BELAJAR AL-ARBAIN HADITSAN : RINGKASAN 40 HADITS

Belajar Al-Arbain Haditsan, Ringkasan 40 Hadis2

Sanad dalam tradisi keilmuan Islam memiliki peran dan posisi penting. Bahkan, oleh as-Syahrastani, sebagaimana ditegaskan dalam kitab al-Milal wa an-Nihal, sanad disebut-sebut sebagai salah satu distingsi (pembeda) utama antara Islam dan agama lainnya.

Keberadaan sanad menjadi faktor kuat serta bukti dan validitas sebuah fakta ilmiah tertentu. Tidak hanya di bidang ilmu hadits, tetapi juga merambah hampir ke tiap disiplin ilmu. Abdullah Ibnu al-Mubarak pernah mengatakan, sanad adalah separuh dari kekuatan agama.

Tanpa sanad, niscaya siapa pun orangnya akan berpendapat apa pun yang dikehendaki tanpa mengindahkan dalil dan argumentasi agama yang kuat dan absah, ujar al-Mubarak. Dalam tradisi periwayatan hadits, validitas dan autentitas sanad merupakan syarat mutlak penerimaan sebuah riwayat tertentu.

Berbagai macam kitab hadits pun telah ditulis untuk menginventarisasi dan mengumpulkan ragam riwayat yang tercecer, baik di lembaran-lembaran catatan maupun hafalan para perawi yang tersebar di seluruh wilayah Arab kala itu. Mulai dari kitab al Jami’, Musnad, Sunan, al Mustakhraj, al Mustadrak, sampai kitab sederhana dan ringkas yang hanya memuat empat puluh hadits saja.

Untuk kategori kitab sederhana dan ringkas itu, para ulama kerap menyebutnya dengan al-Arbain (empat puluh). Salah satu contoh al-Arbain adalah kitab karangan seorang ulama Nusantara berdarah Padang, Sumatra Barat, yang telah menetap lama di Makkah, Arab Saudi, bernama Syekh Abu Al Faidl Muhammad Yasin bin Isa al-Fadani al-Makki.

Ulama Nusantara itu mendapat julukan Musnid ad-Dunya (pakar sanad dunia) lantaran penguasaannya terhadap ilmu hadits baik riwayat ataupun dirayat. Di antara peninggalan berharga ulama terkemuka itu adalah kitab yang bertajuk al-Arbain Haditsan min Arbaina Kitaban an-Arbaina Syaikhan.

Kitab itu adalah ringkas yang mengumpulkan hadits nabi dari 40 syekh dan 40 kitab yang berbeda pula. Maksud 40 syekh adalah mereka para syekh yang dijadikan referensi sanad bagi Syekh Yasin dari 40 ragam kitab yang dinukilnya.

Belajar Al-Arbain Haditsan, Ringkasan 40 Hadis3
Menurut Syekh Yasin, kitab itu disusun tatkala dirinya mendapat kesempatan mengajar kitab al-Arba’in fi Mabani al-Islam wa Qawaid al-Ahkam karangan imam an-Nawawi di Madrasah Dar al-Ulum, Makkah al-Mukarramah. Sejumlah sahabatnya dari para pegiat ilmu hadits lantas meminta syekh untuk mengumpulkan 40 hadits tentang berbagai persoalan mulai dari akidah hingga muamalat.

Tetapi, permintaan itu tidak serta-merta direalisasikan oleh Syekh Yasin. Setelah beristikharah lantas beliau merasa yakin untuk menulis sebuah kitab hadits yang terdiri dari 40 hadits saja. Uniknya, kitab yang rampung ditulis pada tahun 1363 H itu memuat 40 hadits berbeda serta dinukil dari 40 kitab hadits yang beragam pula.

Tak hanya itu, ke 40 hadits tersebut sanadnya diperoleh secara langsung oleh Syekh Yasin dari para syekh ahli hadits. Sebenarnya, ada satu lagi kitab dengan corak serupa yang ditulis Syekh Yasin dengan 40 hadits dari 40 syekh. Hanya saja, kitab kedua yang kelar ditulis satu tahun setelah kitab pertamanya tersebut selesai, tidak dinukil dari 40 kitab,  tetapi diperolehnya dari 40 wilayah yang berbeda hasil perjalanannya mencari hadits rahlat fi thalab al hadits.

Maka serupalah mereka (ulama dan orang saleh) jika tidak bisa sama persis karena sesungguhnya mencontoh orang mulia adalah kunci kesuksesan, kata Syekh Yasin mengutip sebuah pepatah Arab.

Metode penulisan yang digunakannya sangat sistematis karena latar belakang keilmuannya di bidang ilmu hadits riwayat dan dirayat yang sangat mendalam. Secara berurutan, Syekh Yasin menyebutkan hadits satu per satu sesuai dengan derajat kitab hadits yang pernah ada.

Tentunya apa yang dilakukan Syekh Yasin tak hanya menukil lalu mencomot begitu saja dari kitab bersangkutan. Akan tetapi disertai dengan menyebutkan sanad yang didapatkannya. Kitab yang menjadi nukilan pun sangat beragam mulai dari kitab shahih, sunan, musnad, mu’jam, mushannaf, hingga kitab hadits tentang fadlail a’mal.

Bahkan, Syekh Yasin menyertakan informasi singkat tentang hukum hadits yang dibahasnya berikut takhrij ijmali (takhrij global) akan keberadaan hadits serupa di kitab-kitab hadits lainnya.

Syeikh Yasin memulakan kitabnya dengan 6 (enam) kitab hadits mu’tabar yang menduduki rangking utama. Keenam kitab itu adalah Shahih al-Bukhar, Shahih Muslim, Sunan Abu Daud, Jami’ at-Turmudzi, Sunan an-Nasai dan Sunan Ibnu Majah.

Tak ketinggalan, kitab Muwaththa’ karangan Imam Malik, baik yang berasal dari riwayat Yahya maupun Muhammad menyusul dalam deretan keenam kitab tersebut, sedangkan tiga kitab yang termasuk deretan terakhir dalam kitab Syekh Yasin adalah kitab as-Sunnah karangan al-Kai, Hilyat al-Awliya’ karya Abu Nu’aim al-Ashfahani dan kitab Amal al-Yaum wa al-Lailat karangan Ibnu as-Sinni.

Sebagai contoh, hadits pertama yang disebutkan dalam kitab itu terdapat dalam kitab Shahih Bukhari tentang landasan haji qiran atau menunaikan ibadah haji sekaligus umrah. Riwayat hadits tersebut diperoleh Syekh Yasin dari Syekh Hafsh Umar bin Hmadan al-Mahrasi at-Tunisi, seorang pakar hadits di Arab Saudi.

Sanad yang disampaikan oleh Syekh Hafsh tak terputus dan menyambung hingga Muhammad bin Ismai’il al-Bukhari, sementara sanad yang dimiliki al-Bukhari tersambung dengan Ibnu Abbas dan Umar bin Khattab. Hadits tersebut berbunyi, Saya (Umar bin al-Khattab) mendengar Rasulullah bersabda saat berada di lembah al-Aqiq (sebuah lembah yang dekat al-Baqi’ yang berjarak 4 mil dari Madinah): Seorang utusan dari Tuhanku mendatangiku suatu malam dan berkata : Shalatlah di lembah yang diberkah ini dan berniatlah umrah dan haji (qiran).

Syekh Yasin lantas memberikan sedikit keterangan tentang hadits itu. Menurut dia, derajat hadits tersebut adalah sahih. Imam Bukhari meriwayatkannya dalam kitab al-Hajj dengan redaksi dan sanad sama persis. Hadits itu juga dirwayatkan oleh beberapa pakar antara lain, Abu Daud dan Ibnu Majah dalam kitab Sunan-nya, Ibnu Abi Syaibah dari kitab al-Mushannaf, dan Ibnu al-Jarud dalam kitab Shahih-nya.

Konsistensi Syekh Yasin dalam memaparkan tiap hadits yang dinukilnya terjaga dengan apik hingga pembahasan terakhir. Di pengujung karyanya itu, syekh mengutip sebuah hadits dari kitab karangan Ibn As Sinni bertajuk Amal al-Yaum wa al-Lailat. Menggunakan sanad dari Syekh Umar bin Abi Bakar Bajunaid, ia menukil sebuah hadits riwayat Anas bin Malik Al Anshari.

Diriwayatkan bahwasanya Rasulullah SAW bersabda,

Apabila seorang laki-laki keluar dari rumah, ucapkanlah: Bismillahi alaihi tawakkaltu ’alallahi la haula wala quwwata illa billah (Dengan menyebut nama Allah aku bertawakkal kepada Allah tidak ada daya dan upaya kecuali dengan Allah). Maka, seketika itu juga dikatakan padanya, ’Engkau telah dijaga, diberikan petunjuk, dan dicukupi’.

Dia berkata, “Setan malu bertemu dengannya lalu setan tersebut bertemu dengan setan lainnya dan mengatakan: ‘Bagaimana bisa menggoda seorang laki-laki yang telah dijaga, diberi petunjuk, dan telah dicukupkan’.

Wallohu a’lam bishshawab

Iklan

KEMBALILAH KE TUGAS UTAMAMU

 

Mari kembali ke tugas kita, ilmu, amal dan dakwah. Mari kita menghargai waktu kita, kembali membenahi hubungan kita dengan Allah saat fitnah seperti ini.

012517-kembalilah-ke-tugas-utamamu

Akhir-akhir ini, banyak orang bahkan penuntut ilmu dan ustadz tersedot waktu, energi dan pikiran untuk mengikuti berita perkembangan politik praktis negeri ini yang semakin carut marut.

Beberapa penuntut ilmu bahkan ustadz mendadak berubah profesi dari pendakwah menjadi pengamat politik bahkan politikus yang mengulas dan menganalisa peta politik sehingga tersibukkan dari tugas mulia yang inti.

Lebih parah lagi, para awam yang tidak mengerti thaharah (bersuci) dan shalat pun berani berbicara masalah besar tanpa kontrol dan kendali seakan ulama kibar dan Mufti.

Manhaj salaf yang saya kenal sejak dulu adalah menyibukkan diri dengan ilmu, amal dan dakwah, bukan dengan politik praktis zaman ini yang penuh dengan noda-noda yang bertentangan dengan syariat Islam yang mulia.

Dahulu Syaikh Albani berkata:

من السياية اليوم ترك السياية

“Termasuk politik syar’i zaman ini adalah meninggalkan politik praktis”.

Sebuah nasehat dan ucapan yang sangat indah. Dan lebih indah lagi jika kita mengamalkannya, lebih-lebih dalam situasi hiruk-pikuk politik yang melelahkan saat ini.

Mari kembali ke tugas kita, ilmu, amal dan dakwah. Mari kita menghargai waktu kita, kembali membenahi hubungan kita dengan Allah saat fitnah seperti ini. Bukankah Nabi  Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

العبادة في الهرج كهجرة إلي

Ibadah saat kacau pahalanya sepertinya hijrah padaku” (HR. Muslim no. 2948).

Mungkin Anda bertanya-tanya, kenapa bisa begitu? Karena saat situasi kacau, biasanya banyak orang lalai dari ibadah kepada Allah.

Bukan berarti kita tidak memikirkan masalah negeri, tetapi kita punya cara tersendiri untuk menghadapinya berdasarkan tuntunan illahi, yaitu dengan menyibukkan diri dengan ibadah.

Kalaupun berbicara tentang politik, biarlah hal itu kita serahkan kepada orang-orang yang ahli di bidangnya dari ulama dan umara’ tanpa menyibukkan umat dan memprovokasi menuju anarkisme, demonstrasi dan pertumpahan darah.

Mari bersikap tenang, jangan sibukkan diri kita dengan politik praktis.

Wahai para penuntut ilmu dan para ustadz, tolong ajarkanlah kami kembali kepada ilmu yang bermanfaat, gandenglah tangan kami menuju surga, jangan sibukkan kami terlibat dan terjun dalam dunia politik praktis yang kotor.

Semoga Allah memperbaiki keadaan negeri ini.

Barakallah

@kaefota

DOSA YANG DISEGERAKAN BALASANNYA DI DUNIA OLEH ALLAH

Lumrahnya kita sebagai manusia dijadikan tidak pernah terlepas dari segala salah dan berbuat dosa dalam kehidupan. Setiap dari kita pasti pernah melakukan dosa kecil ataupun dosa besar.

Walaupun sebesar apa dosa kita, Allah S.W.T adalah Maha Pengampun dan Maha Penyayang yang senantiasa menerima taubat hambanya yang bertaubat dengan sepenuh-penuhnya taubat.

Andai tidak bertaubat, dosa ini akan menjadi beban di akhirat kelak. Namun ada pula kesalahan-kesalahan yang dilakukan dibalas dengan segera oleh Allah S.W.T terhadap pelakunya di dunia.

Berzina

Zina adalah perbuatan dalam kategori dosa besar yang sangat dibenci Allah. Pelaku zina akan menjadi ketagihan dan membuat mereka tidak takut terlebih lagi jika kedua pihak pandai dalam menyimpan rahasia, tidak hamil serta tidak tertangkap basah.

Sabda Rasulullah S.A.W:

“Dua kejahatan yang disegerakan balasan di dunia adalah zina dan durhaka kepada kedua ibu bapa.” (Hadis riwayat at-Tirmizi)

Menurut hukum hudud, mereka yang melakukan zina akan dikenakan hukuman status perkawinan termasuk hukuman rajam dengan batu sampai mati bagi mereka yang sudah menikah. Hukuman ini adalah untuk membersihkan dosa zina mereka.

Rasulullah S.A.W bersabda mengenai zina:

Yang paling banyak menjerumuskan manusia ke dalam neraka adalah mulut dan kemaluan.”

Tidak halal darah orang-orang Islam kecuali berlakunya salah satu daripada tiga perkara yaitu orang yang telah menikah berzina, orang yang membunuh dengan sengaja dan keluar dari agamanya juga berpecah daripada jamaah orang-orang Islam

Barangsiapa berzina ataupun minum arak, Allah S.A.W cabutkan darinya iman, seumpama manusia menanggalkan pakaian dari kepalanya.”

Malah perbuatan yang membawa kepada zina juga dilarang, seperti dalam firman Allah S.W.T:

“Jangan kamu hampiri perbuatan zina karena ia adalah kejahatan yang sangat keji dan sejahat-jahatnya jalan.” (Surat Al-Isra’:32)

Allah S.W.T akan membalas dosa zina di dunia dengan menghilangkan keceriaan pada wajah, pendek umur, menutup pintu rezeki bagi mereka yang terus berzina dan tidak bertaubat, serta dijangkiti penyakit kelamin dan penyakit yang belum ditemukan penawarnya, seperti halnya AIDS.

Durhaka Kepada Ibu Bapak

Sebagai anak, kita diwajibkan untuk menghormati dan berlaku baik terhadap ibu bapa, walau seburuk apapun ibu bapa kita. Hal ini karena jasa dan pengorbanan mereka yang tak akan pernah terbalaskan oleh kita.

Seperti dalam firman Allah:
“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua ibu bapanya.” (Surat al-Ahqaaf :15).

Rasulullah S.A.W bersabda:
”Setiap dosa-dosa, Allah S.W.T mengakhirkan (balasannya), sebagaimana yang Dia kehendaki dari dosa-dosa itu hingga hari kiamat, kecuali durhaka kepada kedua orang tuanya, sesungguhnya Allah menyegerakan (balasan) nya bagi pelaku-nya di waktu hidup di dunia sebelum meninggal.” (Riwayat At Thabarani & Al Hakim, disahihkan oleh Al Hakim & As Suyuthi)

Perbuatan durhaka terhadap ibu bapa adalah perkara yang sangat dimurkai Allah dan akan mendapat balasan yang sangat perih di akhirat. Namun dosa ini juga akan dibalas Allah ketika di dunia.

Lebih buruk lagi, jika ibu bapa itu mengadu kezaliman anaknya kepada Allah S.W.T, balasan akan lebih disegerakan karena doa ibu bapa adalah sangat mustajab dan menembusi langit serta didoakan oleh malaikat-malaikat supaya Allah mengabulkannya.

Dalam sabda Rasulullah S.A.W:

“Tiga doa yang tidak tertolak: doa orang tua, doa orang yang berpuasa dan doa orang yang terzalimi” (HR Baihaqi)

Balasan di dunia ini diantaranya adalah hidup yang tidak tenang dan tentram, berbagai kemelut dan masalah rumahtangga serta senantiasa merasa tak berkecukupan.

Waallohu a’lam bishshawab

@kaefota

Al-Qur’an Sebagai Mukjizat Terbesar

Adalah dimulai dari pagi hingga siang kemarin, Allah takdirkan saya berkumpul dengan para kiai, pengasuh pondok pesantren dan beberapa politisi dalam acara menghias bumi dan langit nusantara dengan ayat-ayat suco al-Qur’an.

Ribuan orang bersama-sama mengkhatamkan al-Qur’an dari al-Fatihah sebagai ayat pembuka sampai an-Nas sebagai ayat terakhir. Harapannya adalah semoga pintu pembuka keberkahan senantiasa ada pada anak bangsa Indonesia dan semoga akhirnya adalah keberhasilan hidup sebagai manusia (an-Naas) yang bahagia.

Andai kegiatan khatmil Qur’an menjadi agenda rutin anak bangsa, andai khatmil Qur’an itu dilanjutkan dengan fahmil Qur’an (memahami al-Qur’an) dengan tafakkur dan tadabbur yang tepat, maka yakinlah bahwa Indonesia ini akan selalu diwarnai dengan hujan emas dan permata, bukan hujan tangis dan tetes air mata.

Sungguh al-Qur’an sebagai mu’jizat terbesar Nabi Muhammad yang memiliki kekuatan dan kedahsyatan efek yang luar biasa untuk menghadirkan asa yang sementara ini hanya menjadi harapan dan tujuan dalam berbagai tulisan.

Sebagaimana al-Qur’an mampu menjadikan Umar bin Khattab yang kasar dan keras menjadi lunak dan beradab setelah mendengarkan ayat al-Qur’an yang dibacakan adiknya, sungguh hati kasar nan tamak para mafia politik dan ekonomi di tanah air ini bisa diharapkan melunak dan berempati pada rakyat kelas bawah dan kaum terpinggirkan.

Sebagaimana al-Qur’an mampu mengubah masyarakat Arab jahiliyah menjadi masyarakat madani, yakinlah bahwa al-Qur’an juga mampu mengubah hati gelap anak bangsa menjadi hati terang.

Saya yakin banyak yang setuju dengan uraian saya tersebut di atas. Namun mungkin banyak yang kemudian bertanya, dari maka kita harus memulai?

Jawabannya adalah dari kita sendiri yang mengistiqamahkan membaca al-qur’an dalam setiap ada kesempatan. Bahkan, adakanlah selalu kesempatan itu tanpa menunggu diadakannya acara mengaji oleh orang lain.

Biasakanlah mengaji bersama keluarga, lalu meluas lagi dan meluas lagi sampai semua tengah dan pinggiran negeri ini mengaji.
Aamiin

@kaefota

Jika Raja Salman Nanti Wafatnya Karena Dibunuh, Maka Benar Dia Raja yang Disebut Rasulullah Dalam Haditsnya

Apabila memang raja Salman nanti ketika meninggal dunia dibunuh, maka benarlah bahwa dia adalah raja yang disebut Nabi Muhammad dalam haditsnya.

Karena setelah wafatnya beliau, maka akan muncul Al Mahdi yang menggantikan posisi beliau. Dalam kalkulasi sebagian ulama, maka amat dekatlah peristiwa ini terjadi:

  • Saat ini kita bisa lihat raja salman semakin menua
  • Gejolak didalam kerajaan arab saudi saat ini sedang terjadi
  • Salju turun di Arab
  • Sungai eufrat mengering
  • Penindasan dan pembantaian umat Islam terjadi dimana mana
  • Orang berlomba lomba membangun gedung tinggi.

Namun yang lebih mengerikan adalah saat sebelum Al Mahdi dan Dajjal keluar akan ada peristiwa Dukhon (kabut asap) selama 40 hari 40 malam, dunia akan gelap gulita karena tidak ada matahari, listrik dan ekonomi hancur, Teknologi musnah, tidak ada yang dapat dimakan, Air mengering.

Maka orang-orang yang tidak beriman saat itu hanya punya 2 pilihan, bunuh diri atau menjadi brutal dan wajah orang-orang munafik menjadi hitam karena panasnya dukhon.

Saya pribadi khawatir apabila wajah ini menjadi hitam, karena digolongkan termasuk orang munafik, Naudzubillah tsumma Nauudzubillah Mindzalik!

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah mengabarkannya 1400 tahun yang lalu. Perlu Kita renungkan, perbedaan kita (UMMAT NABI) saat ini dengan para sahabat Nabi dahulu sangatlah jauh.

Apabila dulu ketika Rasulullah mengabarkan tentang risalah tanda-tanda akhir zaman kepada para sahabat, maka pastilah para sahabat menangis bahkan sampai pingsan.

Akan tetapi saat ini yang sudah jelas bahwasanya Kita hidup di akhir zaman, Kita masih saja memikirkan duniawi yang sifatnya hanya sementara ini dan masih bisa saja tertawa terbahak bahak, seolah menganggap semuanya masih jauh atau bahkan menganggapnya hanya bualan saja.

Padahal Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah memperlihatkan begitu banyaknya tanda-tanda Huru Hara Akhir Zaman dan menjelang kehancuran alam semesta!

Diakhir zaman ini.
Bukan waktunya lagi kita bersantai.
Bukan waktunya lagi kita berleha leha
Bukan waktunya lagi saling menghujat, saling menyalahkan sesama.

Kini waktunya kita untuk perbaiki diri dan keluarga.
Memperbaiki iman dan amal, memperbaiki hubungan sesama muslim tanpa menghujat, menyalahkan, tanpa menjatuhkan kerabatnya.

Semoga ALLAH Ta’ala melindungi kita semua dari fitnah akhir zaman dan fitnah dajjal.

AAMIIN ALLAHUMMA AAMIIN

@kaefota

RUH

RUH

Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

ﺍﻟْﺄَﺭْﻭَﺍﺡُ ﺟُﻨُﻮﺩٌ ﻣُﺠَﻨَّﺪَﺓٌ ﻓَﻤَﺎ ﺗَﻌَﺎﺭَﻑَ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﺍﺋْﺘَﻠَﻒَ ﻭَﻣَﺎ ﺗَﻨَﺎﻛَﺮَ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﺍﺧْﺘَﻠَﻒَ

Ruh-ruh itu adalah (laksana)pasukan yang berkelompok-kelompok. Apabila saling bercocokan, maka mereka akan bersatu. Dan yang tidak cocok, akan saling menjauh

Al-Fudlail bin ‘Iyaadl rahimahullah ta’ala pernah menyitir hadits tersebur di atas dan berkata:

ﺍﻟْﺄَﺭْﻭَﺍﺡُ ﺟُﻨُﻮﺩٌ ﻣُﺠَﻨَّﺪَﺓٌ , ﻓَﻤَﺎ ﺗَﻌَﺎﺭَﻑَ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﺍﺋْﺘَﻠَﻒَ , ﻭَﻣَﺎ ﺗَﻨَﺎﻛَﺮَ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﺍﺧْﺘَﻠَﻒَ , ﻭَﻟَﺎ ﻳُﻤْﻜِﻦُ ﺃَﻥْ ﻳَﻜُﻮﻥَ ﺻَﺎﺣِﺐُ ﺳُﻨَّﺔٍ ﻳُﻤَﺎﻟِﻲ ﺻَﺎﺣِﺐَ ﺑِﺪْﻋَﺔٍ ﺇِﻟَّﺎ ِﻦَ ﺍﻟﻨِّﻔَﺎﻕِ

Ruh-ruh itu adalah (laksana) pasukan yang berkelompok-kelompok. Apabila saling bercocokan, maka mereka akan bersatu. Dan yang tidak cocok, akan saling menjauh. Oleh karenanya, tidaklah mungkin seorang Ahlus-Sunnah condong kepada Ahlul-Bid’ah, kecuali karena kemunafikan

Atsar tersebut diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dalam Al-Ibaanah. Kemudian beliau berkomentar :

ﺻَﺪَﻕَ ﺍﻟْﻔُﻀَﻴْﻞُ ﺭَﺣْﻤَﺔُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻋَﻠَﻴْﻪِ , ﻓَﺈِﻧَّﺎ ﻧَﺮَﻯ ﺫَﻟِﻚَ ﻋِﻴَﺎﻧًﺎ

“Al-Fudlail rahimahullah benar, dan sesungguhnya kami bersaksi/melihat dengan mata kepala kami atas hal tersebut benar-benar terjadi”

Wallohu a’lam bishshawab

MENJADI MUSLIM SEJATI

042414 KF - majlis ta'lim

Imam Taqiyuddin Abu Amr Usman bin Abdurrahman bi Usman bin Musa bin Abi Nasr an-Nashry as-Syahrazy atau lebih dikenal dengan nama Imam Ibnu Shalah, telah membagi tingkatan hadits sahih menjadi tujuh tingkatan.

Pertama, Shahih muttafaq ‘alaihi, yaitu hadits sahih yang disepakati oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. Inilah tingkatan yang teratas, yang disebut juga Shahihain.

Kedua, Shahih Bukhari, yakni hanya diriwayatkan oleh Imam Bukhari.

Ketiga, Shahih Muslim, yakni hanya diriwayatkan oleh Imam Muslim.

Keempat, sahih menurut syarat yang ditentukan oleh Imam Al Bukhari dan Imam Muslim, namun keduanya tidak meriwayatkan hadits tersebut.

Kelima, sahih hanya menurut syarat Imam Al-Bukhari, namun Bukhari tidak meriwayatkannya.

Keenam, sahih hanya menurut syarat Imam Muslim, namun ia tidak meriwayatkannya.

Ketujuh, sahih menurut riwayat lain-lainnya, tidak menurut syarat keduanya.

Al-Hafizh Ibnu Hajar, seorang tokoh terkemuka dalam bidang ilmu hadits menegaskan bahwa yang dimaksud dengan kesesuaian Imam Bukhari dengan Imam Muslim (muttafaq ‘alaihi) adalah di dalam hal pen-takhrij-an kemurnian hadits dari para perawinya, walaupun di sana ada beberapa perbedaan di beberapa susunan haditsnya.

Kitab Al Lu’lu wa al-Marjan fii ma Ittafaqa ‘Alaihi as-Syaikhan, karya Muhammad Fuad Abdul Baqy, dapat dikatakan sebagaimana yang dimaksud oleh Ibnu Ash Shalah tadi.

Buku yang di-Indonesiakan oleh Penerbit Pustaka As-Sunnah dengan judul Al-Lu’lu’ wal Marjan: Ensiklopedi Hadits-hadits Shahih yang Disepakati Oleh Bukhari dan Muslim ini memuat hadits-hadits yang berada pada puncak kesahihan, tingkatan pertama dan utama yang memuat hadits-hadits sahih yang disepakati kesahihannya oleh Imam Bukhari dan Muslim.

Karena itu, buku yang menghimpun 1.906 hadis sahih–dan merupakan intisari dari apa yang ada di dalam Shahihain–ini merupakan rujukan yang sangat penting bagi kaum Muslimin untuk memahami dan melaksanakan ajaran Islam secara kaffah (sempurna).

Penulis memberi komentar-komentar singkat pada tiap-tiap hadits dan menukil perkataan para ahli ilmu, pensyarah hadits-hadits khususnya Imam Nawawi (Syarah Shahih Muslim) dan Ibn Hajar al-Asqalany dalam kitabnya, Fath al-Baari fi syarhi Shahih al-Bukhary.

Pustaka As-Sunnah menerbitkan buku ini dalam 2 (dua) jilid hard cover, yang tebalnya masing-masing 800 dan 836 halaman. Jilid I dimulai dengan kitab iman yang mencapai 69 pembahasan, dari pengertian dan ciri-ciri iman, cabang-cabang iman, mencintai Rasulullah, hukum menyembunyikan iman bagi orang yang takut, hingga orang-orang yang masuk surga dan neraka.

Disusul kemudian dengan pembahasan masalah thaharah (bersuci) yang mencakup 19 pembahasan, antara lain wajib bersuci untuk melakukan shalat, siwak, tuntunan fitrah, adab buang air, hukum jilatan anjing, mencuci mani yang melekat di baju, serta najisnya darah dan cara membersihkannya.

Pembahasan berikutnya adalah haid yang mencakup 24 pembahasan. Banyak hal yang sangat penting dan kerap ditanyakan oleh umat dibahas di sini. Misalnya, bergaul dengan istri yang sedang haid, tidur bersama istri yang sedang haid dalam satu selimut, hukum air madzi, tidur sebelum mandi junub, wajib mandi bagi wanita karena keluar mani, cara mandi junub, tayammum dan apakah tidur membatalkan wudhu.

Objek pembahasan lainnya adalah shalat. Bab ini meliputi 37 pembahasan. Di dalamnya dibahas, antara lain tentang azan dan iqamat, berbagai hal tentang rukun, sunah dan bacaan shalat, hingga larangan berjalan di depan orang yang shalat. Bab ini dilengkapi dengan pembahasan masalah masjid dan tempat-tempat shalat, lalu shalatnya musafir dan cara meng-qashar shalat, shalat Jumat, shalat hari raya, shalat istitsqa, shalat gerhana dan shalat jenazah.

Pembahasan berikutnya adalah bab zakat, puasa, iktikaf, haji, nikah, susuan, talak, li’an, itqi, permasalahan tentang jual beli.

Buku jilid II menyajikan hal-hal yang tidak kalah pentingnya. Dalam bagian kedua ini, dibahas tentang berbagai hal menyangkut masalah kehidupan umat lainnya.

Topik pertama yang dibahas adalah masalah tanaman yang disiram dan tentang pertanian secara umum.
Kemudian, dibahas juga mengenai muamalah, seperti jual beli, hukum menjual minuman keras, jual beli saham dan hukum sumpah palsu dalam jual beli.

Sedangkan dalam bab waris, dibahas mengenai orang-orang yang berhak menerima warisan, yang tidak mendapatkan warisan, cara membagi warisan, membagi warisan apabila si mayit pernah berwasiat dan lainnya.

Bab berikutnya adalah sumpah, pembagian, hukuman (hudud) dan keputusan hukum. Selanjutnya, kitab barang temuan, jihad, kepemimpinan (pemerintahan), hukum berburu dan menyembelih, serta binatang yang boleh dimakan, hewan kurban, minuman dan makanan, pakaian dan perhiasan.

Kemudian, penulis juga mengupas tentang masalah akhlak dan adab, mengucapkan salam dan kata-kata yang santun. Tak lupa pula, penulis menyertakan sebuah bahasan khusus tentang masalah syair.

Agar umat bisa meneladani akhlak dan pribadi Rasulullah SAW, pengarang kitab ini juga menyertakan pembahasan tentang akhlak dan keutamaan para sahabat Nabi SAW, seperti Abu Bakar as-Siddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib RA. Tak ketinggalan juga kalangan tabiin (generasi setelah sahabat), hingga tabi’ at-tabiin (generasi setelah tabiin).

Masih banyak topik bahasan lainnya yang terdapat dalam kitab Al-Lu’lu’ wa al-Marjan. Seperti, keutamaan berdzikir, tobat, zuhud, ilmu dan lain sebagainya.

AS SYAKWA WA AL ITAB : MENGELOLA POTENSI INDIVIDU

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Interaksi antarsesama manusia memerlukan keahlian dan seni tersendiri. Bagaimana bersikap dan berbicara dengan orang lain yang memiliki latar belakang yang berbeda. Semua itu sepatutnya dilakukan dengan etika dan cara yang elegan, tanpa menegasikan jati diri dan keistimewaan dalam diri seseorang.

Begitu pula kaitannya dengan pengelolaan potensi internal yang ada pada diri seseorang, tentunya membutuhkan keterampilan lewat proses panjang dan tempaan yang berkesinambungan, terutama mengoptimalkan energi positif dan mengubah daya negatif menjadi sebuah kekuatan dahsyat.

Abu Manshur Abd Al Malik bin Muhammad bin Ismail menulis sebuah karya yang berkenaan dengan pengelolaan potensi yang ada pada diri seseorang. Melalui kitab yang berjudul As Syakwa Wa Al Itab Wama Waqa li Al Khillan wa Al Ashhab, tokoh kelahiran Nisabur, Iran, tersebut mencoba mengupas topik-topik itu.

Guna mendukung ulasannya itu, sosok yang lebih dikenal dengan panggilan Ats Tsa’alabi tersebut mengonsep tulisannya secara sederhana.  Kesederhanaan itu tampak di 10 bab utama yang menjadi bahasan kitab ini.

Ats Tsa’alabi cukup menukil hadits, perkataan-perkataan tokoh dan syair-syair yang berkorelasi langsung dengan tema yang ia bahas. Bahkan pada sejumlah kesempatan, ia mengutip teks-teks keagamaan yang terdapat di kitab suci Nasrani, yaitu Injil. Hampir tak ditemukan sama sekali komentar-komentar dan analisis yang ditampilkan oleh penulis.

Selain itu, pemilihan tema di setiap babnya pun dipilih secara acak. Jika beberapa buku raqaiq dan zuhd yang memuat etika-etika ibadah dan sosial kebanyakan diawali dari pembahasan hati ataupun niat, namun di kitab ini Ats Tsa’alabi lebih memilih mengawali uraiannya pada bab pertama mengenai tradisi teguran dan aduan oleh seseorang. Di bab ini, tokoh kelahiran 350 H/961 M ini menyodorkan argumentasi bahwa teguran bisa memicu kebencian antar dua sahabat.

Pada bab kedua, misalnya, Ats Tsa’alabi membahas bagaimana menghadapai pembantu, budak dan pelayan yang sehari-hari mengabdi di rumah. Di bab yang lain, figur yang dikenal piawai di berbagai bidang keilmuan itu membahas fenomena rasa rindu yang hinggap pada diri seseorang. Lalu, di bab terakhir ia menukil argumentasi tentang urgensi bersikap adil.

As Syakwa Wa Al Itab, Mengelola Potensi Individu3

Dalam bukunya ini, murid dari ulama ternama, Abu Bakar al-Khawarizmi tersebut, menyajikan teks-teks keagamaan terkait sebuah teguran pada bab pertama. Menurut dia, sebagaimana yang terdapat di hadits riwayat Anas bin Malik RA, Rasulullah tidak pernah menegur—dalam konotasi negatif—selama ia tinggal dan membaktikan diri kepada Rasulullah.

“Saya mengabdi kepada Rasulullah selama 10 tahun. Beliau tidak pernah berkata ‘uff’ , tidak pernah mencela apa yang dibuat dan tidak pernah marah,” kata Anas yang dijuluki Khadim ar-Rasul (pembantu Rasulullah).

Riwayat lain menyebutkan, kesalahan apa pun yang diperbuat tak sepantasnya disebarluaskan, sekalipun pelanggaran yang dilakukan adalah zina.

Jika pembantu perempuan kalian berzina, berlakukanlah had, dan janganlah kalian mempermalukannya (di hadapan publik),” demikian sabda Rasulullah.

Menurut Abu Ad Darda’—seperti dinukil Ats Tsa’alabi — teguran santun di kondisi tertentu tetap dibutuhkan, tanpa menghilangkan arti sebuah hubungan atau mungkin, menafikan estetika pergaulan. Dengan teguran-teguran ‘bersahabat’ itu, diharapkan mampu mempertahankan hubungan yang telah terjalin apik.

“Menegur saudara lebih mudah dibandingkan kehilangan mereka,” kata Abu Ad Darda’. Teguran harus menjadi prosedur pertama yang lazim dijalani sebelum dijatuhkan sanksi. Hal ini seperti dikutip dari Aus bin Haritsah. Ia pernah berkata kepada salah satu anaknya, “Teguran sebelum hukuman.”

Ats Tsa’alabi mengutip pula beberapa teks yang menegaskan pentingnya memperlakukan para budak dengan baik. Hadits riwayat Ali bin Abi Thalib menyebutkan kedudukan seorang budak di mata Allah. Budak ahli ibadah dan mampu memberikan nasihat yang baik untuk tuannya, dijanjikan- Nya termasuk salah satu golongan yang pertama kali masuk surga, selain para syahid.

Wasiat berinteraksi yang baik kepada para budak juga ditegaskan oleh Rasulullah di akhir khotbahnya saat haji wada’.

Shalat, shalat, dan takutlah kalian atas Allah terhadap para budak,” kata Rasulullah di penggalan khotbah terakhir Beliau.

Di bagian lain, ulama yang wafat pada 429 H/ 1038 M itu menukil dalil-dalil yang menyangkut anjuran agar tidak bersikap malas dan menunda-nunda pekerjaan. Dalam hal berbuat baik, praktiknya tak selalu berupa amaliah yang berat. Adakalanya kebajikan itu adalah ucapan-ucapan ringan. Karena itu, tak ada alasan untuk tidak melakukannya. Bertasbih, salah satunya.

Diwayatkan dari Sa’ad bin Abi Waqash RA, ketika itu para sahabat sedang berkumpul bersama Rasulullah. Beliau pun bertanya,

Apakah kalian tidak mampu memperoleh seribu kebajikan setiap hari?” Sahabat lalu menimpali, “Bagaimana bisa sehari seribu kebaikan?”

Beliau menjawab, “Bertasbihlah setiap hari 1.000 kali maka akan dicatat baginya 1.000 kebaikan sekaligus menghapus 1.000 dosa.”

Imam Ali bin Abi Thalib juga pernah berkata, “Barang siapa yang menaati rasa malas maka ia telah menghilangkan hak-hak.”

Ats Tsa’alabi menyebutkan pula tentang perasaan rindu yang bisa menimpa sese orang. Konon, ketika Aisyah membebaskan budaknya, Barirah yang bersuamikan Mughits, seorang Habsyi, Aisyah memberikan pilihan kepada Barirah antara tetap bersama suaminya atau tinggal berpisah. Barirah kemudian lebih memilih tak lagi menyatu dengan suami.

Selang berapa lama keduanya tak lagi bertemu, hingga keduanya saling bertemu saat thawaf bersama. Selama thawaf, air mata Barirah berlinang karena rasa rindu. Nabi SAW pun menanyakan kepada Bari rah, apakah ia ingin kembali lagi ke suami lantaran Beliau merasa iba dan prihatin. Bila keinginan itu benar, Rasulullah tak segan lagi mempertemukan dan mengikat mereka kembali.

Namun, Barirah menolak. Betapa rasa rindu, juga sangat menyentuh perasaan Rasulullah. Al-Jahidz pernah berkata bahwa rindu adalah istilah bagi rasa cinta yang berlebih, seperti halnya kata kemuliaan dipergunakan untuk menyebut kebaikan yang berlimpah dan bakhil sebagai ungkapan bagi sikap ekonomi yang keterlaluan.

%d blogger menyukai ini: