola dan alur kehidupan warga sehari-hari. Apa pun kebijakan yang ia keluarkan, wajib ditaati.

Pada diri seorang wazir berkumpul 2 (dua) hak sekaligus, yaitu seorang pengatur sekaligus yang diatur. Di sinilah pentingnya dedikasi dan komitmen seorang wazir. Baik buruknya negara terletak di pundak wazir. Profesionalitas dan istiqomah pada prinsip-prinsip kebaikan yang bersumber pada agama, mutlak perlu terus dibudayakan.

“Jangan suka berkelit dan mengeluh,” tegas al-Mawardi.

Sebaliknya, wazir dituntut bekerja keras dan terus berusaha. Tumbang usai berupaya maksimal, lebih baik daripada kalah saat ada kemampuan dan peluang terbuka.

“Maksimalkan waktu yang Anda miliki,” tulis al-Mawardi.

Karena itu dalam pandangan ulama bermazhab Syafi’i ini, dasar dan modal utama seorang wazir adalah senantiasa bertakwa kepada Allah SWT selama mengemban tugas tersebut. Mengurus negara ada fondasinya, yaitu agama. Sedangkan sistemnya ialah kebenaran dan objektivitas yang abadi dan tak berbias.

Dalam sebuah riwayat, Rasulullah mengatakan bahwa, tidak ada ganjaran lebih besar yang diberikan Allah SWT kecuali bagi menteri yang saleh bersama seorang imam yang ia taati. Imam itu menyerunya selalu tunduk kepada Allah.

Manifestasi takwa kepada Allah dari diri seorang wazir, adalah bersikap adil. Adil bagi figur menteri merupakan investasi yang langgeng sedangkan kezaliman adalah kerugian yang datang begitu cepat. Dalam hal ini, seorang menteri dituntut berbuat adil dalam urusan harta, ucapan dan perbuatan.

Soal harta, jelas al-Mawardi, ialah mengelola keuangan negara sesuai dengan porsi dan anggaran, tanpa mengurangi dan menggelembungkannya. Jangan sekali pun berniat meraup keuntungan pribadi dengan mengkorupsi uang negara.

Ketika berucap, menteri harus proporsional dan tidak tebang pilih. Tidak menjilat kepada penguasa ataupun meremehkan kalangan bawah. Tidak pula berbicara manis kepada pemegang status sosial tinggi namun mencibir masyarakat biasa.

Adil dalam bersikap, menurut al- Mawardi, hendaknya wazir tidak menjatuhkan hukuman kecuali atas dasar kesalahan yang dilakukan seseorang dan hanya memberikan remisi atau ampunan bagi mereka yang bertobat.

Kebencian kepada siapa pun sepatutnya tak menghapus rekam jejak kebaikan. Begitu pula sebaliknya, kecintaan dan penghormatan pada sosok tertentu, tak membuat mata tertutup pada kejahatannya.

Diceritakan, Nabi Sulaiman as pernah berkata, “Aku memberikan sesama apa yang mereka berikan atau belum memberinya dan aku mengetahui apa yang mereka ketahui dan belum. Dan, aku tidak memberi apa pun yang lebih utama kecuali objektivitas, baik saat senang ataupun kala murka.

Al-Mawardi pun kembali menekankan, “Balasan kepada seseorang hanya berdasar baik atau buruknya.”

MEMBUKA TABIR BANGSA JIN

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Perbincangan soal jin dan dunia mereka seakan tak pernah ada habisnya. Penuh misteri. Ada banyak hal yang belum terungkap dan masih menyisakan tanda tanya besar. Berbagai upaya di level akademik atau observasi langsung dilakukan demi menjawab segudang pertanyaan tentang bangsa jin dan hakikat mereka.

Kitab yang ditulis Badruddin bin Abdullah as-Syibly, yang berjudul Ajaib wa Gharaib al-Jin ini, adalah entri penting yanng memperluas cakrawala seputar jin. Kitab yang manuskripnya ditemukan pertama kali dengan judul Akam al-Marjan fi Ahkam al-Jan ini, memuat beberapa bahasan penting yang menjawab secara fundamental apa pun terkait bangsa halus tersebut.

Inilah yang melatarbelakangi sebagian kalangan mendaulat kitab karangan tokoh yang juga dikenal sebagai qadi itu sebagai referensi terpenting, bahkan kitab paling komprehensif seputar jin yang pernah ditulis pada Abad Pertengahan.

Dalam kitab yang dicetak oleh al-Azhar, Mesir pada 1358 M dengan judul  Akam al-Marjan fi Gharaib al-Akhbar wa Ahkam al-Jan dibeberkan secara lugas berbagai jawaban atas pertanyaan seputar Jin. Syekh Badruddin yang bermazhab Hanafi itu mengisahkan mengapa ia tertarik membahas persoalan jin? Ini tak lain didorong munculnya perdebatan tentang pernikahan antara manusia dan jin pada masa itu. Saya pun tergerak menulis kitab yang pada masa itu dibilang asing ini, kata dia dalam mukadimah.

Hal mendasar yang dicoba diyakinkan oleh Syekh Badruddin adalah keberadaan jin itu sendiri. Sosok yang wafat pada 729 H ini menegaskan keberadaan jin. Secara logika dan rasionalitas, serta tentu didukung dengan dalil tekstual baik dari Alquran dan Sunah, keberadaan jin tidak bisa dinafikan. Mereka ada hidup di alam lain, yang berbeda dengan dunia manusia.

Ia menepis asumsi para filsuf dan sebagian cendekiawan Muslim dari Sekte Qadariyah dan mayoritas Mu’tazilah yang enggan percaya keberadaan jin. Bukan berarti mereka tak kasat mata dan tak teraba indra, lantas mereka tak ada. Banyak bukti baik berupa dalil tekstual maupun konsensus ulama sejak masa sahabat hingga tabiin yang menguatkan keberadaan jin.

Membuka Tabir Bangsa Jin2
Kapankah Jin diciptakan?

Muncul pertanyaan berikutnya, yaitu kapankah jin diciptakan? Syekh Badruddin mengutip pendapat tokoh salaf. Di antaranya Abdullah bin Amr bin al-Ash, ia mengatakan, Allah menciptakan jin 2000 tahun sebelum menciptakan Adam dan keturunannya. Jin didaulat tinggal dan mengurus bumi. Sedangkan, para malaikat menghuni langit dengan kualitas iman dan amal saleh yang jauh di atas bangsa Jin.

Bahan Penciptaan Jin

Di bagian selanjutnya, Syekh Badruddin menjelaskan bahan penciptaan jin. Jika manusia tercipta dari sari pati tanah, bangsa jin tercipta dari api neraka. Menurut Qadi Abd al-Jabbar, argumentasi atas fakta ini sangat tekstual. Ini merujuk antara lain surah al-Hijr ayat ke-27 dan surah ar-Rahman ayat ke-15.

Karena itulah fisik jin sangat halus dan bahkan transparan tidak kasat mata. Mereka melihat manusia, tetapi manusia tak dapat mengindra mereka secara umum. Kendati demikian, ia mempunyai kemampuan menjelma dan berubah wujud dalam bentuk makhluk nyata, seperti binatang atau bahkan manusia.

Ini seperti yang pernah terjadi ketika jin dengan jenis setan menjelma menjadi Suraqah bin Malik bin Ja’syam lalu mendatangi kafir Quraisy, ketika mereka tengah bermusyawarah untuk terjun dalam Perang Badar. Peristiwa tersebut terekam dalam Alquran surah al-Anfal ayat ke-48.

Dan ketika setan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka dan mengatakan: “Tidak ada seorang manusia pun yang dapat menang terhadapmu pada hari ini dan sesungguhnya saya ini adalah pelindungmu”.

Tatkala kedua pasukan itu telah dapat saling lihat melihat (berhadapan), setan itu balik ke belakang seraya berkata: “Sesungguhnya saya berlepas diri daripada kamu, sesungguhnya saya dapat melihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihat; sesungguhnya saya takut kepada Allah. Dan Allah sangat keras siksa-Nya.

Membuka Tabir Bangsa Jin3

Aktivitas Jin

Fakta yang tak kalah menarik dalam karya Syekh Badruddin yang bercorak hadits tekstual ini adalah aktivitas jin pada dasarnya serupa dengan manusia. Mereka makan, minum, tidur dan beranak-pinak.

Kendati para ulama tidak satu pendapat ihwal apa jenis makanan mereka. Ada yang mengatakan diantara makanan jin adalah segala hal yang tidak disembelih dengan asma Allah. Ada pula yang mengatakan menu favorit jin adalah tulang belulang.

Berbeda dengan manusia dan tuntunan yang diajarkan Rasulullah SAW, bangsa jin makan dan minum menggunakan tangan kiri. Sementara kita, umat Islam diajarkan menggunakan tangan kanan untuk kedua aktivitas tersebut.

Kesamaan tersebut bukan hanya soal kebutuhan biologis sehari-hari melainkan soal aspek ritual, pada dasarnya bangsa jin juga mendapat perintah yang sama yaitu beribadah kepada Allah SWT seperti manusia.

Mereka juga mendapat perintah dan larangan. Tidak menyekutukan Allah misalnya dan perintah berbuat baik serta larangan melakukan maksiat. Kendati demikian, ulama sepakat, Allah tidak pernah mengutus rasul dari bangsa jin. Para rasul hanya berasal dari bangsa manusia.

Katakanlah (hai Muhammad): “Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Alquran), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan Alquran yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seseorang pun dengan Tuhan kami. (QS al-Jin [72]: 1-2).

Aura mistis begitu melekat begitu bersinggungan atau sekadar membahas jin, setan, makluk halus atau mereka yang sejenis. Bahkan sering kali kita manusia dibuat takut dan tak berani bertatap muka.

Padahal tahukah Anda, jika ternyata makhluk halus dari bangsa jin itu justru takut dengan kita, umat manusia. Ini dengan catatan bila kita memiliki keberanian yang ditopang dengan iman kuat terhadap Allah SWT.

Kisah Mujahid bin Jabir, tokoh terkemuka generasi tabiin ini menegaskan fakta tersebut. Cerita ini seperti dinukilkan dari kitab Gharaib wa ‘Ajaib al-Jin karangan Dalam kitab tersebut, seperti diriwayatkan dari Ibn Abi ad-Dunya, Mujahid mengisahkan, suatu ketika ia hendak melaksanakan shalat pada pertengahan malam.

Belum juga melakukan takbiratul ihram, tiba-tiba sosok misterius seusia anak remaja muncul tepat di depannya. Spontan, Mujahid bergegas hendak menangkapnya.

Namun, sosok yang ternyata adalah jin tersebut berdiri lalu meloncat. Saat hendak kabur itulah ia terjatuh di belakang dinding, hingga suaranya terdengar keras. Ketika itu juga ia tidak kembali lagi, ujar Mujahid.
Ketahuilah mereka itu sebenarnya takut kalian, sebagaimana kalian takut mereka, kata Mujahid lagi.

Penegasan lain juga disampaikan Yahya bin al-Jazzar. Ia melihat Abu Syur’ah takut memasuki toilet yang berada di luar rumah pada tengah malam. Yahya pun memintanya agar tak takut. Sesungguhnya yang engkau takuti itu lebih terbirit-birit (ketika melihatmu), kata Yahya.

Mujahid pun kembali berpesan, ketika kita melihat bangsa jin (setan, memedi, makhluk halus, dlsb), janganlah kalian lari tunggang-langgang yang membuat kalian sendiri trauma. Tetapi, hadapilah dia akan pergi sendiri, ujarnya berpesan.

Bagaimana, Anda berani berhadap-hadapan dengan setan?

AS-SYAMARIKH FI ILMI AT-TARIKH : SEJARAH PEMBUATAN PENANGGALAN

images (1)

Sejarah, tak sekedar kisah yang dinuki, tanpa faedah dan makna. Keberadaan sebuah fakta sejarah yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan memiliki kedudukan krusial dalam Islam. Sebagiannya bahkan digunakan oleh para ahli hadits, sebagai dasar sanggahan terhadap kebohongan fakta yang disematkan musuh Islam.

Ada kisah yang dinukil tentang urgensi sejarah. Konon, sekelompok Yahudi Khaibar pernah mengklaim ke Wazir Ibnu Musallamah, bahwasanya Rasulullah SAW telah menggugurkan kewajiban membayar upeti (jiziyyah) dari mereka.

Mendengar cerita itu, sang wazir tak lantas mempercayainya. Ia kemudian menanyakannya ke pakar sejarah, al-Khatib al-Baghdadi, pengarang kitab ilmu hadits terkenal al-Kifayah fi ‘Ilm ar-Riwayah. Menurut tokoh tersebut, klaim yang disampakan para Yahudi itu mengada-ada dan tidak pernah ada faktanya.

Pendapat al-Khatib bukan tanpa dasar. Sepanjang yang ia ketahui, klaim Yahudi itu merujuk pada kesaksian Muawiyah bin Abi Sufyan. Padahal, Muawiyah baru menyatakan Islam saat peristiwa penaklukkan Makkah (fathu Makkah). Sedangkan peristiwa Khaibar, terjadi pada tahun ketujuh Hijriah.

Argumentasi lain ialah keberadaan saksi Sa’ad bin Mu’adz. Ini janggal. Pasalnya, Sa’ad meninggal di tahun terjadinya perang Khandaq, sebelum perang Khaibar meletus. Masih banyak kisah lain yang menguatkan urgensi sejarah.

Dalam kitab as-Syamarikh fi Ilmi at-Tarikh, (Acuan Ilmu Sejarah), karya ulama terkemuka di abad kedelapan Hijriah, Jaladuddin as-Suyuthi, urgensi sejarah hendak diungkapkan. Kitab yang ketiga naskah manuskripnya ditemukan di perpustakaan Al-Azhar, Kairo Mesir itu membahas hal-hal yang berkenaan dengan sejarah.

Tetapi, jangan membayangkan kitab yang dikarang oleh tokoh kelahiran Kairo, 1 Rajab 849 tersebut itu layaknya ensiklopedi komplet sejarah dengan segenap rentetan peristiwa sekaligus data lengkap atau membandingkannya dengan kitab-kitab sejarah sekaliber karya Ibnu Sa’ad dengan Thabaqat al-Kubra, Thabari melalui Tarikh-nya atau barangkali Ibnu Katsir dalam karya nya al-Bidayah wa an-Nihayah.

Apa yang dilakukan as-Suyuthi dalam karyanya itu ialah merangkai fakta-fakta sejarah yang tercecer di referensi- refensi utama tersebut.

Kitab ini ditulis cukup sederhana, hanya terdiri atas 3 (tiga) bab. Namun, kesederhanaannya itu tak mengurangi kualitas dan nilai buku tersebut. Bahkan, menyodorkan fakta mencengangkan yang mendobrak asumsi semua orang perihal siapakah yang pertama kali memberlakukan kalender Hijriah.

Di bab pertama, tokoh bermazhab Syafii itu menulis tentang permulaan penulisan sejarah berikut patokan yang digunakan untuk melakukan penanggalan.

Pada bab kedua, ia mengemukakan sejumlah manfaat dan kegunaan sejarah. Menurut dia, ada beberapa faedah sejarah. Dengan sejarah yang dilengkapi data waktu kejadiannya akan membantu mengetahui masa, melacak kapan sebuah karya ditulis, memberi informasi waktu kelahiran dan meninggalnya tokoh. Berbagai hal itu sangat dibutuhkan dalam disiplin ilmu hadits.

Ia mengutip perkataan para pakar. Hafash bin Ghiyat berkata, “Apabila kalian menuduh seorang rawi telah berdusta, ujilah dengan tahun.” Hamad bin Zaid juga pernah me ngatakan, informasi waktu sebagai unsur terpenting sejarah membantu membongkar kedustaan para pendusta riwayat.

Dan di bab yang terakhir, ia menyebutkan pernak-pernik berharga seputar sejarah.

AS-SUYUTHI SEBUT FAKTA LEMBARAN UTAMA SEJARAH MANUSIA

As-Suyuthi Sebut Fakta Lembaran Utama Sejarah Manusia

Mengawali kitabnya, Jaladuddin as-Suyuthi yang juga dikenal melalui kitabnya al-Itqan fi Ulum Alquran itu, menyebutkan fakta tentang lembaran utama sejarah manusia.

Permulaannya dimulai saat Adam as diturunkan ke bumi. Sejarah itu dilanjutkan oleh para anaknya, hingga Allah menurunkan Nuh as. Babak baru sejarah pun dimulai, terutama pascaperistiwa banjir dahsyat yang menenggelamkan mereka yang enggan bergabung di perahu.

Ketika Nuh as dan keturunannya berlabuh di daratan, beliau membagi bumi untuk ketiga anaknya. Sam mendapat beberapa wilayah, yaitu Baitul Maqdis, Nil, Eufrat, Dajla, Sehan dan Jeihan. Sedangkan bagian Ham, adalah barat Sungai Nil hingga arah mula angin di Dabur. Sementara itu, Yafuts memperoleh wilayah Qasiyun hingga Shaba. Kisah itu pun berlanjut dari kisah angin topan, hingga kisah ditaklukannya api oleh Ibrahim as.

Anak-anak Ibrahim berpencar dan menciptakan sejarah masing-masing, hingga pengutusan Nabi Yusuf AS, selanjutnya ke Nabi Musa as, lalu dilanjutkan oleh Sulaiman, Isa, hingga diutusnya Rasulullah SAW. As-Suyuthi mengutip kisah ini dari kitab Tarikh Kabir yang dikarang Ibnu Abi Khaitsamah.

Menurut Tarikh Kabir, keturunan Ismail yang tersisa memulai penulisan sejarah dari peristiwa keluarnya Bani Sa’ad, Nahd, Juhainah, hingga wafatnya Ka’ab bin Luayyi. Lalu, dimulakan lagi dari peristiwa itu hingga tragedi Tahun Gajah. Dari sini dituliskan sampai Umar bin Khattab menulis dari peristiwa hijrah.

Mengutip tulisan Ibnu Jarir at- Thabari di Kitab Tarikh-nya, penulisan sejarah dengan versi tersebut di atas pada dasarnya serupa dengan corak dan data yang masyhur di Bangsa Yahudi. Menurut dia, fakta semacam itu tidak patut dikutip oleh umat Islam. Bagi Islam, penanggalan sejarah hanya akan bermula dari peristiwa hijrahnya Rasulullah dari Makkah ke Madinah.

Sementara itu bagi Quraisy, patokan sejarah dimulai sebelum Islam, tepatnya saat Pasukan Gajah, menyerang Ka’bah. Konon, penanggalan yang berlaku di kalangan mereka, penamaannya cukup merujuk pada peristiwa yang terjadi di hari itu. Misal, Kulab Ula, Kulab Tsani dan hari Jabalah. Bagi, kaum Nasrani, penanggalan merujuk pada masa Iskandar Dzul Qarnain.

%d blogger menyukai ini: