NABI HUUD AS

nabi-huud-as

“Aad” adalah nama bapa suatu suku yang hidup di jazirah Arab di suatu tempat bernama “Al-Ahqaf” terletak di utara Hadramaut atr Yaman dan Umman dan termasuk suku yang tertua sesudah kaum Nabi Nuh serta terkenal dengan kekuatan jasmani dalam bentuk tubuh-tubuh yang besar dan sasa. Mereka dikurniai oleh Allah tanah yang subur dengan sumber-sumber airnya yang mengalir dari segala penjuru sehinggakan memudahkan mereka bercucuk tanam untuk bhn makanan mrk. dan memperindah tempat tinggal mereka dengan kebun-kebun bunga yang indah-indah. Berkat kurnia Tuhan itu mereka hidup menjadi makmur, sejahtera dan bahagia serta dalam waktu yang singkat mereka berkembang biak dan menjadi suku yang terbesar diantara suku-suku yang hidup di sekelilingnya.

Sebagaimana dengan kaum Nabi Nuh kaum Hud ialah suku Aad ini adalah penghidupan rohaninya tidak mengenal Allah Yang Maha Kuasa Pencipta alam semesta. Mereka membuat patung-patung yang diberi nama ” Shamud” dan ” Alhattar” dan itu yang disembah sebagai tuhan mereka yang menurut kepercayaan mereka dpt memberi kebahagiaan, kebaikan dan keuntungan serta dapat menolak kejahatan, kerugian dan segala musibah. Ajaran dan agama Nabi Idris dan Nabi Nuh sudah tidak berbekas dalam hati, jiwa serta cara hidup mereka sehari-hari. Kenikmatan hidup yang mereka sedang tenggelam di dalamnya berkat tanah yang subur dan menghasilkan yang melimpah ruah menurut anggapan mereka adalah kurniaan dan pemberian kedua berhala mereka yang mereka sembah. Karenanya mereka tidak putus-putus sujud kepada kedua berhala itu mensyukurinya sambil memohon perlindungannya dari segala bahaya dan mushibah berupa penyakit atau kekeringan.

Sebagai akibat dan buah dari aqidah yang sesat itu pergaulan hidup mereka menjadi dikuasai oleh tuntutan dan pimpinan Iblis, di mana nilai-nilai moral dan akhlak tidak menjadi dasar penimbangan atau kelakuan dan tindak-tanduk seseorang tetapi kebendaan dan kekuatan lahiriahlah yang menonjol sehingga timbul kerusuhan dan tindakan sewenang-wenang di dalam masyarakat di mana yang kuat menindas yang lemah yang besar memperkosa yang kecil dan yang berkuasa memeras yang di bawahnya. Sifat-sifat sombong, congkak, iri-hati, dengki, hasut dan benci-membenci yang didorong oleh hawa nafsu merajalela dan menguasai penghidupan mereka sehingga tidak memberi tempat kepada sifat-sifat belas kasihan, sayang menyayang, jujur, amanat dan rendah hati. Demikianlah gambaran masyarakat suku Aad tatkala Allah mengutuskan Nabi Hud sebagai nabi dan rasul kepada mereka.

Nabi Hud Berdakwah Di Tengah-tengah Sukunya

Sudah menjadi sunnah Allah sejak diturunkannya Adam Ke bumi bahawa dari masa ke semasa jika hamba-hamba-Nya sudah berada dalam kehidupan yang sesat sudah jauh menyimpang dari ajaran-ajaran agama yang dibawa oleh Nabi-nabi-Nya diutuslah seorang Nabi atau Rasul yang bertugas untuk menyegarkan kembali ajaran-ajaran nabi-nabi yang sebelumnya mengembalikan masyarakat yang sudah tersesat ke jalanlurus dan benar dan mencuci bersih jiwa manusiadari segala tahayul dan syirik menggantinya dan mengisinya dengan iman tauhid dan aqidah yang sesuia dengan fitrah.

Demikianlah maka kepada suku Aad yang telah dimabukkan oleh kesejahteraan hidup dan kenikmatan duniawi sehingga tidak mengenalkan Tuhannya yang mengurniakan itu semua. Di utuskan kepada mereka Nabi Hud seorang drp suku mereka sendiri dari keluarga yang terpandang dan berpengaruh terkenal sejak kecilnya dengan kelakuan yang baik budi pekerti yang luhur dan sgt bijaksana dalam pergaulan dengan kawan-kawannya.
Nabi Hud memulai dakwahnya dengan menarik perhatian kaumnya suku Aad kepada tanda-tanda wujudnya Allah yang berupa alam sekeliling mereka dan bahawa Allahlah yang mencipta mereka semua dan mengurniakan mereka dengan segala kenikmatan hidup yang berupa tanah yang subur, air yang mengalir serta tubuh-tubuhan yang tegak dan kuat. Dialah yang seharusnya mereka sembah dan bukan patung-patung yang mereka perbuat sendiri. Mereka sebagai manusia adalah makhluk Tuhan paling mulia yang tidak sepatutnya merendahkan diri sujud menyembah batu-batu yang sewaktunya dpt mereka hancurkan sendiri dan memusnahkannya dari pandangan.

Di terangkan oleh Nabi Hud bahaw adia adalah pesuruh Allah yang diberi tugas untuk membawa mereka ke jalan yang benar beriman kepada Allah yang menciptakan mereka menghidup dan mematikan mereka memberi rezeki atau mencabutnya drp mereka. Ia tidak mengharapkan upah dan menuntut balas jasa atas usahanya memimpin dan menuntut mereka ke jalan yang benar. Ia hanya menjalankan perintah Allah dan memperingatkan mereka bahawa jika mrk tetap menutup telinga dan mata mrk menghadapi ajakan dan dakwahnya mereka akan ditimpa azab dan dibinasakan oleh Allah sebagaimana terjadinya atas kaum Nuh yang mati binasa tenggelam dalam air bah akibat kecongkakan dan kesombongan mereka menolak ajaran dan dakwah Nabi Nuh seraya bertahan pada pendirian dan kepercayaan mereka kepada berhala dan patung-patung yang mereka sembah dan puja itu.

Bagi kaum Aad seruan dan dakwah Nabi Hud itu merupakan barang yang tidak pernah mrk dengar ataupun menduga. Mereka melihat bahawa ajaran yang dibawa oleh Nabi Hud itu akan mengubah sama sekali cara hidup mereka dan membongkar peraturan dan adat istiadat yang telah mereka kenal dan warisi dari nenek moyang mereka. Mereka tercengang dan merasa hairan bahawa seorang dari suku mereka sendiri telah berani berusaha merombak tatacara hidup mereka dan menggantikan agama dan kepercayaan mereka dengan sesuatu yang baru yang mereka tidak kenal dan tidak dpt dimengertikan dan diterima oleh akal fikiran mereka. Dengan serta-merta ditolaklah oleh mereka dakwah Nabi Hud itu dengan berbagai alasan dan tuduhan kosong terhadap diri beliau serta ejekan-ejekan dan hinaan yang diterimanya dengan kepala dingin dan penuh kesabaran.

Berkatalah kaum Aad kepada Nabi Hud:”Wahai Hud! Ajaran dan agama apakah yang engkau hendak anjurkan kepada kami? Engkau ingin agar kami meninggalkan persembahan kami kepada tuhan-tuhan kami yang berkuasa ini dan menyembah tuhan mu yang tidak dpt kami jangkau dengan pancaindera kami dan tuhan yang menurut kata kamu tidak bersekutu. Cara persembahan yang kami lakukan ini ialah yang telah kami warisi dari nenek moyang kami dan tidak sesekali kami tidak akan meninggalkannya bahkan sebaliknya engkaulah yang seharusnya kembali kepada aturan nenek moyangmu dan jgn mencederai kepercayaan dan agama mereka dengan memebawa suatu agama baru yang tidak kenal oleh mereka dan tentu tidak akan direstuinya.”

Wahai kaumku! jawab Nabi Hud,Sesungguhnya Tuhan yang aku serukan ini kepada kamu untuk menyembah-Nya walaupun kamu tidak dpt menjangkau-Nya dengan pancainderamu namun kamu dpt melihat dam merasakan wujudnya dalam diri kamu sendiri sebagai ciptaannya dan dalam alam semesta yang mengelilingimu beberapa langit dengan matahari bulan dan bintang-bintangnya bumi dengan gunung-ganangnya sungai tumbuh-tumbuhan dan binatang-binatang yang kesemuanya dpt bermanfaat bagi kamu sebagai manusia. Dan menjadi kamu dpt menikmati kehidupan yang sejahtera dan bahagia. Tuhan itulah yang harus kamu sembah dan menundukkan kepala kamu kepada-Nya.Tuhan Yang Maha Esa tiada bersekutu tidak beranak dan diperanakan yang walaupun kamu tidak dpt menjangkau-Nya dengan pancainderamu, Dia dekat drp kamu mengetahui segala gerak-geri dan tingkah lakumu mengetahui isi hati mu denyut jantungmu dan jalan fikiranmu. Tuhan itulah yang harus disembah oleh manusia dengan kepercayaan penuh kepada Keesaan-Nya dan kekuasaan-Nya dan bukan patung-patung yang kamu perbuat pahat dan ukir dengan tangan kamu sendiri kemudian kamu sembah sebagai tuhan padahal ia suatu barang yang pasif tidak dapat berbuat sesuatu yang menguntungkan atau merugikan kamu. Alangkah bodohnya dan dangkalnya fikiranmu jika kamu tetap mempertahankan agamamu yang sesat itu dan menolak ajaran dan agama yang telah diwahyukan kepadaku oleh Allah Tuhan Yang Maha Esa itu.”

Wahai Hud! jawab kaumnya,”Gerangan apakah yang menjadikan engkau berpandangan dan berfikiran lain drp yang sudah menjadi pegangan hidup kami sejak dahulu kala dan menjadikan engkau meninggalkan agama nenek moyangmu sendiri bahkan sehingga engkau menghina dan merendahkan martabat tuhan-tuhan kami dan memperbodohkan kami dan menganggap kami berakal sempit dan berfikiran dangkal? Engkau mengaku bahwa engkau terpilih menjadi rasul pesuruh oleh Tuhanmu untuk membawa agama dan kepercayaan baru kepada kami dan mengajak kami keluar dari jalan yang sesat menurut pengakuanmu ke jalan yang benar dan lurus. Kami merasa hairan dan tidak dpt menerima oleh akal kami sendiri bahwa engkau telah dipilih menjadi pesuruh Tuhan. Apakah kelebihan kamu di atas seseorang drp kami , engkau tidak lebih tidak kurang adalah seorang manusia biasa seperti kami hidup makan minum dan tidur tiada bedanya dengan kami, mengapa engkau yang dipilih oleh Tuhanmu? Sungguh engkau menurut anggapan kami seorang pendusta besar atau mungkin engkau berfikiran tidak sihat terkena kutukan tuhan-tuhan kami yang selalu engkau eje hina dan cemuhkan.”

Wahai kaumku! jawab Nabi Hud, “aku bukanlah seorang pendusta dan fikiran ku tetap waras dan sihat tidak krg sesuatu pun dan ketahuilah bahwa patung-patungmu yang kamu pertuhankan itu tidak dpt mendatangkan sesuatu gangguan atau penyakit bagi bandaku atau fikiranku. Kamu kenal aku, sejak lama aku hidup di tengah-tengah kamu bahawa aku tidak pernah berdusta dan bercakap bohong dan sepanjang pergaulanku dengan kamu tidak pernah terlihat pd diriku tanda-tanda ketidak wajaran perlakuanku atau tanda-tanda yang meragukan kewarasan fikiranku dan kesempurnaan akalku. Aku adalah benar pesuruh Allah yang diberi amanat untuk menyampaikan wahyu-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang sudah tersesat kemasukan pengaruh ajaran Iblis dan sudah jauh menyimpang dari jalan yang benar yang diajar oleh nabi-nabi yang terdahulu karena Allah tidak akan membiarkan hamba-hamba-Nya terlalu lama terlantar dalam kesesatan dan hidup dalam kegelapan tanpa diutuskan seorang rasul yang menuntun mereka ke jalan yang benar dan penghidupan yang diredhai-Nya. Maka percayalah kamu kepada ku gunakanlah akal fikiran kamu berimanlah dan bersujudlah kepada Allah Tuhan seru sekalian alam Tuhan yang menciptakan kamu menciptakan langit dan bumi menurunkan hujan bagi menyuburkan tanah ladangmu, menumbuhkan tumbuh0tumbuhan bagi meneruskan hidupmu. Bersembahlah kepada-Nya dan mohonlah ampun atas segala perbuatan salah dan tindakan sesatmu, agar Dia menambah rezekimu dan kemakmuran hidupmu dan terhindarlah kamu dari azab dunia sebagaimana yang telah dialami oleh kaum Nuh dan kelak azab di akhirat. Ketahiulah bahawa kamu akan dibangkitkan kembali kelak dari kubur kamu dan dimintai bertanggungjawab atas segala perbuatan kamu di dunia ini dan diberi ganjaran sesuai dengan amalanmu yang baik dan soleh mendpt ganjaran baik dan yang hina dan buruk akan diganjarkan dengan api neraka. Aku hanya menyampaikannya risalah Allah kepada kamu dan dengan ini telah memperingati kamu akan akibat yang akan menimpa kepada dirimu jika kamu tetap mengingkari kebenaran dakwahku.”

Kaum Aad menjawab: ” Kami bertambah yakin dan tidak ragu lagi bahawa engkau telah mendpt kutukan tuhan-tuhan kami sehingga menyebabkan fikiran kamu kacau dan akalmu berubah menjadi sinting. Engkau telah mengucapkan kata-kata yang tidak masuk akal bahwa jika kami mengikuti agamamu, akan bertambah rezeki dan kemakmuran hidup kami dan bahawa kami akan dibangkitkan kembali dari kubur kami dan menerima segala ganjaran atas segala amalan kami.Adakah mungkin kami akan dibangkitkan kembali dari kubur kami setelah kami mati dan menjadi tulang-belulang. Dan apakah azab dan seksaan yang engkau selalu menakut-nakuti kami dan mengancamkannya kepada kami? Semua ini kami anggap kosong dan ancaman kosong belaka. Ketahuilah bahwa kami tidak akan menyerah kepadamu dan mengikuti ajaranmu karena bayangan azab dan seksa yang engkau bayang-bayangkannya kepada kami bahkan kami menentang kepadamu datangkanlah apa yang engkau janjikan dan ancamkan itu jika engkau betul-betul benar dalam kata-katamu dan bukan seorang pendusta.”

Baiklah! jawab Nabi Hud,” Jika kamu meragukan kebenaran kata-kataku dan tetap berkeras kepala tidak menghiraukan dakwahku dan meninggalkan persembahanmu kepada berhala-berhala itu maka tunggulah saat tibanya pembalasan Tuhan di mana kamu tidak akan dpt melepaskan diri dari bencananya. Allah menjadi saksiku bahwa aku telah menyampaikan risalah-Nya dengan sepenuh tenagaku kepada mu dan akan tetap berusaha sepanjang hayat kandung bandaku memberi penerangan dan tuntunan kepada jalan yang baik yang telah digariskan oleh Allah bagi hamba-hamba-Nya.”

Pembalasan Allah Atas Kaum Aad

Pembalasan Tuhan terhadap kaum Aad yang kafir dan tetap membangkang itu diturunkan dalam dua perinkat.Tahap pertama berupa kekeringan yang melanda ladang-ladang dan kebun-kebun mrk, sehingga menimbulkan kecemasan dan kegelisahan, kalau-kalau mereka tidak memperolehi hasil dari ladang-ladang dan kebun-kebunnya seperti biasanya.Dalam keadaan demikian Nabi Hud masih berusaha meyakinkan mereka bahawa kekeringan itu adalah suatu permulaan seksaan dari Allah yang dijanjikan dan bahwa Allah masih lagi memberi kesempatan kepada mereka untuk sedar akan kesesatan dan kekafiran mrk dan kembali beriman kepada Allah dengan meninggalkan persembahan mrk yang bathil kemudian bertaubat dan memohon ampun kepada Allah agar segera hujan turun kembali dengan lebatnya dan terhindar mrk dari bahaya kelaparan yang mengancam. Akan tetapi mereka tetap belum mahu percaya dan menganggap janji Nabi Hud itu adalah janji kosong belaka. Mereka bahkan pergi menghadap berhala-berhala mereka memohon perlindungan ari musibah yang mereka hadapi.

Tentangan mrk terhadap janji Allah yang diwahyukan kepada Nabi Hud segera mendapat jawapan dengan dtgnya pembalasan tahap kedua yang dimulai dengan terlihatnya gumpalan awan dan mega hitam yang tebal di atas mereka yang disambutnya dengan sorak-sorai gembira, karena dikiranya bahwa hujan akan segera turun membasahi ladang-ladang dan menyirami kebun-kebun mereka yang sedang mengalami kekeringan.
Melihat sikap kaum Aad yang sedang bersuka ria itu berkatalah Nabi Hud dengan nada mengejek: “Mega hitam itu bukanlah mega hitam dan awam rahmat bagi kamu tetapi mega yang akan membawa kehancuran kamu sebagai pembalasan Allah yang telah ku janjikan dan kamu ternanti-nanti untuk membuktikan kebenaran kata-kataku yang selalu kamu sangkal dan kamu dusta.

Sejurus kemudian menjadi kenyataanlah apa yang diramalkan oleh Nabi Hud itu bahawa bukan hujan yang turun dari awan yang tebal itu tetapi angin taufan yang dahsyat dan kencang disertai bunyi gemuruh yang mencemaskan yang telah merusakkan bangunan-bangunan rumah dari dasarnya membawa berterbangan semua perabot-perabot dan milik harta benda dan melempar jauh binatang-binatang ternak. Keadaan kaum Aad menjadi panik mereka berlari kesana sini hilir mudik mencari perlindungan .Suami tidak tahu di mana isterinya berada dan ibu juga kehilangan anaknya sedang rumah-rumah menjadi sama rata dengan tanah. Bencana angin taufan itu berlangsung selama lapan hari tujuh malam sehingga sempat menyampuh bersih kaum Aad yang congkak itu dan menamatkan riwayatnya dalam keadaan yang menyedihkan itu untuk menjadi pengajaran dan ibrah bagi umat-umat yang akan datang.

Adapun Nabi Hud dan para sahabatnya yang beriman telah mendapat perlindungan Allah dari bencana yang menimpa kaumnya yang kacau bilau dan tenang seraya melihat keadaan kaumnya yang kacau bilau mendengar gemuruhnya angin dan bunyi pohon-pohon dan bangunan-bangunan yang berjatuhan serta teriakan dan tangisan orang yang meminta tolong dan mohon perlindungan.

Setelah keadaan cuaca kembali tenang dan tanah ” Al-Ahqaf ” sudah menjadi sunyi senyap dari kaum Aad pergilah Nabi Hud meninggalkan tempatnya berhijrah ke Hadramaut, di mana ia tinggal menghabiskan sisa hidupnya sampai ia wafat dan dimakamkan di sana dimana hingga sekarang makamnya yang terletak di atas sebuah bukit di suatu tempat lebih kurang 50 km dari kota Siwun dikunjungi para penziarah yang datang beramai-ramai dari sekitar daerah itu, terutamanya dan bulan Syaaban pada setiap tahun.

Kisah Nabi Hud Dalam Al-Quran

Kisah Nabi Hud diceritakan oleh 68 ayat dalam 10 surah di antaranya surah Hud, ayat 50 hingga 60 , surah ” Al-Mukminun ” ayat 31 sehingga ayat 41 , surah ” Al-Ahqaaf ” ayat 21 sehingga ayat 26 dan surah ” Al-Haaqqah ” ayat 6 ,7 dan 8.

Pelajaran Dari Kisah Nabi Hud A.S.

Nabi Hud telah memberi contoh dan sistem yang baik yang patut ditiru dan diikuti oleh juru dakwah dan ahli penerangan agama. Beliau menghadapi kaumnya yang sombong dan keras kepala itu dengan penuh kesabaran, ketabahan dan kelapangan dada. Ia tidak sesekali membalas ejekan dan kata-kata kasar mereka dengan serupa tetapi menolaknya dengan kata-kata yang halus yang menunjukkan bahawa beliau dapat menguasai emosinya dan tidak sampai kehilangan akal atau kesabaran.

Nabi Hud tidak marah dan tidak gusar ketika kaumnya mengejek dengan menuduhnya telah menjadi gila dan sinting. Ia dengan lemah lembut menolak tuduhan dan ejekan itu dengan hanya mengata:”Aku tidak gila dan bahawa tuhan-tuhanmu yang kamu sembah tidak dapat menggangguku atau mengganggu fikiranku sedikit pun tetapi aku ini adalah rasul pesuruh Allah kepadamu dan betul-betul aku adalah seorang penasihat yang jujur bagimu menghendaki kebaikanmu dan kesejahteraan hidupmu dan agar kamu terhindar dan selamat dari azab dan seksaan Allah di dunia mahupun di akhirat.”

Dalam berdialog dengan kaumnya.Nabi Hud selalu berusaha mengetok hati nurani mereka dan mengajak mereka berfikir secara rasional, menggunakan akal dan fikiran yang sihat dengan memberikan bukti-bukti yang dapat diterima oleh akal mereka tentang kebenaran dakwahnya dan kesesatan jalan mereka namun hidayah iu adalah dari Allah, Dia akan memberinya kepada siapa yang Dia kehendakinya.

Wallohu a’lam bishshawab

@kaefota

MELIHAT RASULULLAH TAK DIBAKAR API NERAKA

 

Auudzu billaahi minasy syaythaanir rajiim. Bismillahir rahmaanir rahiim. Alhamdulillahi robbil alaamin. Allaahumma shalli wa sallim wa barik alaa Sayidina Muhammadin wa alaa aali Sayidina Muhammadin wa ashaabihi wa azwajihi wa dzuriyyatihi wa ahli baitihi ajmain. Yaa Mawlana Yaa Sayyidi Madad al-Haqq.

melihar rasulullah tak dibakar api neraka

Diriwatkan bahwa Abu Yazid dikenal sebagai seorang ahli sufi. Ia wafat dan dikubur di negeri Irak. Kuburnya tidak putus diziarahi setiap saat dan waktu. Pada suatu hari, seorang pejabat kenamaan datang melihat orang-orang yang berziarah ke kubur Abu Yazid. Di antara kerumunan orang banyak ia bertanya, “Apakah di antara kalian yang berziarah ini ada yang pernah hidup semasa dengan Abu Yazid?”

Lalu, ada seorang tua mengacungkan tangan dan menjawab, “Ya tuan, saya pernah hidup semasa dengan Abu Yazid dan selalu mengikuti majelis taklim beliau dan mendengarkan petuah-petuah dari beliau.”

Pejabat tadi bertanya lagi, “Apa yang pernah dikatakan Abu Yazid yang paling berkesan di hati anda?” Orangtua itu menjawab, “Ya, saya sangat terkesan dengan hadis yang diriwayatkan oleh Abu Yazid, bahwa Rasulullah saw bersabda, Barang siapa yang melihat aku, tidak akan dibakar oleh api neraka

Sang pejabat tadi terkejut keheranan, “Apa betul yang dikatakan Abu Yazid itu hadis Nabi saw? Ataukah Abu Yazid mengada-ada saja, karena sekian banyak orang yang melihat Rasulallah saw sewaktu beliau masih hidup, tetapi jelas akan dibakar oleh api neraka seperti Abu Lahab dan Abu Jahal umpamanya.”

Orangtua itu menjawab lagi, “Betul apa yang tuan katakan itu, banyak orang yang melihat Rasulallah pada waktu beliau masih hidup, seperti Abu Jahal, Abu Lahab, dan kafir Quraisy lainnya, tetapi mereka tetap dibakar oleh api neraka, karena mereka hanya melihatnya sebagai Muhammad manusia biasa yang makan, minum, tidur dan istirahat. Mereka melihatnya sebagai anak yatim yang diasuh oleh Abu Thalib. Mereka melihatnya hanya sebagai pengembala kambing. Bahkan yang lebih jahat lagi mereka melihatnya sebagai musuh yang bisa merusak agama dan aqidah mereka. Mereka tidak pernah melihat beliau sebagai Rasulullah saw.”

Demikian jawaban orang tua tadi.

Di sini kita tidak membicarakan hadist yang diriwayatkan oleh Abu Yazid, tetapi sedikit memberikan komentar dari jawaban orangtua tadi bahwa Abu Jahal atau Abu Lahab dan kafir Quraish tidak pernah melihat Rasulullah saw. Yang ia lihat hanyalah Muhammad bin Abdillah manusia biasa, yang makan, minum dan tidur. Mereka melihatnya sebagai anak yatim yang diasuh oleh Abu Thalib. Bahkan mereka melihatnya sebagai musuh dan seterusnya.

Inilah seharusnya yang menjadi pemikiran seorang beriman, apakah memandang beliau sebagai sosok seorang Rasul? Ataukah memandang beliau hanya sebagai manusia biasa?

Seorang muslim hendaknya memandang sosok Muhammad bin Abdillah adalah Rasulullah saw, utusan Allah, kekasih Allah, pembawa kabar gembira, pemberi peringatan, penegak agama Allah, pejuang yang gigih dan pembawa cahaya dan rahmat bagi alam semesta. Bukan hanya Muhammad bin Abdullah yang lahir di Mekah.

Telah ada pada diri Rasul itu suri tauladan yang baik bagimu bagi orang mengharap rahmat dari Allah” (QS. Al-ahzab).

Wallahua’lam

Wa min Allah at taufiq hidayah wal inayah, wa bi hurmati Habib wa bi hurmati fatihah..

@kaefota

TANDA-TANDA SEBELUM KEMATIAN, PERASAAN SAAT AKAN MATI DAN KEADAAN SETELAH MATI

 

 

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Kematian adalah satu hal wajar yang pasti dialami oleh tiap-tiap insan yang hidup di dunia. Allah Subhanahu Wa Ta’ala menghidupkan dan mematikan kita sekehendak-Nya dan sewaktu-waktu yang telah Dia tetapkan tanpa kita ketahui waktu, keadaan dan tempat di mana kita akan mati.

PENJELASAN TENTANG MATI

Secara Kedokteran, kematian merupakan suatu keadaan di mana Medulla Oblongata sudah tidak berfungsi dan rusak. Medulla Oblongata merupakan bagian dari Batang Otak yang terletak di bawah Mesencephalon dan Pons yang berfungsi mengatur Kardiovaskular, mengatur kerja jantung, sistem pencernaan, sistem respirasi, pusat koordinasi dan pusat kesadaran.

Seseorang yang koma belum bisa dikatakan mati karena Medulla Oblongata nya masih berfungsi. Dokter dan praktisi kesehatan pun akan mendiagnosis seseorang meninggal atau tidaknya dengan melihat dan mengontrol Medulla Oblongata nya dengan menyalakan cahaya (biasanya senter) pada mata pasien.

Jika pupil pasien mengecil, maka Medulla Oblongata nya masih berfungsi, namun jika pupilnya tidak mengecil maka Medulla Oblongata pasien telah berhenti bekerja. Inilah yang dikatakan dengan kematian. Di sisi lain dapat dikatakan bahwa Medulla Oblongata adalah tempat penggantung nyawa (dan ruh) kita.

Berdasarkan Life-Span Development (Psikologi Perkembangan) menjelaskan bahwa seseorang yang akan mati, otak bagian atas mati terlebih dahulu dibandingkan otak bagian bawah karena masih mengontrol pernafasan dan kerja jantung (dikemukakan oleh Flyers Hockey). Seseorang sudah dapat dikatakan mati jika fungsi kortikal yang meliputi inteligensi dan kepribadian serta fungsi kemanusiaannya telah mati.

KEPUTUSAN MENGENAI KEHIDUPAN, KEMATIAN SERTA PERAWATAN

Perlu diperhatikan untuk mencegah situasi menjelang kematian di mana pasien tidak lagi dapat berespons secara adekuat, koma atau cenderung tidak rasional untuk membuat pilihan-pilihan di a khir kehidupannya.

Kematian Alami dan Advanced Directive

  • Organisasi Choice of Dying (Living Will)mengungkapkan dokumen yang didesain untuk diisi saat seseorang masih bisa berpikir dengan jelas serta mampu mengungkapkan keinginan pribadinya terkait penanganan medis luar biasa yang mungkin dialami serta situasi secara medis yang tidak lagi memungkinkan untuk memberi harapan.
  • Carlifornia’s Natural Death Act, mengungkapkan individu yang telah didiagnosa terminally illoleh minimal dua dokter ditawarkan untuk menandatangani Advanced Directive (pernyataan bahwa prosedur penunjang kehidupan tidak lagi perlu digunakan untuk memperlama hidupnya jika kematian mungkin terjadi).

Euthanasia

  • Easy Death adalah tindakan pengakhiran kehidupan tanpa rasa sakit pada individu yang menderita penyakit yang sangat parah atau yang tak tersembuhkan.
  • Euthanasia Pasifadalah seseorang yang dimatikan dengan cara mengakhiri perawatan (mesin respirator atah alat pemacu jantung-paru <cardiovascular pulmonary=””>)</cardiovascular>
  • Euthanasia Aktif adalah seseorang yang mengalami kematian induksi (injeksi obat dengan dosis yang mematikan)

Perawatan bagi Orang yang Akan Meninggal

  • Sebaiknya menghormati tujuan-tujuan, preferensi serta pilihan-pilihan pasien maupun keluarganya (Kirchoff dkk, 2002)
  • pasien perlu didampingi dan ditemani
  • Proses yang dialami pasien : kesepian, berlangsung lama dan sakit (Institute of Medicine, 1997)
  • beberapa pasien mengalami rasa sakit yang amat hebat beberapa hari hingga bulan terakhir di akhir kehidupannya.

PERSPEKTIF TERHADAP KEMATIAN

Masa Prenatal:  keguguran, lahir mati

Masa Neonatal: Birth defect atau ketidakmampuan bayi hidup di luar rahim

Masa Bayi:  Sudden Infant Death Syndrome

Masa Kanak-kanak : kecelakaan (tertabrak, tenggelam, keracunan, kebakaran, jatuh dari ketinggian) atau sakit jantung, kanker, kelainan bawaan lahir. Untuk kasus terminally ill, anak harus lebih didekatkan pada orang tua untuk menghindari depresi atau ketakutan berlebihan orang tuanya akan terlalu sedih. Anak menyadari bahwa hidupnya takkan lama lagi sehingga mereka butuh dukungan emosi, dukungan social serta keterampilan mengatasi ketakutannya.

Masa Remaja:  Sakit, Kecelakaan bermotor, pembunuhan atau binuh diri à kecelakaan bermotor biasanya berhubungan dengan alcohol.

Masa Dewasa:  Penyakit kronis, kecelakaan (dewasa muda). Pada orang yang lebih muda merasa tidak punya harapan dan kesempatan meraih hidup. Dewasa madya dan Lanjut mempresepsikan kematian dengan kehilangan apa yang selama ini dimilikinya.

TANDA-TANDA SEBELUM KEMATIAN DAN PERASAAN SAAT AKAN MATI

Seseorang yang akan meninggal mempunyai beberapa tanda-tanda yang dirasakan oleh dirinya sendiri dan yang dapat dirasakan oleh orang di sekitarnya.

  • TANDA 100 HARI SESEORANG SEBELUM MENINGGAL

Pada masa ini, Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberi tanda-tanda akan kembalinya seseorang pertama kali. Tanda ini lazimnya terjadi selepas waktu Ashar (sama seperti Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘Alaiyhi Wassalaam mendapatkan wahyu terakhir ketika 81 hari sebelum beliau wafat). Beberapa orang dapat merasakannya dan (sebagian dari padanya) tidak merasakan dan menyadari tanda-tanda ini secara langsung. Tanda-tandanya adalah dari ujung rambut ke ujung kaki akan mengalami getaran seperti menggigil. Bagi yang menyadari hal ini, masa ini adalah masa seseorang akan merasa ketakutan, kepanikan, ketidaksiapan, penolakan, tangisan dan akan memanfaat waktu yang tersisa dengan sebaik-baiknya.

  • TANDA 60 HARI SEBELUM MENINGGAL

Pada masa ini, seseorang yang akan meninggal akan merasakan gerakan pada pusar. Pada masa ini, seseorang yang mengetahuinya akan cenderung tawar-menawar, berpikir bahwa kematian dapat diundur, panik yang teramat sangat dan depresi berlebihan.

  • TANDA 40 HARI SEBELUM MENINGGAL

Tanda ini juga akan terjadi pada waktu Ashar, di mana pusar terasa berdenyut-denyut. Pada saat itu daun yang bertuliskan nama kita di pohon akan gugur dan Malaikat Maut akan membawa daun itu. Di masa ini, Malaikat maut selalu mengikuti kita dan bersiap menemani kita sampai tiba 40 hari kemudian saat ia harus memulakan tugasnya untuk memulainya hidup seorang manusia di Alam Kubur.

Malaikat Maut itu hanya satu, namun kewenangannya adalah sama dengan jumlah nyawa manusia-manusia di dunia. Bagi orang yang menyadari dan merasakan tanda ini, ia mulai pasrah dan menerima segala ketetapan Allah atas dirinya. Di waktu ini, seseorang akan bertingkah aneh, tidak selazimnya ia lakukan semasa hidup dan meminta maaf.

  • TANDA 7 HARI SEBELUM MENINGGAL

Adapun tanda yang lebih signifikan terjadi pada hari ketujuh sebelum seseorang akan meninggal, (yaitu) beberapa orang yang dianugerahi sakit akan bertambah parah sakitnya. Massa ototnya (dagingnya) berkurang drastis, semakin terlihatnya tulang dan pembuluh-pembuluh darahnya. Di masa ini, seseorang akan merasakan lapar (mengidam), namun dia tidak ingin makan dan seolah berpikiran bahwa dia sudah tidak lagi membutuhkan (dan tidak menginginkan) makanan lagi. Merasakan bahwa kenikmatan dunia sudah tidak terasa nikmat lagi.

  • TANDA 5 HARI SEBELUM MENINGGAL

Seseorang yang lima hari lagi akan menemui ajalnya, dia akan merasakan anak lidahnya bergerak-gerak. Kondisi psikologis seseorang akan merasa tenang

  • TANDA 3 HARI AKAN MENINGGAL

Pada saat ini akan terasa denyutan pada dahi tengah (yaitu di antara kanan dan kiri dahi). Jika tanda ini dirasakan, maka dianjurkan berpuasa untuk membersihkan najis dan kotorang yang telah masuk ke dalam perut kita. Pada masa ini, bagian hitam dari mata sudah tidak bersinar kembali. Bagi orang yang sakit, daun telinganya bagian ujungnya akan layu dan bagian hidungnya perlahan akan jatuh. Telapak kakinya yang telunjur akan perlahan-lahan jatuh ke depan dan sukar ditegakkan.

  • TANDA 2 HARI SEBELUM MENINGGAL

Pada masa ini seluruh bagian dahi akan terasa bergerak-gerak. Saat itu adalah saat di mana seseorang telah mulai merasakan suatu kesiapan untuk menghadap Sang Khalik

  • TANDA 1 HARI SEBELUM MENINGGAL

Sehari (pada waktu selepas Ashar) sebelum meninggal seseorang akan merasa ada denyutan di bagian belakang kepala (yaitu ubun-ubun). Hal ini menandakan bahwa seseorang telah merasakan bahwa ia tidak akan merasakan dan menemui waktu Ashar kembali. Di mana waktu Ashar yang selama ini selalu memberikan tanda-tanda akan datangnya ajal baginya.

  • TANDA AKHIR MENJELANG MAUT

Ketika waktu hidupnya tinggal dihitung oleh detikan waktu, seseorang akan merasakan rasa sejuk di bagian pusar, lalu turun ke bagian pinggang dan naik ke bagian Halkum (tenggorokkan). Ketika merasakan ini, hendaklah membaca Syahadat dan berdiam diri menanti kedatangan Malaikat Maut yang menjemput kita untuk menghadap kembali kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang mana Dia telah menghidupkan kita dan yang mematikan kita pula.

Di saat sebelum meninggal, seseorang akan merasa kesepian yang teramat sangat, merasakan di sekitarnya sangat hitam dan suram, merasakan sakit yang teramat sangat dan ingin menangis untuk yang terakhir kalinya di dunia.

Di saat sebelum meninggal, akan muncul seperti Flashback (atau kilasan balik) tentang masa-masa hidupnya saat dia dilahirkan di dunia oleh ibunya, saat ia menikmati bahagianya masa kecil bersama kedua orang tuanya, saat bermain-main dengan saudaranya dan teman sepermainannya sewaktu kanak-kanak, saat ia merasakan bahagianya masa sekolah bersama teman-temannya, saat ia menyayangi istri (atau suami) dan keluarga barunya, saat ia merasakan masa senjanya bersama orang terdekat yang masih ada, saat merasakan sakit dan saat hari-hari kemarin.

Ia merasakan bahwa hidup ini cepat sekali ia lalui dan tidak terasa akan tibalah akhir masa baktinya ia di dunia untuk menjalankan perintah Allah.

KEHIDUPAN SETELAH MATI

Setelah itu, muncullah Malaikat Maut di hadapannya dan memulakan tugasnya. Mulailah malaikat itu menyentuh dan memegang ruh kita dan rasa sakit seperti disayat-sayat (seperti sapi yang di kupas-kupas kulitnya). Di saat itu mulut membisu dan tidak mampu berkata-kata lagi, bahkan merintih aduh saja pun sudah tidak kuasa.

Rasa sakit, nyeri itu tercampuradukkan dengan perasaan dan bayangan apa yang akan terjadi setelah kematiannya. Dan itu sungguhlah lebih menyeramkan di luar imajinasi manusia dari pada rasa mati itu sendiri.

Syaikh Syaduq mengutip dari Imam Ja’far Al-Shadiq RA, “Barang siapa yang ingin kematiannya mudah dan bercahaya, dia harus mempertahankan hubungan baik dengan sanak saudara dan berlaku baik dan ramah tamah dengan orang tuanya. Seseorang yang melakukan hal ini akan meninggal dengan mudah dan dalam hidupnya tidak akan merasa kekurangan dan ia akan hidup bahagia.:”

Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaiyhi Wassalaam menyarankan untuk membaca Surat Yasiin dan Al-Saffat dan membaca doa “Laa ilaha Illa Allahu l-Halimul Kariim (Laa ilaha illa Allah Al-Haliim Al Kariim)” (Tiada kekuatan selain Allah, MahaPenyabar dan Maha Baik) di akhir Qunut, maka akan membawa keuntungan saat ajal menjemput.

PROSES DEKOMPOSISI FISIK MANUSIA KETIKA MATI

Sesaat sebelum mati, detak jantung Anda mulai berhenti, nafas tertahan dan badan bergetar. Anda merasa dingin di telinga. Darah berubah menjadi asam dan tenggorokan berkontraksi. Inilah yg disebut saat sakaratul maut.

  1. 0 Menit

Kematian secara medis terjadi ketika otak kehabisan supply oksigen.

  1. 1 Menit

Darah berubah warna dan otot kehilangan kontraksi, isi kantung kemih keluar tanpa izin.

  1. 3 Menit

Sel-sel otak tewas secara massal. Saat ini otak benar-benar berhenti berpikir.

  1. 4 – 5 Menit

Pupil mata membesar dan berselaput. Bola mata mengkerut krn kehilangan tekanan darah.

  1. 7 – 9 Menit

Penghubung ke otak mulai mati.

  1. 1 – 4 Jam

Rigor Mortis (fase dimana keseluruhan otot di tubuh menjadi kaku) membuat otot kaku n rambut berdiri, kesannya rambut tetap tumbuh setelah mati.

  1. 4 – 6 Jam

Rigor Mortis terus beraksi. Darah yang berkumpul lalu mati dan warna kulit menghitam.

  1. 6 Jam

Otot masih berkontraksi. Proses penghancuran, seperti efek alkohol masih berjalan.

  1. 8 Jam

Suhu tubuh langsung menurun drastis.

  1. 24 – 72 Jam

Isi perut membusuk oleh mikroba dan pankreas mulai mencerna dirinya sendiri.

  1. 36 – 48 Jam

Rigor Mortis berhenti, tubuh anda selentur penari balerina.

  1. 3 – 5 Hari

Pembusukan mengakibatkan luka skala besar, darah menetes keluar dari mulut dan hidung.

  1. 8 – 10 Hari

Warna tubuh berubah dari hijau ke merah sejalan dengan membusuknya darah.

  1. Beberapa Minggu

Rambut, kuku dan gigi dengan mudahnya terlepas.

  1. Satu Bulan

Kulit Anda mulai mencair.

  1. Satu Tahun

Tidak ada lagi yang tersisa dari tubuh Anda. Anda yang sewaktu hidupnya cantik, gagah, ganteng, kaya dan berkuasa, sekarang hanyalah tumpukan tulang-belulang yang menyedihkan.

KEHIDUPAN ALAM SETELAH MATI

Seseorang yang telah tercabut ruhnya, dia akan melihat raganya sendiri dan menangisi akan jasad yang ia kendalikan dan menemaninya semasa hidup di dunia. Dengan perpisahan raga dan ruh itu, si Ruh akan merasa berat untuk meninggalkan jasadnya itu dan ingin kembali ke dalam jasad (raga)nya. Di saat seperti itu, ruh merasa bahwa Jasad (raga) itu bukanlah dirinya.

Jasad yang telah dikubur dan masih orang yang mengantarnya ke alam barzah itu belum beranjak dari kuburnya, maka jasad fulan itu masih belum mengalami pengadilan di alam kubur, namun ruh seseorang yang telah meninggal tersebut selalu terasa ketakutan dan gelisah.

Ketika orang terakhir yang mengantarkannya telah beranjak tiga langkah meninggalkan kuburnya, maka Malaikat Munkar dan Nakir mulai datang dan menanyakan beberapa pertanyaan dalam kubur.

“Siapa Nama Tuhanmu ?” ; “Siapa Nabimu ?” ; “Siapa Imammu ?” ; “Siapa orang tuamu ?” ; “Mana Kiblatmu ?”.

Jika seseorang yang meninggal itu tidak mampu menjawab pertanyaan itu, maka Malaikat Munkar Nakir akan mencambuknya dengan besi yang telah dicelupkan ke dalam api neraka. Setelah itu, bagi seseorang yang beramal shalih, kuburnya akan terasa sangat lapang, terang dan harum, dari kuburnya itu ia mampu melihat jendela ke surga.  Kematian orang yang shalih akan terasa nikmat dan tiada terasa bahwa hari Kiamat telah datang.

Sementara bagi orang yang beramal buruk, kuburannya akan menyempit, bau busuk, ditemani hewan-hewan mengerikan dan dari kuburnya itu, ia mampu melihat jendela neraka serta disiksa hingga hari Kiamat. Orang yang beramal buruk tersebut akan berteriak “Yaa Allah kembalikan aku untuk hidup di dunia, aku berjanji akan memperbaiki amalanku,” namun itu tiada mungkin terjadi, sementara akan berkata lagi ,”Yaa Allah, percepatkanlah Hari Kiamat, aku sudah tidak tahan berada di tempat seperti ini bersama siksa-siksamu yang pedih.”

Hari Kiamat akan terasa sangat lama baginya dan ingin cepat-cepat kiamat. Namun setelah Kiamat, justru kehidupan yang lebih menyeramkan baginya telah menunggu. Hanya Syafaat dari Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘Alaiyhi Wassalaam yang mampu menolongnya dan menariknya ke dalam Surga.

Di dalam Kubur, dua hal yang selalu membela si orang yang telah meninggal adalah Al-Qur’an dan Amalan baiknya itu. Tiada kawan yang lebih baih melainkan amalan baik kita sendiri. Amalan baik itu kelak akan menemui kita dengan berparaskan sama dengan raga kita semasa hidup dan menutup auratnya. Semakin banyaka amalan baik seseorang, maka semakin tampan/cantik, semakin bercahaya, semakin harum, semakin indah dan semakin mampu pula untuk membela kita di alam Barzah.

BACA KESAKSIAN KISAH MATI SURI ASLINA

Artikel dibawah ini adalah sebuah Kesaksian Warga Bengkalis yang Mati Suri dalam Temu Alumni ESQ ‘Menyaksikan Orang Disiksa dan Ingin Kembali ke Dunia’.

Pengalaman mati suri seperti yang dialami Aslina, telah pula dirasakan banyak orang. Seorang peneliti dan meraih gelar doktor filsafat dari Universitas Virginia Dr Raymond A Moody pernah meneliti fenomena ini. Hasilnya orang mati suri rata-rata memiliki pengalaman yang hampir sama. Masuk lorong waktu dan ingin dikembalikan ke dunia.

Catatan ini dilengkapi pula dengan penjelasan instruktur ESQ Legisan Sugimin yang mengutip Al-Quran yang menjelaskan orang yang mati itu ingin dikembalikan ke dunia, serta penelusuran melalui internet tentang Dr Raymond. Bagi pembaca yang ingin mengetahui perihal Dr Raymond dapat membuka situs www.lifeafterlife.com  dan hasil penelitian Raymond tentang mati suri dapat dibaca di buku Life After Life.

Aslina adalah warga Bengkalis yang mati suri 24 Agustus 2006 lalu. Gadis berusia sekitar 25 tahun itu memberikan kesaksian saat nyawanya dicabut dan apa yang disaksikan ruhnya saat mati suri.

Sebelum Aslina memberi kesaksian, pamannya Rustam Effendi memberikan penjelasan pembuka. Aslina berasal dari keluarga sederhana, ia telah yatim. Sejak kecil cobaan telah datang pada dirinya. Pada umur tujuh tahun tubuhnya terbakar api sehingga harus menjalani dua kali operasi. Menjelang usia SMA ia termakan racun.

Disebabkan hal itu ia menderita selama tiga tahun. Pada umur 20 tahun ia terkena gondok (hipertiroid). Gondok tersebut menyebabkan beberapa kerusakan pada jantung dan matanya. Karena penyakit gondok itu maka Jumat, 24 Agustus 2006 Aslina menjalani check-up atas gondoknya di Rumah Sakit Mahkota Medical Center (MMC) Melaka Malaysia. Hasil pemeriksaan menyatakan penyakitnya di ambang batas sehingga belum bisa dioperasi.

“Kalau dioperasi maka akan terjadi pendarahan,” jelas Rustam.

Oleh karena itu Aslina hanya diberi obat. Namun kondisinya tetap lemah. Malamnya Aslina gelisah luar biasa, dan terpaksa pamannya membawa Aslina kembali ke Mahkota sekitar pukul 12 malam itu. Ia dimasukkan ke unit gawat darurat (UGD), saat itu detak jantungnya dan napasnya sesak. Lalu ia dibawa ke luar UGD masuk ke ruang perawatan.

“Aslina seperti orang ombak (menjelang sakratulmaut—red). Lalu saya ajarkan kalimat thoyyibah dan syahadat. Setelah itu dalam pandangan saya Aslina menghembuskan nafas terakhir,” ungkapnya. Usai Rustam memberi pengantar, lalu Aslina memberikan kesaksiaanya.

“Mati adalah pasti. Kita ini calon-calon mayat, calon penghuni kubur,” begitu ia mengawali kesaksiaanya setelah meminta seluruh hadirin yang memenuhi Grand Ball Room Hotel Mutiara Merdeka Pekanbaru tersebut membacakan shalawat untuk Nabi Muhammad SAW. Tak lupa ia juga menasehati jamaah untuk memantapkan iman, amal dan ketakwaan sebelum mati datang. “Saya telah merasakan mati,” ujar anak yatim itu. Hadirin terpaku mendengar kesaksian itu. “Sungguh,” lanjutya, “terlalu sakit mati itu.”

Diceritakan, rasa sakit ketika nyawa dicabut itu seperti sakitnya kulit hewan ditarik dari daging, dikoyak. Bahkan lebih sakit lagi. “Terasa malaikat mencabut (nyawa, red) dari kaki kanan saya,” tambahnya. Di saat itu ia sempat diajarkan oleh pamannya kalimat thoyibah. “Saat di ujung napas, saya berdzikir,” ujarnya. “sungguh sakitnya, Pak, Bu,” ulangnya di hadapan lebih dari 300 alumni ESQ Pekanbaru.

Diungkapkan, ketika ruhnya telah tercabut dari jasad, ia menyaksikan di sekelilingnya ada dokter, pamannya dan ia juga melihat jasadnya yang terbujur. Setelah itu datang dua malaikat serba putih mengucapkan Assalaimualaikum kepada ruh Aslina. “Malaikat itu besar, kalau memanggil, jantung rasanya mau copot, gemetar,” ujar Aslina mencerita pengalaman matinya. Lalu malaikat itu bertanya: “Siapa Tuhanmu, apa agamamu, dimana kiblatmu dan siapa nama orangtuamu.”

Ruh Aslina menjawab semua pertanyaan itu dengan lancar. Lalu ia dibawa ke alam barzah. “Tak ada teman kecuali amal,” tambah Aslina yang Ahad malam itu berpakaian serba hijau.

Seperti pengakuan pamannya, Aslina bukan seorang pendakwah, tapi malam itu ia tampil memberikan kesaksian bagaikan seorang muballighah. Di alam barzah ia melihat seseorang ditemani oleh sosok yang mukanya berkudis, badan berbulu dan mengeluarkan bau busuk. Mungkin sosok itulah adalah amal buruk dari orang tersebut.

Aslina melanjutkan. “Bapak, Ibu, ingatlah mati,” sekali lagi ia mengajak hadirin untuk bertaubat dan beramal sebelum ajal menjemput.

Di alam barzah, ia melanjutkan kesaksiannya, ruh Aslina dipimpin oleh dua orang malaikat. Saat itu ia ingin sekali berjumpa dengan ayahnya. Lalu ia memanggil malaikat itu dengan “Ayah”. “Wahai ayah bisakah saya bertemu dengan ayah saya?” tanyanya. Lalu muncullah satu sosok. Ruh Aslina tak mengenal sosok yang berusia antara 17-20 tahun itu. Sebab ayahnya meninggal saat berusia 65 tahun. Ternyata memang benar, sosok muda itu adalah ayahnya. Ruh Aslina mengucapkan salam ke ayahnya dan berkata: “Wahai ayah, janji saya telah sampai.”

Mendengar itu ayah saya saya menangis. Lalu ayahnya berkata kepada Aslina, “Pulanglah ke rumah, kasihan adik-adikmu.”

Ruh Aslina pun menjawab, “Saya tak bisa pulang, karena janji telah sampai.”

Usai menceritakan dialog itu, Aslina mengingatkan kembali kepada hadirin bahwa alam barzah dan akhirat itu benar-benar ada. “Alam barzah, akhirat, surga dan neraka itu betul ada. Akhirat adalah kekal,” ujarnya bak seorang pendakwah.

Setelah dialog antara ruh Aslina dan ayahnya, ayahnya tersebut menunduk. Lalu dua malaikat memimpinnya kembali, ia bertemu dengan perempuan yang beramal shaleh yang mukanya bercahaya dan wangi. Lalu ruh Aslina dibawakan kursi yang empuk dan didudukkan di kursi tersebut, disebelahnya terdapat seorang perempuan yang menutup aurat, wajahnya cantik. Ruh Aslina bertanya kepada perempuan itu. “Siapa kamu?”

Lalu perempuan itu menjawab, “Akulah (amal) kamu.”

Selanjutnya ia dibawa bersama dua malaikat dan amalnya berjalan menelurusi lorong waktu melihat penderitaan manusia yang disiksa. Di sana ia melihat seorang laki-laki yang memikul besi seberat 500 ton, tangannya dirantai ke bahu, pakaiannya koyak-koyak dan baunya menjijikkan.

Ruh Aslina bertanya kepada amalnya, “Siapa manusia ini?”

Amal Aslina menjawab orang tersebut ketika hidupnya suka membunuh orang.

Lalu dilihatnya orang yang yang kulit dan dagingnya lepas. Ruh Aslina bertanya lagi ke amalnya tentang orang tersebut. Amalnya mengatakan bahwa manusia tersebut tidak pernah shalat. Selanjutnya tampak pula oleh ruh Aslina manusia yang dihujamkan besi ke tubuhnya. Ternyata orang itu adalah manusia yang suka berzina. Tampak juga orang saling bunuh, manusia itu ketika hidup suka bertengkar dan mengancam orang lain.

Dilihatkan juga pada ruh Aslina, orang yang ditusuk dengan 80 tusukan, setiap tusukan terdapat 80 mata pisau yang tembus ke dadanya, lalu berlumuran darah, orang tersebut menjerit dan tidak ada yang menolongnya. Ruh Aslina bertanya pada amalnya. Dan dijawab orang tersebut adalah orang juga suka membunuh. Ada pula orang yang dihempaskan ke tanah lalu dibunuh. Orang tersebut adalah anak yang durhaka dan tidak mau memelihara orang tuanya ketika di dunia.

Perjalanan menelusuri lorong waktu terus berlanjut. Sampailah ruh Aslina di malam yang gelap, kelam dan sangat pekat sehingga dua malaikat dan amalnya yang ada disisinya tak tampak. Tiba-tiba muncul suara orang mengucap :

Subnallah, Alhamdulillah dan Allahu Akbar.  Tiba-tiba ada yang mengalungkan sesuatu di lehernya. Kalungan itu ternyata tasbih yang memiliki biji 99 butir.

Perjalanan berlanjut. Ia nampak tepak tembaga yang sisi-sisinya mengeluarkan cahaya, di belakang tepak itu terdapat gambar kakbah. Di dalam tepak terdapat batangan emas. Ruh Aslina bertanya pada amalnya tentang tepak itu. Amalnya menjawab tepak tersebut adalah husnul khatimah. (Husnul khatimah secara literlek berarti akhir yang baik, yakni keadaan dimana manusia pada akhir hayatnya dalam keadaan (berbuat) baik—red).

Selanjutnya ruh Aslina mendengarkan adzan seperti adzan di Mekkah. Ia pun mengatakan kepada amalnya, “Saya mau shalat.” Lalu dua malaikat yang memimpinnya melepaskan tangan ruh Aslina.

“Saya pun bertayamum, saya shalat seperti orang-orang di dunia shalat,” ungkap Aslina.

Selanjutnya ia kembali dipimpin untuk melihat Masjid Nabawi. Lalu diperlihatkan pula kepada ruh Aslina, makam Nabi Muhammad SAW. Dimakam tersebut batangan-batangan emas di dalam tepak ”husnul khatimah” itu mengeluarkan cahaya terang. Berikutnya ia melihat cahaya seperti matahari tapi agak kecil. Cahaya itu pun bicara kepada ruh Aslina.

“Tolong kau sampaikan kepada umat, untuk bersujud di hadapan Allah.”

Selanjutnya ruh Aslina menyaksikan miliaran manusia dari berbagai abad berkumpul di satu lapangan yang sangat luas. Ruh Aslina hanya berjarak sekitar lima meter dari kumpulan manusia itu.

Kumpulan manusia itu berkata. “Cepatlah kiamat, aku tak tahan lagi di sini Ya Allah.”

Manusia-manusia itu juga memohon. “Tolong kembalikan aku ke dunia, aku mau beramal.”

Begitulah di antara cerita Aslina terhadap apa yang dilihat ruhnya saat ia mati suri. Dalam kesaksiaannya ia senantiasa mengajak hadirin yang datang pada pertemuan alumni ESQ itu untuk bertaubat dan beramal shaleh serta tidak melanggar aturan Allah.

Setelah kesaksian Aslina, instruktur Pelatihan ESQ Legisan Sugimin yang telah mendapat lisensi dari Ary Ginanjar (pengarang buku sekaligus penemu metode Pelatihan ESQ) menjelaskan bahwa fenomena mati suri dan apa yang disaksikan oleh orang yang mati suri pernah diteliti ilmuan Barat.

Legisan mengemukakan pula, mungkin di antara alumni ESQ yang hadir pada Ahad (24/9) malam itu ada yang tidak percaya atau ragu terhadap kesaksian Aslina. Tapi yang jelas, lanjutnya, rata-rata orang yang mati suri merasakan dan melihat hal yang hampir sama.

“Apa yang disampaikan Aslina, mungkin bukti yang ditunjukkan Allah kepada kita semua,” ujarnya.

Legisan menjelaskan penelitian oleh Dr Raymond A Moody Jr tentang mati suri. Raymond mengemukakan orang mati suri itu dibawa masuk ke lorong waktu, di sana ia melihat rekaman seluruh apa yang telah ia lakukan selama hidupnya dan diakhir pengakuan orang mati suri itu berkata: “Dan aku ingin agar aku dapat kembali dan membatalkan semuanya.”

Menanggapi kesaksian Aslina yang melihat orang-orang berteriak ingin dikembalikan ke dunia dan ingin beramal serta penelitian Raymond yang menyebutkan, “aku ingin agar aku dapat kembali dan membatalkan semuanya,” Legisan mengutip ayat Al-Quran Surat Al-Mu’muninun (23) ayat 99-100:

Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata:’Ya, Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia).’(99). Agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan. (100).”

Sebagai penguat dalil agar manusia bertaubat, dikutipkan juga Quran Surat Az-Zumar ayat 39:

Dan kembalilah kamu kepada Tuhan-Mu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).

Usai pertemuan alumni itu, Aslina meminta nasehat dari Legisan. Intruktur ESQ itu menyarankan agar Aslina senatiasa berdakwah dan menyampaikan kesaksiaannya saat mati suri kepada masyarakat agar mereka bertaubat dan senantiasa mentaati perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Setelah acara, banyak di antara alumni yang bersimpati dan ingin membantu pengobatan sakit gondoknya. Para hadirinpun menyempat diri untuk berfoto bersama Aslina.

Semoga pembaca dapat mengambil pelajaran dari kesaksiaan tersebut.

ADITYA AGUS SETYAWAN said 
Wahai seluruh sahabatku yang beruntung dan berkesempatan membaca catatan ini, hendaklah kamu sehalian ingat akan kematianmu (sendiri). Mengetahui kematian adalah seseuatu yang sangat bijak dan sangat banyak faidahnya untuk mengetahui seberapa muliakah kita hidup di dunia ini. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam QS. As-Sajdah (11),’
Katakanlah: “Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa) mu akan mematikan kamu; kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan.”’ Jadi, janganlah bersombong diri di antara kalian, karena apa yang ada di dalam diri kita adalah pinjaman dari Allah. Kecantikanmu (begitupun ketampananmu) akan berubah menjadi sesuatu yang busuk dan kepandaianmu semata-mata hanyalah suatu nikmat yang sementara (dan akan hilang).”

Wassalaamu ‘alaikum Warrahmatullahi Wabbarakatuhu

Wallohu alam bishshawab

KISAH 7 PEMUDA ASHABUL KAHFI YANG DITIDURKAN ALLAH SELAMA 309 TAHUN DI DALAM GUA

 

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Kisah Ashabul Kahfi (أصحاب الكهف‎) merupakan suatu kisah benar mengenai 7 orang pemuda yang tertidur di dalam sebuah gua. Di dalam Al-Quran, dari ayat 9 hingga 26; Surah Al-Kahfi, diceritakan kisah beberapa orang pemuda beriman yang telah melarikan diri ke sebuah gua dan bagaimana Allah سبحانه وتعالى tidurkan mereka selama 309 tahun.

Jika difikir secara logik akal, maka kisah dan cerita tentangAshabul Kahfi termasuk suatu kejadian pelik, luar biasa dan menakjubkan. Tiada manusia yang dapat menjelaskan bagaimana ada orang yang boleh tidur sehingga ratusan tahun tanpa makan dan minum. Namun bagi orang yang beriman dan meyakini Allah سبحانه وتعالى bahawa tiada yang mustahil jika Allah سبحانه وتعالى mengkehendakinya demikian.

Allah سبحانه وتعالى berfirman;

أَمْ حَسِبْتَ أَنَّ أَصْحَابَ الْكَهْفِ وَالرَّقِيمِ كَانُوا مِنْ آيَاتِنَا عَجَبًا ﴿٩

“Adakah kamu menyangka (wahai Muhammad), bahawa kisah ‘Ashabul Kahfi’ (penghuni gua) dan ‘Ar-Raqiim’ termasuk antara tanda-tanda kekuasaan Kami yang menakjubkan?”(Surah Al-Kahfi; Ayat 9)

Dimanakah Terletaknya Gua Ashabul Kahfi

gua-ashabul-kahfi

Telah menjadi perdebatan daripada zaman berzaman mengenai gua dan tempat persembunyianAshabul Kahfi. Banyak tempat mendakwa dimana berlakunya kisah ini seperti di Gua di Jabal Qassiyyun, Syria dan Gua di Ephesus (Tarsus), Turki. Namun Gua Ashabul Kahfi (Kahf Ahlil Kahf)yang terletak di Abu Alanda, kira-kira 7 km dari pusat bandar Amman, Jordan, merupakan lokasi sejarah yang lebih menepati ciri-ciri yang dikisahkan di dalam Al-Quran.

Kawasan ini suatu ketika dahulu dikenali sebagai ‘Ar-Raqim’kerana terdapat kesan tapak arkeologi yang bernama Khirbet Ar-Raqim di kawasan tersebut. Perkataan ‘Ar-Raqim’ juga disebut di dalam Al-Quran dan Ahli Tafsir menafsirkan ‘Ar-Raqim’sebagai nama anjing dan ada menyatakannya sebagai batu bersurat.

Walau bagaimanapun, Allah سبحانه وتعالى tidak menunjuk dan menyatakan dengan jelas di mana tempat sebenar mereka bersembunyi. Sebab utamanya adalah kerana ia tidak memberi manfaat bagi umat Islam kerana Allah سبحانه وتعالى hanya mahu hamba-Nya mengambil iktibar kisah pejuangan tujuh pemuda mempertahankan akidah mereka.

Namun begitu berdasarkan ayat 17 surah al-Kahfi, dapat kita ketahui kedudukan sebenar pintu gua yang menjadi tempat persembunyian ketujuh-tujuh pemuda tersebut berada di sebelah utara. Firman Allah سبحانه وتعالى;

وَتَرَى الشَّمْسَ إِذَا طَلَعَت تَّزَاوَرُ عَن كَهْفِهِمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَإِذَا غَرَبَت تَّقْرِضُهُمْ ذَاتَ الشِّمَالِ وَهُمْ فِي فَجْوَةٍ مِّنْهُۚ ذَٰلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّـهِۗ مَن يَهْدِ اللَّـهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِۖ وَمَن يُضْلِلْ فَلَن تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُّرْشِدًا ﴿١٧

“Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong ke kanan dari gua mereka; dan apabila ia terbenam, meninggalkan mereka ke arah kiri, sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu. Yang demikian ialah dari tanda-tanda (yang membuktikan kekuasaan) Allah. Sesiapa yang diberi hidayah petunjuk oleh Allah, maka dia lah yang berjaya mencapai kebahagiaan; dan sesiapa yang disesatkanNya maka engkau tidak sekali-kali akan beroleh sebarang penolong yang dapat menunjukkan (jalan yang benar) kepadanya.” (Surah Al-Kahfi; Ayat 17)

Kisah Pembuktian

Ashabul Kahfi bukanlah kisah epik jenaka, dongeng atau suatu cerita rekaan manusia. Sejarah kejadian tersebut sebenarnya mempunyai hubungan erat dengan kegelisahan Nabi Muhammad. Yaitu semasa ditanya oleh beberapa orang Yahudi untuk membuktikannya bahawa Baginda memang seorang Nabi Utusan Allah سبحانه وتعالى.

Orang-orang Yahudi bertanya Rasulullah, “Wahai Muhammad! Tolong ceritakan kepada kami tentang kisah 7 pemuda yang rela mengasingkan diri untuk mempertahankan keyakinannya kepada Allahسبحانه وتعالى. Jika engkau sanggup menceritakan dengan benar, maka kami juga akan mengikuti ajaranmu dan menjadi sebahagian daripada orang Islam.”

Lalu Nabi Muhammad memohon pertolongan pada Allah سبحانه وتعالى dan selepas 15 hari kemudian baginda mendapat wahyu tentang penjelasan kisah Ashabul Kahfi atau cerita mengenai 7 pemuda yang ditanyakan oleh orang Yahudi tersebut. Penjelasan mengenai kisah Ashabul Kahfi ini terdpat pada Surah Kahfi mulai ayat 9 hingga 26, di dalam kitab suci Al-Quran.

Kisah Ashabul Kahfi

Sebagaimana yang telah dikisahkan turun-temurun. Pada asalnya penduduk sebuah negeri itu beriman kepada Allah سبحانه وتعالى dan beribadat mengEsakanNya. Namun keadaan berubah selepas kedatangan seorang raja bernama Diqyanus (Decius).

Raja kufur dari Rom ini, memerintah secara kejam dan kuku besi. Sesiapa yang menentang keinginan raja, maka samalah seperti ingin mengakhiri hidupnya lebih awal. Dia memaksa rakyat di bawah pemerintahannya supaya murtad dari agama Allah سبحانه وتعالى serta bertukar kepada agama kufur dan menyembah batu berhala yang dianutinya. Rakyat yang takut dengan ancaman dan seksaan raja tersebut terpaksa akur dengan arahan yang zalim itu.

Dalam pada itu terdapat sekumpulan pemuda beriman enggan tunduk dengan tekanan Raja Diqyanus yang kafir. Di tengah-tengah kekufuran raja, bangsa dan kaum mereka, kesemua tujuh pemuda tersebut secara sembunyi-sembunyi tetap beriman kepada Allah سبحانه وتعالى. Mereka teguh mempertahankan aqidah mereka walaupun menyedari nyawa dan diri mereka mungkin terancam dengan berbuat demikian.

Pengesahan keberimanan pemuda-pemuda ini dinyatakan oleh Allah سبحانه وتعالى dalam firmanNya;

نَّحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُم بِالْحَقِّۚ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى ﴿١٣

“Kami ceritakan kepadamu (wahai Muhammad) perihal mereka dengan benar; Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka hidayah petunjuk.”  (Surah Al-Kahfi; Ayat 13)

Kepercayaan dan keyakinan 7 pemuda ini terus bertahan sehingga kemudiannya sampai ke pengetahuan raja dan akhirnya mereka dipanggil mengadap Raja Diqyanus.

Di hadapan raja yang zalim itu, mereka dengan penuh berani dan bersemangat, petah berhujah mempertahankan iman dan prinsip aqidah yang mereka yakini. Pemuda-pemuda tersebut mengakui bahawa hanya ada satu Tuhan yang layak disembah dan diminta pertolongan. DIA-lah Allah سبحانه وتعالى yang Esa, Yang Maha Menguasai alam beserta isinya yang kekal abadi dan tidak akan ada sebarang kekurangan, DIA-lah tempat kita meminta pertolongan dalam susah atau senang, suka mahupun duka.

Allah سبحانه وتعالى berfirman dan menceritakan peristiwa mereka berhujjah;

وَرَبَطْنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ إِذْ قَامُوا فَقَالُوا رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَن نَّدْعُوَ مِن دُونِهِ إِلَـٰهًاۖ لَّقَدْ قُلْنَا إِذًا شَطَطًا ﴿١٤﴾ هَـٰؤُلَاءِ قَوْمُنَا اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ آلِهَةًۖ لَّوْلَا يَأْتُونَ عَلَيْهِم بِسُلْطَانٍ بَيِّنٍۖ فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّـهِ كَذِبًا ﴿١٥

“Dan Kami telah meneguhkan hati mereka sewaktu mereka berdiri (di hadapan raja) lalu mereka berkata (membentangkan dan menegaskan tauhid): “Tuhan kami adalah Tuhan (yang mencipta dan mentadbirkan) langit dan bumi; kami tidak sekali-kali akan menyembah Tuhan selain Dia, sesungguhnya jika kami menyembah yang lainnya bermakna kami memperkatakan dan mengakui sesuatu yang amat jauh dari kebenaran. Kaum kami ini telah menjadikan selain Dia sebagai tuhan-tuhan (untuk di sembah). Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka?) Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah سبحانه وتعالى?” (Surah Al-Kahfi; Ayat 14-15)

Raja Decius dan pengikut-pengikutnya terkejut dan gagal menjawabnya. Walaupun tidak mampu membalas hujah-hujah yang mantap dari pemuda-pemuda beriman tersebut, raja yang kufur dan zalim itu tetap berkeras mahu mereka murtad daripada agama mereka.

Raja Diqyanus menggunakan kekuasaan yang ada padanya untuk mengancam dan memaksa para pemuda meninggalkan agama mereka, jika dalam tempoh 2 hari para pemuda tersebut gagal membuat demikian dan tidak mahu mengubah keyakinan mereka dengan segera, maka mereka akan dimurtadkan secara paksa atau akan dijatuhi hukum mati.

Ramai ‘mufassirin’ (ahli tafsir) generasi salaf dan ‘khalaf’ (generasi awal Islam dan generasi yang terkemudiannya) yang menyebutkan, para pemuda tersebut terdiri daripada anak-anak raja Rom dan orang-orang terhormat mereka yang bersatu kerana iman. Mereka tidak takut dengan ancaman itu dan telah bertekad untuk saling bantu-membantu dan mempertahankan keimanan mereka hingga titisan darah terakhir. Bagi mereka lebih baik mati menggenggam iman daripada mengikuti jejak raja yang menyekutukan Allah سبحانه وتعالى.

Oleh kerana sayangkan aqidah dan agama mereka, pemuda-pemuda tersebut bermesyuarat sesama sendiri untuk mencari satu keputusan muktamad. Kumpulan pemuda itu akhirnya membuat kesepakatan untuk bersembunyi.

Allah سبحانه وتعالى berfirman;

وَإِذِ اعْتَزَلْتُمُوهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّـهَ فَأْوُوا إِلَى الْكَهْفِ يَنشُرْ لَكُمْ رَبُّكُم مِّن رَّحْمَتِهِ وَيُهَيِّئْ لَكُم مِّنْ أَمْرِكُم مِّرْفَقًا ﴿١٦

“Dan oleh kerana kamu telah mengasingkan diri dari mereka dan dari apa yang mereka sembah selain Allah سبحانه وتعالى, maka pergilah kamu berlindung di gua itu, supaya Tuhan kamu melimpahkan dari rahmat-Nya kepada kamu dan menyediakan kemudahan-kemudahan untuk menjayakan urusan kamu dengan memberi bantuan yang berguna.” (Surah Al-Kahfi; Ayat 16)

Akhirnya mereka memutuskan untuk lari bersembunyi dan berlindung ke suatu tempat tersorok di kawasan pendalaman. Berangkatlah mereka bertujuh ke kawasan pergunungan bernama Nikhayus. Di situ terdapat sebuah gua untuk dijadikannya tempat bersembunyi dan di pintu gua itulah mereka berdoa sebelum memasukinya.

Allah سبحانه وتعالى berfirman pada ayat 10, Surah Al-Kahfi;

إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا

“(Ingatkanlah peristiwa) ketika sekumpulan pemuda pergi ke gua, lalu mereka berdoa:

doa-ashabul-kahfi

Menurut para ulama’ Ashabul kahfi (penghuni gua) yang dimaksudkan dalam ayat di atas, terdiri daripada tujuh orang pemuda bernama;

  1. Tamlikha (تمليخا)
  2. Maksalmina (مكسلمينا)
  3. Marthunus (مرطونس)
  4. Nainunus (نينونس)
  5. Saryunus (ساريونس)
  6. Zunuwanus (ذونوانس)
  7. Falyastathyunus (فليستطيونس)

Dan semasa dalam perjalanan ke gua itu, ketujuh-tujuh mereka telah ditemani oleh seekor anjing bernama Qithmir (قطمير). Diriwayatkan juga bahawa Qitmir adalah anjing milik Tamlikha iaitu salah seorang daripada tujuh orang pemuda tersebut.

Anjing itu turut bersama-sama dengan mereka berlindung dan bersembunyi di dalam gua tersebut. Oleh kerana keletihan, ketujuh pemuda ini tertidur sementara si anjing berada di sekitar pintu gua.

Keesokan harinya raja memerintahkan agar segera membawa para pemuda untuk dihukum mati, tetapi arahan raja kejam ini menemui kegagalan kerana para pemuda telah menghilangkan diri dan sukar ditemui. Seluruh rakyat dikerahkan untuk mencari para pemuda yang dianggap menderhaka itu.

Pencarian

Pencarian pun bermula, mereka diburu oleh para pembantu setia raja. Mereka bukan sahaja diburu oleh tentera Rom bahkan turut diberi tekanan oleh penduduk tempatan yang berpegang kuat terhadap agama nenek moyang mereka. Sesiapa di kalangan mereka yang mampu mencari dan membawa pemuda-pemuda tersebut ke hadapan, raja telah berjanji untuk memberikan hadiah dan kenaikan pangkat.

Ada sekumpulan pencari dan pegawai kerajaan yang akhirnya menemui sebuah gua di kawasan pedalaman. Tetapi oleh kerana gua itu dianggap sangat menggerunkan, mereka takut untuk memasukinya.

Firman-Nya lagi;

وَكَلْبُهُم بَاسِطٌ ذِرَاعَيْهِ بِالْوَصِيدِۚ لَوِ اطَّلَعْتَ عَلَيْهِمْ لَوَلَّيْتَ مِنْهُمْ فِرَارًا وَلَمُلِئْتَ مِنْهُمْ رُعْبًا ﴿١٨

“…dan anjing mereka menghulurkan dua kaki depannya dekatpintu gua. Dan jika kamu melihat mereka, tentulah kamu akan berpaling melarikan (diri) dari mereka, dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi rasagerun takut kepada mereka.” (Surah Al-Kahfi; Ayat 18)

Demi menyenangkan hati raja, para pegawai kerajaan melaporkan bahawa mereka telah menyusuri semua tempat di negeri tersebut dan telah menutup sebuah gua dengan tujuan sekiranya para pemuda tersebut berada di dalam, maka mereka tidak akan boleh keluar dan akan mati kelaparan.

Itulah batas logik manusia yang mempunyai kuasa dan merasa paling hebat berbanding dengan yang lain, padahal kita semua mengetahui bahawa terdapat suatu kekuatan yang tidak mungkin boleh ditakluki oleh kuasa akal dan fikir manusia. Dialah Allah سبحانه وتعالى yang tak akan membiarkan orang-orang membuat kerosakan dan penderitaan kepada hamba-hamba yang dikasihi-Nya.

Jasad Terpelihara

Sementara itu di dalam gua, kesemua tujuh pemuda tersebut diberi ketenangan dan keselamatan oleh Allah سبحانه وتعالى. Mereka telah ditidurkan oleh Allah سبحانه وتعالى dengan nyenyaknya dalam gua tersebut untuk sekian lama.

Allah سبحانه وتعالى berfirman tentang mereka di dalam gua;

فَضَرَبْنَا عَلَىٰ آذَانِهِمْ فِي الْكَهْفِ سِنِينَ عَدَدًا ﴿١١

“Lalu Kami tidurkan mereka dengan nyenyaknya di dalam gua itu bertahun-tahun lamanya.” (Surah Al-Kahfi; Ayat 11)

Allah سبحانه وتعالى ingin menzahirkan bukti-bukti kekuasaanNya kepada hamba-hambaNya melalui peristiwa ini. Maka Allah سبحانه وتعالى telah mentakdirkan pemuda-pemuda ini tidur dalam jangka masa yang sangat lama iaitu selama 309 tahun: tiga ratus tahun (dengan kiraan ahli kitab / Tahun Masihi) dan tambah sembilan tahun lagi (dengan kiraan kamu / Tahun Hijrah).

Firman Allah سبحانه وتعالى;

وَلَبِثُوا فِي كَهْفِهِمْ ثَلَاثَ مِائَةٍ سِنِينَ وَازْدَادُوا تِسْعًا ﴿٢٥

“Dan mereka telah tinggal tidur dalam gua mereka selama tiga ratus tahun (dengan kiraan ahli Kitab), dan hendaklah kamu tambah sembilan tahun lagi (dengan kiraan kamu) (yakni menjadi 309 tahun).”(Surah Al-Kahfi; Ayat 25)

Walaupun mereka tidur amat lama dan tanpa makan dan minum, tetapi dengan kuasa Allah سبحانه وتعالى, badan dan jasad mereka tidak hancur atau rosak. Dengan kuasaNya juga, kedudukan gua tempat persembunyian ketujuh-tujuh pemuda yang berada di sebelah utara secara tidak langsung telah memelihara pencahayaan, pengudaraan dan kesegaran tubuh mereka sepanjang 3 abad itu.

Firman Allah سبحانه وتعالى;

وَتَرَى الشَّمْسَ إِذَا طَلَعَت تَّزَاوَرُ عَن كَهْفِهِمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَإِذَا غَرَبَت تَّقْرِضُهُمْ ذَاتَ الشِّمَالِ وَهُمْ فِي فَجْوَةٍ مِّنْهُۚ ذَٰلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّـهِۗ مَن يَهْدِ اللَّـهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِۖ وَمَن يُضْلِلْ فَلَن تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُّرْشِدًا ﴿١٧

“Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong ke kanan dari gua mereka; dan apabila ia terbenam, meninggalkan mereka ke arah kiri, sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu. Yang demikian ialah dari tanda-tanda (yang membuktikan kekuasaan) Allah. Sesiapa yang diberi hidayah petunjuk oleh Allah, maka dia lah yang berjaya mencapai kebahagiaan; dan sesiapa yang disesatkanNya maka engkau tidak sekali-kali akan beroleh sebarang penolong yang dapat menunjukkan (jalan yang benar) kepadanya.” (Surah Al-Kahfi; Ayat 17)

Allah سبحانه وتعالى sengaja memberi ilham kepada ketujuh-tujuh pemuda tersebut untuk menemui gua tersebut sedangkan mereka sendiri tidak mengetahui bahawa Allah سبحانه وتعالى telah menetapkan aturannya. Bahkan Allah سبحانه وتعالى menyatakan bahawa; jika kita lihat keadaan mereka di dalam gua itu, nescaya kita tidak akan percaya bahawa mereka sedang tidur. Maha Suci Allah Yang Maha Bijaksana.

Firman-Nya lagi;

وَتَحْسَبُهُمْ أَيْقَاظًا وَهُمْ رُقُودٌۚ وَنُقَلِّبُهُمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَذَاتَ الشِّمَالِۖ وَكَلْبُهُم بَاسِطٌ ذِرَاعَيْهِ بِالْوَصِيدِۚ لَوِ اطَّلَعْتَ عَلَيْهِمْ لَوَلَّيْتَ مِنْهُمْ فِرَارًا وَلَمُلِئْتَ مِنْهُمْ رُعْبًا ﴿١٨

“Dan engkau sangka mereka sedar padahal mereka tidur; dan Kami balik-balikkan mereka dalam tidurnya ke sebelah kanan dan ke sebelah kiri (supaya badan mereka tidak dimakan tanah), sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan (diri) dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi dengan ketakutan terhadap mereka.”(Surah Al-Kahfi; Ayat 18)

Kebangkitan

Masa terus berlalu, zaman pun telah berganti dari beberapa generasi. Kini kerajaan yang dahulu dipimpin oleh raja kejam dan musyrik telah berubah menjadi sebuah negeri yang maju dan bebas dalam menjalani keyakinan agama masing-masing.

Apabila sampai tempo yang ditetapkan Allah سبحانه وتعالى (300 + 9 tahun), mereka pun dibangunkan. Pemuda-pemuda tersebut telah terjaga kerana perut mereka terasa lapar, dan ketika bangun mereka saling bertanya tentang berapa lama mereka tertidur. Para pemuda menyangka mereka hanya tertidur dalam masa sehari atau separuh hari sahaja, tanpa menyedari bahawa mereka telah tidur dalam jangka masa yang amat lama di dalam gua.

Firman Allah سبحانه وتعالى;

قَالَ قَآئِلٌ مِّنْهُمْ كَمْ لَبِثْتُمْ ۖ قَالُوا۟ لَبِثْنَا يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ ۚ

“Berkatalah salah seorang di antara mereka: “Sudah berapa lamakah kamu berada (di sini?)”. Mereka menjawab: “Kita berada (di sini) sehari atau setengah hari….. (Surah Al-Kahfi; Ayat 19)

Atas rasa lapar itu, lalu sebahagian daripada mereka mencadangkan agar dihantar seorang wakil untuk ke bandar bagi mencari sesuatu untuk di makanan. Akhirnya mereka memilih pemuda bernama Tamlikha untuk ke kota Afsus. Kebetulan semasa mereka melarikan diri dulu mereka membawa bersama bekalan wang perak.

Firman Allah سبحانه وتعالى menceritakan cadangan sebahagian dari mereka itu;

وَكَذَٰلِكَ بَعَثْنَاهُمْ لِيَتَسَاءَلُوا بَيْنَهُمْۚ قَالَ قَائِلٌ مِّنْهُمْ كَمْ لَبِثْتُمْۖ قَالُوا لَبِثْنَا يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍۚ قَالُوا رَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثْتُمْ فَابْعَثُوا أَحَدَكُم بِوَرِقِكُمْ هَـٰذِهِ إِلَى الْمَدِينَةِ فَلْيَنظُرْ أَيُّهَا أَزْكَىٰ طَعَامًا فَلْيَأْتِكُم بِرِزْقٍ مِّنْهُ وَلْيَتَلَطَّفْ وَلَا يُشْعِرَنَّ بِكُمْ أَحَدًا ﴿١٩﴾ إِنَّهُمْ إِن يَظْهَرُوا عَلَيْكُمْ يَرْجُمُوكُمْ أَوْ يُعِيدُوكُمْ فِي مِلَّتِهِمْ وَلَن تُفْلِحُوا إِذًا أَبَدًا ﴿٢٠

“Maka suruhlah salah seorang di antara kamu pergi ke kota dengan membawa wang perak kamu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang paling baik (yakni yang bersih dan halal), maka hendaklah dia membawa makanan itu untuk kamu, dan hendaklah dia berlaku lemah lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan hal kamu kepada seseorangpun. Sesungguhnya jika mereka dapat mengetahui tempatmu, nescaya mereka akan melempar kamu dengan batu, atau memaksamu kembali kepada agama mereka, dan jika demikian nescaya kamu tidak akan beruntung selama-lamanya.”(Surah Al-Kahfi; Ayat 19-20)

Lihatlah betapa bersihnya hati dan akhlak mereka. Walaupun dalam keadaan yang cemas dan sukar serta kelaparan, mereka masih berpesan kepada sahabat mereka yang ditugaskan ke kota mencari makanan itu supaya mencari dan memilih makanan yang bersih lagi halal. Ini menandakan bahawa mereka adalah pemuda-pemuda yang bertakwa kepada Allah سبحانه وتعالى.

Walaupun Allah سبحانه وتعالى menyatakan dalam ayat di atas bahawa para pemuda tadi amat berhati-hati dan berjaga-jaga agar jangan diketahui orang lain kerana mereka menyangka raja yang memerintah negeri masih lagi raja kafir yang dahulu, namun Allah سبحانه وتعالى telah mentakdirkan supaya berita tentang mereka diketahui oleh hamba-hambaNya yang lain bagi menunjukkan akan keagungan kekuasaan dan kehebatan-Nya.

Semasa pemuda-pemuda Ashabul Kahfi itu dibangkitkan Allah سبحانه وتعالى selepas tidur selama 309 tahun, suasana negeri telah banyak berubah. Kebetulan Raja dan pemerintah negeri merupakan orang yang beriman kepada Allah سبحانه وتعالى, begitu juga dengan kebanyakan rakyatnya.

Namun masih terdapat segelintir rakyat dalam negeri itu yang masih ragu-ragu dan mempertikaikan tentang kebenaran kiamat; mereka masih ragu-ragu bagaimana Allah سبحانه وتعالى boleh menghidupkan orang yang telah mati? Apatah lagi yang telah beribu malah berjuta tahun lamanya dimakan tanah. Maka bertepatanlah masanya Allah سبحانه وتعالى membangkitkan Ashabul Kahfi pada zaman tersebut dan menzahirkan kekuasaanNya kepada hamba-hambaNya yang masih lagi ragu-ragu.

Firman Allah سبحانه وتعالى;

وَكَذَٰلِكَ أَعْثَرْنَا عَلَيْهِمْ لِيَعْلَمُوا أَنَّ وَعْدَ اللَّـهِ حَقٌّ وَأَنَّ السَّاعَةَ لَا رَيْبَ فِيهَا إِذْ يَتَنَازَعُونَ بَيْنَهُمْ أَمْرَهُمْ

“Dan demikianlah Kami dedahkan hal mereka kepada orang ramai supaya mereka mengetahui bahawa janji Allah سبحانه وتعالى menghidupkan orang mati adalah benar, dan bahawa kedatangan hari kiamat tidak ada keraguan padanya.” (Surah Al-Kahfi; Ayat 21)

Pendedahan ini berlaku semasa orang ramai bertelagah sesama sendiri mengenai perkara hidupnya semula orang mati. Allah سبحانه وتعالى telah mendedahkan perihal pemuda-pemuda Ashabul Kahfi semasa wakil mereka itu datang ke kota hendak membeli makanan.

Pemuda yang keluar menuju ke pasar mencari makanan. Dengan perasaan khuatir dan takut, akhirnya sampai ke kota. Dia berasa hairan melihat keadaan kota tersebut dan penduduknya yang berubah sama sekali, tidak seperti ketika ditinggalkan dahulu.

Dalam terpinga-pinga itu, akhirnya sampai juga dia ke pasar dan menemui salah seorang penjaja makanan. Namun penjual hairan dan pelik dengan wang yang digunakan oleh pemuda ini. Penduduk kota yang telah kehairanan melihat keadaan dia dan mereka semakin syak apabila melihat wang perak yang dibawanya ialah wang yang sudah berzaman tidak digunakan lagi.

Dia telah disyaki menjumpai harta karun lalu dipanggil penguasa pasar yang sangat bijak. Dalam perbualannya, maka terbuktilah kepada orang ramai bahawa pemuda itu adalah pemuda yang lari dari kepungan raja pada tiga abad yang silam. Mereka mengetahui akan peristiwa itu, daripada cerita yang masyhur dan telah disedia maklum oleh orang ramai. Larinya pemuda-pemuda itu kerana tidak rela menjual agama mereka kepada raja yang zalim dan memaksa mereka untuk menyembah batu.

Lalu salah seorang di antara mereka berkata kepada pemuda tersebut: “Janganlah kamu khuatir kepada raja ganas yang kamu katakan tadi. Raja itu sudah mati 300 tahun yang lalu. Raja yang memerintah sekarang ini adalah seorang raja mukmin yangsoleh juga baik hati. Raja kami yang sekarang ini orangnya beriman seperti mana yang kamu imani.”

Barulah pemuda itu sedar dan insaf akan apa yang sebenarnya sudah terjadi. Dengan ketenangan yang amat jelas serta dengan alasan dan bukti-bukti yang cukup terang, maka terbuktilah bahawa mereka berada dalam gua bukan semalam atau setengah hari tetapi sudah tiga abad lamanya.

Orang ramai kemudiannya membawa pemuda tersebut mengadap raja beriman yang mengambil berat hal agama itu. Betapa terkejutnya raja ketika pemuda menceritakan siapa dia sebenarnya, raja memeluk pemuda dengan juraian air mata yang tak terhingga. Seketika suasana istana menjadi sangat hening dan terharu oleh kehadiran pemuda yang luar biasa tersebut.

Raja yang soleh ini kemudian menjelaskan kepada pemuda itu bahawa raja kejam Diqyanus telah mati 309 tahun yang lalu. Selepas mendengar kisah menakjubkan itu, raja lalu mengajak para pembesarnya dan semua orang yang hadir berangkat ke Gua Ashabul Kahfi bersama wakil pemuda itu, untuk menjemput dan bertemu dengan kesemua pemuda tersebut, apalagi mereka sedang menunggu dengan kelaparan dalam gua, di samping ingin mengetahui keadaan di gua dan untuk mendengar kisah sebenar mereka.

Setelah mereka keluar dari gua itu, mereka disambut raja dan penduduk negeri. Raja membawa mereka ke dalam istana dan diberinya tempat di istana yang indah itu. Tidak lama kemudian walaupun raja berkali-kali meminta agar para pemuda ini tetap tinggal di istana, tapi kumpulan pemuda tersebut menolak dengan baik dan tetap memilih untuk kembali ke gua semula.

Para pemuda tadi lalu berkata kepada raja: “Kami ini sudah tidak mengharap hidup yang lebih panjang lagi kerana kami sudah melepasi beberapa keturunan dan kesemuanya telah meninggal dunia, malah negeri dan binaan besar yang dahulu pun sudah runtuh semuanya; yang kami lihat sekarang ini adalah serba baru. Kami pun puas hati melihat raja dan penduduk yang hidup di negeri ini sudah sama-sama beriman kepada Allah سبحانه وتعالى.”

Di hadapan orang ramai, para pemuda ini menyarankan supaya mereka hendaklah sentiasa beriman kepada Allah سبحانه وتعالى, jangan sesekali tunduk kepada sesiapa yang mengajak pada jalan kesesatan dan kemusyrikan.

Tidak lama kemudian selepas mereka memberi ucapan selamat tinggal kepada raja dan rakyatnya yang beriman itu. Para pemuda lalu sama-sama bersujud dan berdoa ke hadhrat Allah سبحانه وتعالى agar menurunkan rahmatNya dan agar Allah سبحانه وتعالى mengizinkan mereka pulang ke rahmatullah. Sejurus selepas mengucapkan doa itu mereka merebahkan badan di tempat pembaringan lalu menghembuskan nafas mereka yang terakhir dengan tenang dan tenteram. Termaklumlah bahawa Allah سبحانه وتعالى telah mengambil roh pemuda-pemuda itu dan kembali kepadaNya untuk selama-lamanya.

Keadaan dan kejadian itu, menjadi asas yang amat kuat bagi mereka untuk tetap beriman dan tunduk kepada Allah سبحانه وتعالى, Tuhan yang Maha Kuasa. Mereka makin percaya bahawa janji Allah سبحانه وتعالى itu benar belaka dan Hari Qiamat serta akhirat itupun benar semuanya.

Sepeninggalan para pemuda itu, orang ramai lalu berbincang bagaimana cara untuk memberi penghormatan sewajarnya agar mereka sentiasa dapat memperingati pemuda-pemuda suci itu. Ada yang mencadangkan supaya didirikan sebuah bangunan atau tugu sebagai kenangan. Manakala Raja mencadangkan agar sebuah masjid (rumah ibadat) dibinakan di sisi gua itu supaya dari dalam masjid itu orang ramai dapat sama-sama menyembah dan membesarkan nama Allah dan sentiasa insaf akan kebesaran Allah سبحانه وتعالى.

Hal ini diceritakan Allah سبحانه وتعالى dengan firman-Nya;

فَقَالُوا ابْنُوا عَلَيْهِم بُنْيَانًاۖ رَّبُّهُمْ أَعْلَمُ بِهِمْۚ قَالَ الَّذِينَ غَلَبُوا عَلَىٰ أَمْرِهِمْ لَنَتَّخِذَنَّ عَلَيْهِم مَّسْجِدًا ﴿٢١

“Setelah itu maka (sebahagian dari mereka) berkata: “Dirikanlah sebuah bangunan di sisi (gua) mereka, Allah سبحانه وتعالى jualah yang mengetahui akan hal ehwal mereka”. Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka (pihak raja) pula berkata: “Sesungguhnya kami hendak membina sebuah masjid di sisi gua mereka.” (Surah Al-Kahfi; Ayat 21)

cropped-masjid-panorama-armenian_monastery_of_saint_thaddeus

Penutup

Allah سبحانه وتعالى menerangkan kisah Ashab al-Kahfi ini bukanlah sesuatu yang ganjil dan menghairankan jika dibandingkan dengan ayat-ayat lain. Banyak lagi kejadian lain seumpamanya yang menunjukkan kekuasaan Allah سبحانه وتعالى, Yang Maha Kuasa mengatur alam menurut kehendak-Nya tanpa ada yang mampu menandinginya seperti penciptaan langit dan bumi serta segala yang ada di alam ini lebih mengagumkan lagi.

Seperti dikatakan Prof. Hamka; Maksud ayat al-Kahfi ini adalah apakah engkau menyangka atau manusia menyangka bahawa manusia yang dicipta Allah tertidur beratus tahun di dalam gua yang sunyi terpencil itu sudah sebahagian daripada kuasa Allah سبحانه وتعالى? Padahal banyak lagi takdir Allah سبحانه وتعالى di dalam alam ini yang lebih menakjubkan dan lebih ganjil.

Pada hakikatnya, kisah yang penuh pengajaran ini masih belum cukup untuk menarik perhatian umum. Justeru marilah kita melakukan amal kebaikan dan menjadikan kehidupan sebagai suatu cita-cita luhur bagi meraih kebaikan dunia atau akhirat. Insya‘Allah.

والله أعلم بالصواب

سبحانه وتعالىu

Wallah A’lam Bish Shawab
سبحانه وتعالى

(Hanya Allah Maha Mengetahui apa yang benar)

 

@kaefota

DIALOG SUNAN KALIJAGA DENGAN PRABU BRAWIJAYA

 

Ketika genderang perang sudah ditabuh oleh Prabu Girindrawardhana Raja Kediri untuk kesekian kalinya ke Kutaraja Trowulan, hati Sang Prabu Brawijaya V menjadi luluh.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

‘Perang hidup-mati’ antara pasukan Kediri degan Majapahit yang identik dengan Perang Bratayudha Jayabinangun pun pecah di daerah Jingga, dekat Kutara Trowulan. Karena banyak para adipati atau tumenggung yang mbelot dan bergabung dengan Prabu Girindrawardhana, tak ayal prajurit Majapahit pun keteteran menghadapi prajurit Kediri, sedang sebagian yang lain meregang nyawa.

Ya…, Istana Majapahit telah tumbang! Peristiwa itu ditandai dengan candrasengakala;

“Sirna Ilang Kertaning bhumi” yang mengisyaratkan tahun 1400 saka atau 1478 M.

“Sudahlah Putraku!” demikian kata Prabu Brawijaya V kepada Raden Patah, “soal keyakinan janganlah dipaksa-paksakan! Silahkan kalian menjadi seorang Muslim yang baik, tetapi biarlah Ramandamu ini tetap menjadi penganut Budha.”

sunan-kalijaga-dengan-prabu-brawijaya-berdialog2

Pasca lengser keprabon dari tahtanya, Prabu Brawijaya V mengajak dua orang abdi kinasihnya Sabda Palon dan Naya Genggong pergi ke Gunung Lawu di kawasan Argo Lawu untuk menggapai kasampurnan atau moksa dengan menjalani dharma, yakni bersemadi atau tapa brata.

Dalam perjalanan Prabu Brawijaya, Raden Said (Sunan Kalijaga) menyusul Prabu BrawijayaV. terjadilah pertemuan di Blambangan, dimana Raden Said menghentikan niat Prabu Brawijaya V meminta bantuan dari kerajaan di Bali.

sunan-kalijaga-dengan-prabu-brawijaya-berdialog

Dialog Sunan Kalijogo dengan Prabu Browijoyo

Sunan Kalijaga berkata, “Namun lebih baik jika Paduka berkenan berganti syariat rasul, dan mengucapkan asma Allah. Akan tetapi jika Paduka tidak berkenan itu tidak masalah. Toh hanya soal agama. Pedoman orang Islam itu syahadat, meskipun salat dingklak-dingkluk jika belum paham syahadat itu juga tetap kafir namanya.”

Sang Prabu berkata, “Syahadat itu seperti apa, aku koq belum tahu, coba ucapkan biar aku dengarkan “

Sunan Kalijaga kemudian mengucapkan syahadat,

asyhadu ala ilaha ilallah, wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah, artinya aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan bersaksi bahwa Kanjeng Nabi Muhammad itu utusan Allah.

Sunan Kalijaga memberikan wejangan sampai Prabu Brawijaya berkenan pindah Islam, setelah itu minta potong rambut kepada Sunan Kalijaga, akan tetapi rambutnya tidak mempan digunting. Sunan Kalijaga lantas berkata, Sang Prabu dimohon Islam lahir batin, karena apabila hanya lahir saja, rambutnya tidak mempan digunting. Sang Prabu kemudian berkata kalau sudah lahir batin, maka rambutnya bisa dipotong.

Sang Prabu setelah potong rambut kemudian berkata kepada Sabdapalon dan Nayagenggong, “Kamu berdua kuberitahu mulai hari ini aku meninggalkan agama Buddha dan memeluk agama Islam. Aku sudah menyebut nama Allah yang sejati. Kalau kalian mau, kalian berdua kuajak pindah agama rasul dan meninggalkan agama Buddha.”

@kaefota

SEDEKAH TERBAIK KEPADA KELUARGA DEKAT

sedekah-terbaik-kepada-keluarga-dekat

Sedekah merupakan amalan yang mulia dan memiliki keutamaan yang besar sehingga Allah memasukkannya sebagai salah satu 7 (tujuh) golongan yang mendapat naungan di hari kiamat sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadist :

“Seseorang yang bershadaqah dengan satu shadaqah lalu ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfaqkan tangan kanannya”

Kemudian sabda Baginda Nabi saw :

Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah Yaitu orang yang memberi lebih baik daripada orang yang menerima, karena pemberi berada di atas penerima, maka tangan dialah yang lebih tinggi.

Namun Rasulullah saw menyuruh umatnya untuk memulai pemberian nafkah dari keluarga. Ada baiknya, kita mengutamakan mereka terlebih dulu untuk mengurangi kesulitannya.

Baginda Rasulullah saw bersabda :

“Satu dinar yang engkau infaqkan di jalan ALLAH.. satu dinar yang engkau infakkan untuk memerdekakan seorang hamba (budak)… satu dinar yang engkau infakkan untuk orang miskin… dan satu dinar yang engkau infakkan untuk keluargamu… maka yang lebih besar ganjarannya ialah satu dinar yang engkau infakkan untuk keluargamu…”

 

Kemudian Sabda Baginda Nabi saw :

“Dan sebaik-sebaik sedekah adalah yang dikeluarkan dari orang yang tidak membutuhkannya. Artinya sedekah terbaik yang diberikan kepada sanak keluarga, fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan adalah sedekah yang berasal dari kelebihan harta setelah keperluan terpenuhi. Artinya, setelah dia memenuhi keperluan keluarganya secara wajar, baru kemudian kelebihannya disedekahkan kepada fakir miskin.”

Hadits yang serupa dengan pembahasan ini yaitu hadits yang diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri ra, Baginda Rasulullah saw bersabda :

“Apa saja kebaikan yang aku punya, aku tidak akan menyembunyikannya dari kalian. Barangsiapa menjaga kehormatan dirinya dari kejelekan, maka ALLAH akan menjaganya. Barangsiapa merasa cukup (dengan karunia ALLAH) maka ALLAH akan mencukupinya. Barangsiapa melatih diri untuk bersabar, maka ALLAH akan menjadikannya sabar. Dan tidaklah seseorang diberi sebuah pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada anugerah kesabaran.”

 

Semoga kita menjadi hamba Allah yang gemar bersedekah agar mendapat keberkahan hidup dunia dan kahirat, aamiiin.

Wallohu a’lam bishshawab

@kaefota

SEJARAH KERIS JAWA

 

Keris adalah senjata tikam khas Indonesia. Berdasarkan dokumen-dokumen purbakala, keris dalam bentuk awal telah digunakan sejak abad ke-9. Kuat kemungkinannya bahwa keris telah digunakan sebelum masa tersebut. Mantan Menteri Kebudyaan Indonesia, Jero Wacik telah membawa keris ke UNESCO dan meminta jaminan bahwa ini adalah warisan budaya Indonesia.

Penggunaan keris sendiri tersebar di masyarakat rumpun Melayu. Pada masa sekarang, keris umum dikenal di daerah Indonesia (terutama di daerah Jawa, Madura, Bali/Lombok, Sumatra, sebagian Kalimantan, serta sebagian Sulawesi), Malaysia, Brunei, Thailand, dan Filipina (khususnya di daerah Mindanao). Di Mindanao, bentuk senjata yang juga disebut keris tidak banyak memiliki kemiripan meskipun juga merupakan senjata tikam.

Keris memiliki berbagai macam bentuk, misalnya ada yang bilahnya berkelok-kelok (selalu berbilang ganjil) dan ada pula yang berbilah lurus. Orang Jawa menganggap perbedaan bentuk ini memiliki efek esoteri yang berbeda.

Selain digunakan sebagai senjata, keris juga sering dianggap memiliki kekuatan supranatural. Senjata ini sering disebut-sebut dalam berbagai legenda tradisional, seperti keris Mpu Gandring dalam legenda Ken Arok dan Ken Dedes.

Tata cara penggunaan keris berbeda-beda di masing-masing daerah. Di daerah Jawa dan Sunda misalnya, keris ditempatkan di pinggang bagian belakang pada masa damai tetapi ditempatkan di depan pada masa perang. Sementara itu, di Sumatra, Kalimantan, Malaysia, Brunei dan Filipina, keris ditempatkan di depan.

Selain keris, masih terdapat sejumlah senjata tikam lain di wilayah Nusantara, seperti rencong dari Aceh, badik dari Sulawesi serta kujang dari Jawa Barat. Keris dibedakan dari senjata tikam lain terutama dari bilahnya. Bilah keris tidak dibuat dari logam tunggal yang dicor tetapi merupakan campuran berbagai logam yang berlapis-lapis. Akibat teknik pembuatan ini, keris memiliki kekhasan berupa pamor pada bilahnya.

sejarah-keris-jawa

Bagian-bagian keris

Beberapa istilah di bagian ini diambil dari tradisi Jawa, semata karena rujukan yang tersedia. Sebagian ahli tosan aji mengelompokkan keris sebagai senjata tikam, sehingga bagian utama dari sebilah keris adalah wilah (bilah) atau bahasa awamnya adalah seperti mata pisau. Tetapi karena keris mempunyai kelengkapan lainnya, yaitu warangka (sarung) dan bagian pegangan keris atau ukiran, maka kesatuan terhadap seluruh kelengkapannya disebut keris.

Pegangan keris atau hulu keris

Pegangan keris (bahasa Jawa: gaman) ini bermacam-macam motifnya, untuk keris Bali ada yang bentuknya menyerupai patung dewa, patung pedande, patung raksaka, patung penari, pertapa, hutan, dan ada yang diukir dengan kinatah emas dan batu mulia.

Pegangan keris Sulawesi menggambarkan burung laut. Hal itu sebagai perlambang terhadap sebagian profesi masyarakat Sulawesi yang merupakan pelaut, sedangkan burung adalah lambang dunia atas keselamatan. Seperti juga motif kepala burung yang digunakan pada keris Riau Lingga, dan untuk daerah-daerah lainnya sebagai pusat pengembangan tosan aji seperti Aceh, Bangkinang (Riau), Palembang, Sambas, Kutai, Bugis, Luwu, Jawa, Madura dan Sulu, keris mempunyai ukiran dan perlambang yang berbeda. Selain itu, materi yang dipergunakan pun berasal dari aneka bahan seperti gading, tulang, logam, dan yang paling banyak yaitu kayu.

Untuk pegangan keris Jawa, secara garis besar terdiri dari sirah wingking ( kepala bagian belakang ), jiling, cigir, cetek, bathuk (kepala bagian depan),weteng dan bungkul.

• Warangka atau sarung keris

Warangka, atau sarung keris (bahasa Banjar : kumpang), adalah komponen keris yang mempunyai fungsi tertentu, khususnya dalam kehidupan sosial masyarakat Jawa, paling tidak karena bagian inilah yang terlihat secara langsung. Warangka yang mula-mula dibuat dari kayu (yang umum adalah jati, cendana, timoho, dan kemuning). Sejalan dengan perkembangan zaman terjadi penambahan fungsi wrangka sebagai pencerminan status sosial bagi penggunanya. Bagian atasnya atau ladrang-gayaman sering diganti dengan gading.

Secara garis besar terdapat dua bentuk warangka, yaitu jenis warangka ladrang yang terdiri dari bagian-bagian : angkup, lata, janggut, gandek, godong (berbentuk seperti daun), gandar, ri serta cangkring. Dan jenis lainnya adalah jenis wrangka gayaman (gandon) yang bagian-bagiannya hampir sama dengan wrangka ladrang tetapi tidak terdapat angkup, godong, dan gandek.

Aturan pemakaian bentuk wrangka ini sudah ditentukan, walaupun tidak mutlak. Wrangka ladrang dipakai untuk upacara resmi, misalkan menghadap raja, acara resmi keraton lainnya (penobatan, pengangkatan pejabat kerajaan, perkawinan, dll) dengan maksud penghormatan. Tata cara penggunaannya adalah dengan menyelipkan gandar keris di lipatan sabuk (stagen) pada pinggang bagian belakang (termasuk sebagai pertimbangan untuk keselamatan raja ). Sedangkan wrangka gayaman dipakai untuk keperluan harian, dan keris ditempatkan pada bagian depan (dekat pinggang) ataupun di belakang (pinggang belakang).

Dalam perang, yang digunakan adalah keris wrangka gayaman, pertimbangannya adalah dari sisi praktis dan ringkas, karena wrangka gayaman lebih memungkinkan cepat dan mudah bergerak, karena bentuknya lebih sederhana.

Ladrang dan gayaman merupakan pola-bentuk wrangka, dan bagian utama menurut fungsi wrangka adalah bagian bawah yang berbentuk panjang ( sepanjang wilah keris ) yang disebut gandar atau antupan ,maka fungsi gandar adalah untuk membungkus wilah (bilah) dan biasanya terbuat dari kayu ( dipertimbangkan untuk tidak merusak wilah yang berbahan logam campuran ).

Karena fungsi gandar untuk membungkus, sehingga fungsi keindahannya tidak diutamakan, maka untuk memperindahnya akan dilapisi seperti selongsong-silinder yang disebut pendok. Bagian pendok ( lapisan selongsong ) inilah yang biasanya diukir sangat indah, dibuat dari logam kuningan, suasa ( campuran tembaga emas ), perak, emas. Untuk daerah diluar Jawa ( kalangan raja-raja Bugis, Goa, Palembang, Riau, Bali ) pendoknya terbuat dari emas, disertai dengan tambahan hiasan seperti sulaman tali dari emas dan bunga yang bertaburkan intan berlian.

Untuk keris Jawa, menurut bentuknya pendok ada tiga macam, yaitu (1) pendok bunton berbentuk selongsong pipih tanpa belahan pada sisinya, (2) pendok blewah (blengah) terbelah memanjang sampai pada salah satu ujungnya sehingga bagian gandar akan terlihat, serta (3) pendok topengan yang belahannya hanya terletak di tengah. Apabila dilihat dari hiasannya, pendok ada dua macam yaitu pendok berukir dan pendok polos (tanpa ukiran).

• Wilah

Wilah atau wilahan adalah bagian utama dari sebuah keris, dan juga terdiri dari bagian-bagian tertentu yang tidak sama untuk setiap wilahan, yang biasanya disebut dapur, atau penamaan ragam bentuk pada wilah-bilah (ada puluhan bentuk dapur). Sebagai contoh, bisa disebutkan dapur jangkung mayang, jaka lola, pinarak, jamang murub, bungkul, kebo tedan, pudak sitegal, dll.

Pada pangkal wilahan terdapat pesi, yang merupakan ujung bawah sebilah keris atau tangkai keris. Bagian inilah yang masuk ke pegangan keris ( ukiran). Pesi ini panjangnya antara 5 cm sampai 7 cm, dengan penampang sekitar 5 mm sampai 10 mm, bentuknya bulat panjang seperti pensil. Di daerah Jawa Timur disebut paksi, di Riau disebut puting, sedangkan untuk daerah Serawak, Brunei dan Malaysia disebut punting.

Pada pangkal (dasar keris) atau bagian bawah dari sebilah keris disebut ganja (untuk daerah semenanjung Melayu menyebutnya aring). Di tengahnya terdapat lubang pesi (bulat) persis untuk memasukkan pesi, sehingga bagian wilah dan ganja tidak terpisahkan. Pengamat budaya tosan aji mengatakan bahwa kesatuan itu melambangkan kesatuan lingga dan yoni, dimana ganja mewakili lambang yoni sedangkan pesi melambangkan lingganya. Ganja ini sepintas berbentuk cecak, bagian depannya disebut sirah cecak, bagian lehernya disebut gulu meled, bagian perut disebut wetengan dan ekornya disebut sebit ron. Ragam bentuk ganja ada bermacam-macam, wilut, dungkul, kelap lintah dan sebit rontal.

Luk, adalah bagian yang berkelok dari wilah-bilah keris, dan dilihat dari bentuknya keris dapat dibagi dua golongan besar, yaitu keris yang lurus dan keris yang bilahnya berkelok-kelok atau luk. Salah satu cara sederhana menghitung luk pada bilah, dimulai dari pangkal keris ke arah ujung keris, dihitung dari sisi cembung dan dilakukan pada kedua sisi seberang-menyeberang (kanan-kiri), maka bilangan terakhir adalah banyaknya luk pada wilah-bilah dan jumlahnya selalu gasal ( ganjil) dan tidak pernah genap, dan yang terkecil adalah luk tiga (3) dan terbanyak adalah luk tiga belas (13). Jika ada keris yang jumlah luk nya lebih dari tiga belas, biasanya disebut keris kalawija, atau keris tidak lazim.

Tangguh keris

Di bidang perkerisan dikenal pengelompokan yang disebut tangguh yang dapat berarti periode pembuatan atau gaya pembuatan. Hal ini serupa dengan misalnya dengan tari Jawa gaya Yogyakarta dan Surakarta. Pemahaman akan tangguh akan membantu mengenali ciri-ciri fisik suatu keris.

Beberapa tangguh yang biasa dikenal:

• tangguh Majapahit

• tangguh Pajajaran

• tangguh Mataram

• tangguh Yogyakarta

• tangguh Surakarta.

@kaefota
%d blogger menyukai ini: