KEMBALILAH KE TUGAS UTAMAMU

 

Mari kembali ke tugas kita, ilmu, amal dan dakwah. Mari kita menghargai waktu kita, kembali membenahi hubungan kita dengan Allah saat fitnah seperti ini.

012517-kembalilah-ke-tugas-utamamu

Akhir-akhir ini, banyak orang bahkan penuntut ilmu dan ustadz tersedot waktu, energi dan pikiran untuk mengikuti berita perkembangan politik praktis negeri ini yang semakin carut marut.

Beberapa penuntut ilmu bahkan ustadz mendadak berubah profesi dari pendakwah menjadi pengamat politik bahkan politikus yang mengulas dan menganalisa peta politik sehingga tersibukkan dari tugas mulia yang inti.

Lebih parah lagi, para awam yang tidak mengerti thaharah (bersuci) dan shalat pun berani berbicara masalah besar tanpa kontrol dan kendali seakan ulama kibar dan Mufti.

Manhaj salaf yang saya kenal sejak dulu adalah menyibukkan diri dengan ilmu, amal dan dakwah, bukan dengan politik praktis zaman ini yang penuh dengan noda-noda yang bertentangan dengan syariat Islam yang mulia.

Dahulu Syaikh Albani berkata:

من السياية اليوم ترك السياية

“Termasuk politik syar’i zaman ini adalah meninggalkan politik praktis”.

Sebuah nasehat dan ucapan yang sangat indah. Dan lebih indah lagi jika kita mengamalkannya, lebih-lebih dalam situasi hiruk-pikuk politik yang melelahkan saat ini.

Mari kembali ke tugas kita, ilmu, amal dan dakwah. Mari kita menghargai waktu kita, kembali membenahi hubungan kita dengan Allah saat fitnah seperti ini. Bukankah Nabi  Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

العبادة في الهرج كهجرة إلي

Ibadah saat kacau pahalanya sepertinya hijrah padaku” (HR. Muslim no. 2948).

Mungkin Anda bertanya-tanya, kenapa bisa begitu? Karena saat situasi kacau, biasanya banyak orang lalai dari ibadah kepada Allah.

Bukan berarti kita tidak memikirkan masalah negeri, tetapi kita punya cara tersendiri untuk menghadapinya berdasarkan tuntunan illahi, yaitu dengan menyibukkan diri dengan ibadah.

Kalaupun berbicara tentang politik, biarlah hal itu kita serahkan kepada orang-orang yang ahli di bidangnya dari ulama dan umara’ tanpa menyibukkan umat dan memprovokasi menuju anarkisme, demonstrasi dan pertumpahan darah.

Mari bersikap tenang, jangan sibukkan diri kita dengan politik praktis.

Wahai para penuntut ilmu dan para ustadz, tolong ajarkanlah kami kembali kepada ilmu yang bermanfaat, gandenglah tangan kami menuju surga, jangan sibukkan kami terlibat dan terjun dalam dunia politik praktis yang kotor.

Semoga Allah memperbaiki keadaan negeri ini.

Barakallah

@kaefota

SUAMI TERINGAT CINTA PERTAMA, BAGAIMANA?

 

Jika hal tersebut terjadi pada suami kita sendiri bagaimana mengatasinya?

012517-suami-teringat-cinta-pertama-bagaimana

Rasa cinta memang menjadi sebuah anugerah dari Allah SWT. Cinta juga merupakan salah satu fitrah seorang manusia.

Tapi bagaimana jika rasa cinta yang merupakan fitrah dan anugerah tadi justru membuat akan seseorang terperangkap dalam sebuah masalah yang bisa jadi berujung pada sebuah dosa.

Contoh, jika seseorang yang telah menikah namun tak juga bisa melupakan cinta pertamanya. Lalu, jika hal tersebut terjadi pada suami kita sendiri bagaimana mengatasinya?

Itulah bagian dari keterbatasan manusia. Suami tak mampu menghilangkan semua memori yang pernah dia alami. Keadaan ini tak hanya dialami suami Anda, tapi juga orang lain bahkan Nabi SAW pun mengalami hal serupa hingga membuat Aisyah cemburu.

Didepan Aisyah, Nabi mengatakan, “Sungguh Allah telah menganugerahkan kepadaku rasa cinta kepada Khadijah,” (HR. Muslim, no. 2435).

Padahal kita mengetahui bahwasanya Aisyah adalah wanita yang sangat pencemburu.

Aisyah Radhiallahu ‘Anha bertutur, ” Nabi SAW jika menyebut tentang Khadijah maka ia pun memujinya dengan pujian yang sangat indah. Maka pada suatu hari aku pun cemburu, maka aku berkata, ‘Terlalu sering engkau menyebut-nyebutnya, ia seorang wanita yang sudah tua. Allah telah menggantikannya buatmu dengan wanita yang lebih baik darinya.

Maka Nabi berkata, ‘Allah tidak menggantikannya dengan seorang wanita pun yang lebih baik darinya. Ia telah beriman kepadaku tatkala orang-orang kafir kepadaku, ia telah membenarkan aku tatkala orang-orang mendustakan aku, ia telah membantuku dengan hartanya tatkala orang-orang menahan hartanya tidak membantuku, dan Allah telah menganugerahkan darinya anak-anak tatkala Allah tidak menganugerahkan kepadaku anak-anak dari wanita-wanita yang lain’,” (HR. Ahmad, no 24864 dan dishahihkan oleh para pentahqiq Musnad Ahmad).

Wallohu a’lam bishshawab

@kaefota

AGAMA ITU NASIHAT

agama-itu-nasihat

Memberi nasihat merupakan anjuran agama

Nasihat memiliki tempat yang penting dalam agama Islam. Memberi nasihat dapat memantapkan persaudaraan di antara umat Islam.

Terlebih, bila nasihat yang disampaikan seorang Muslim semata-mata hanya karena Allah dan muncul sebagai wujud kasih sayang terhadap saudaranya.

Tak heran jika Nabi Muhammad SAW menjadikan nasihat sebagai tiang agama sekaligus barometer dalam melaksanakan agama.

Tamim ad-Dari RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

‘Agama itu nasihat.” (HR Bukhari dan Muslim).

Rasulullah SAW senantiasa memberikan nasihat dan wasiat kepada para sahabat dan umatnya.

Syekh Mahmud al-Mishri dalam Ensiklopedi Akhlak Muhammad SAW mengungkapkan, secara bahasa nasihat diambil dari kata an-nashihah. Ibnu Manzur menjelaskan, nashahasy-syai berarti ”sesuatu itu murni”.

An-Nashih artinya sesuatu yang murni dari amal dan lainnya. Sedangkan an-Nush artinya ikhlas dan jujur di dalam musyawarah dan amal.

Menurut Ibnu Atsir, nasihat adalah kata yang dipergunakan untuk mengungkapkan keinginan yang baik bagi orang yang dinasihati.

”Nasihat adalah mengajak orang lain untuk melaksanakan sesuatu yang mengandung kemaslahatan dan melarang mengerjakan sesuatu yang mengandung kerusakan,” kata ahli bahasa dari abad ke-11 M, Abu Bakr Abd ul Qahir ibnu Abdur-Rahman al-Jurjan.

Nasihat itu tentunya mencakup Allah SWT,  rasul-Nya, Kitab-Nya, para pemimpin umat dan kaum Muslimin secara umum.

Sebuah nasihat haruslah disampaikan sebagai bentuk rasa cinta yang murni kepada orang lain, tentunya lewat pesan-pesan yang mengantarkan orang lain menuju kepada kemaslahatan.

Menurut Dr Muhammad al-Hasyimi, sekecil apa pun nasihat yang disampikan bernilai mulia di hadapan Allah.

Dalam sebuah hadits Nabi SAW bersabda,

Agama adalah ketulusan (nashihah).” Kami bertanya, ”Kepada siapa?” Beliau bersabda, ”Kepada Allah, Kitab-Nya, rasul-Nya, para pemimpin Muslim dan masyarakat umum.” (HR Muslim).

Menurut Syekh al-Mishri, memberi nasihat termasuk sifat para nabi. Sebab, para nabi tak pernah bosan untuk memberi nasihat kepada kaumnya untuk beriman.

Wallohu a’lam bishshawab

 

@kaefota

PROFESIONALISME DALAM AJARAN RASUL

 

Ada anggapan, Muslim yang taat adalah yang rajin berdzikir, berdo’a, shalat, membaca Alquran dan ritual ibadah lainnya.

Mereka bertafakur memusatkan perhatian agar selalu dekat dengan-Nya. Namun sejatinya, Islam bukan hanya agama ‘langit’, melainkan menapak kuat di bumi.

rasulullah

Islam bersentuhan dengan realitas kehidupan sehari-hari. Maka itu, Alquran dan hadirs pun tidak dominan mengajarkan ibadah.

Keduanya juga memberikan petunjuk serta bimbingan bagaimana umat Muslim membina aspek kehidupan sebaik-baiknya dalam kapasitas sebagai khalifah bumi.

Dalam kaitan ini, umat dituntut tampil di depan, memberikan teladan. Umat harus mampu menunjukkan kualitas terbaik.

Semua itu, sebut Dr Abdul Hamid Mursi melalui bukunya SDM Produktif, Pendekatan Alquran dan Sains, bisa diwujudkan bila Muslim giat dalam bekerja.

Pekerjaan manusia, menurut Abdul Hamid, adalah tugas rasio atau akal dan fisik. Jika manusia tidak bekerja, berarti ia tidak bisa memenuhi tugas hidupnya.

Jadi, sangat beralasan jika Islam menganjurkan umat untuk bekerja. Pada struktur takwa, Islam senantiasa mengaitkan iman dengan amal saleh.

Itu telah tampak jelas dalam bentuk ritual ibadah. Bila pada kepercayaan lain ibadah dilakukan secara diam, tidak demikian halnya dalam Islam. Ritual ibadah kaum Muslim penuh dengan gerakan. Bisa dikatakan, sangat dinamis.

Salah satunya ibadah shalat. Dari awal sampai akhir, shalat diiringi gerakan hampir seluruh bagian tubuh.

Begitu pula haji, ritual-ritualnya sarat gerakan fisik. Pendek kata, ibadah dalam Islam memiliki dimensi gerak, terutama kerja. Lebih jauh, hal ini juga harus merambah ke ranah sosial.

Itulah mengapa, papar Abdul Hamid, pahala tertinggi bukan dari banyaknya porsi mengerjakan ritual ibadah, namun apakah nilai ibadah mampu terwujud nyata.

Rasulullah tak berhenti menganjurkan bekerja. Beliau berpesan agar pekerjaan itu dilakukan sebaik mungkin.

Pada sebuah hadits riwayat Ahmad, tergambar jelas maksud Nabi Muhammad SAW.

Sesungguhnya Allah SWT mencintai hamba yang berkarya”.

Tak tanggung-tanggung, Rasulullah menyandingkan pekerjaan yang dilakukan seseorang secara giat dan ikhlas dengan jihad.

“Barang siapa bekerja keras untuk keluarganya, ia seperti pejuang di jalan Allah SWT.”

Secara jelas, Alquran menerangkan bahwa pengemban risalah agama dan orang-orang beriman merupakan mereka yang berkarya.

Wallohu ‘alam bishshawab

 

@kaefota

AN NASHIHAT LI AR RA’I WA AR RA’YAT, ISLAM MEMANDANG PENTING NASIHAT

 

Dalam Islam, nasihat menduduki posisi dan peranan penting. Dalam surah al-Ashr (103) ayat 3 ditegaskan bahwa berwasiat kepada sesama merupakan cara agar terhindar dari golongan orang-orang yang merugi.

an-nashihat-li-ar-rai-wa-ar-rayat-islam-pandang-penting-nasihat

Al-Khuthabi memastikan hampir tak ada kata yang tepat untuk mengungkapkan sebuah pesan, kritik ataupun masukan, selain nasihat.

Karenanya, apabila merujuk kepada sejumlah referensi kamus Arab, kata nasihat adalah lafal bahasa Arab yang diadopsi ke dalam bahasa Indonesia.

Temuan al-Mazuri setidaknya menguatkan fakta tersebut. Menurut dia, kata nasihat berasal dari kata nashaha yang berarti bersih atau merajut dengan sebuah benang.

Kata nasihat juga tercantum dalam sebuah hadits riwayat Abu Ruqayyah Tamim bin Aus ad-Daari. Hadits itu menjelaskan bahwa inti agama adalah nasihat.

Menurut sebagian ulama, kedudukan hadits tentang nasihat sebagai inti agama menempati seperempat dari agama, seperti yang ditegaskan oleh Muhammad bin Aslam ath-Thusi.

Bahkan, Imam an-Nawawi menyebut hadits itu sebagai satu-satunya jalan menggapai maksud agama. Sebab, menurutnya hakikat tujuan-tujuan agama terangkum dalam  empat kategori nasihat.

Dalam hadits itu diterangkan ada beberapa kategori peruntukan nasihat.

Pertama, nasihat kepada Allah, berupa taat menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya.

Kedua, nasihat untuk kitab suci Alquran, dengan mengajarkan dan mengamalkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Ketiga, nasihat bagi Rasul-Nya, yakni mengikuti dan menerapkan sunah yang pernah dicontohkannya.

Keempat, nasihat bagi para pemimpin dan umat Islam secara keseluruhan.

Dalam konteks nasihat bagi pemimpin dan umat Islam yang terakhir inilah, tercatat sejumlah karya berupa kitab tentang nasihat kepada pemimpin dan rakyat telah ditulis oleh para ulama.

Al-Mawardi pernah menulis kitab bertajuk Nashihat al-Muluk dan Nashihat al-Ikhwan. Kitab yang sama juga pernah disusun Abu Bakar al-Hanbali dengan judul Tajannub al-Fadlihah fi Taqdim an-Nashihat.

Abu al-Khair Badar ad-Din bin Abu al-Ma’mar bin Ismail at-Tabrizi (636 H) adalah satu dari sekian cendekiawan Muslim yang mempunyai kepedulian akan pentingnya sebuah nasihat.

Ulama terkemuka itu menuliskan kitab yang berisi pesan-pesan dan wasiat yang pernah disampaikan oleh Rasulullah kepada para sahabat semasa hidupnya.

Menurut analisis at-Tabrizi, di antara sunatullah adalah menetapkan umat manusia, ada yang menjadi rakyat dan pemimpin.

Fungsi pemimpin, mengarahkan dan menjaga rakyat agar tetap berada dalam koridor keadilan, keseimbangan dan kesejahteraan, baik dunia maupun akhirat.

Wallohu a’lam

 

@kaefota

PERANG HUNAIN SAKSI KEAGUNGAN ALLAH SWT

 

Jumlah tentara Muslim yang mencapai 12 ribu adalah terdiri dari 10 ribu pasukan yang menaklukkan Makkah ditambah 2.000 prajurit dari kaum Quraisy yang baru masuk Islam nyaris tak berguna karena diliputi kesombongan.

perang-hunain-saksi-keagungan-allah-swt
Sekitar 15 hari setelah umat Islam menguasai Kota Makkah, sebuah kabar buruk terdengar di telinga Rasulullah SAW.

Kabilah Hawazin dan Tsaqifkabilah Arab yang cukup dikenal di negeri Arab bagian utara bersiap untuk memerangi kaum Muslim.

Kedua kabilah yang memiliki kekuatan yang amat besar itu telah berkumpul di Lembah Hunain.

Menurut Dr Syauqi Abu Khalil dalam Athlas Hadith al-Nabawi, Hunain merupakan nama sebuah lembah yang berada di antara Thaif dan Makkah al-Mukaramah.

Jaraknya lebih dekat dari Makkah, 26 km dari arah timur Makkah al-Mukarramah. Dari dua rambu batas suci di Jalan Najed berjarak 11 km.

Dr Akram Dhiya al-Umuri dalam Shahih Sirah Nabawiyah mengungkapkan, jarak dari Makkah ke Hunain hanya sekitar 20 km sebelah timur Makkah. Sekarang tempat itu dikenal dengan nama asy-Syara’i.

Di tempat itulah terjadi sebuah peristiwa penting dalam sejarah Islam, yakni Perang Hunain, pada Syawal 8 Hijriah itu terekam dalam Alquran surah at-Taubah (9): 25.

Sesungguhnya Allah telah menolong kamu pada beberapa tempat dan pada Perang Hunain, tatkala kamu bangga dengan jumlahmu yang banyak, tapi tidak berguna sedikitpun. Dan bumi yang luas menjadi sempit bagimu saat itu, hingga kamu berpaling sambil mundur. Kemudian Allah turunkan perasaan tenang kepada Rasul-Nya dan kepada semua orang Mukmin. Dan Ia kirimkan bala tentara yang tidak kamu ketahui dan Ia siksa orang-orang yang kafir. Demikianlah balasan Allah kepada orang-orang yang kafir.

Perang Hunain menjadi saksi keagungan Allah SWT. Jumlah tentara Muslim yang mencapai 12 ribu terdiri dari 10 ribu pasukan yang menaklukkan Makkah ditambah 2.000 prajurit dari kaum Quraisy yang baru masuk Islam nyaris tak berguna karena diliputi rasa kesombongan.

Wallohu  a’lam bishshawab

@kaefota

MARAQI AL UBUDIYAH : BERSIH JASMANI BERDAMPAK PADA KEBERSIHAN ROHANI

 

Adapun kitab Maraqi al-Ubudiyah ini, hanya mengambil beberapa poin penting dalam bidang fikih, utamanya yang berkaitan dengan upaya pendekatan diri kepada Allah, seperti bersuci.

toharoh

Secara lengkap, bagian pertama dari isi kitab Maraqi al-Ubudiyah ini adalah pembukaan, bab ketaatan, adab tidur, adab masuk kamar kecil, adab berwudhu, adab mandi, adab tayamum, adab masuk dan keluar masjid, ada saat matahari terbit, adab tidur, adab shalat, adab shalat Jumat dan adab berpuasa.

Sedangkan bagian kedua dari isi kitab Maraqi al-Ubudiyah ini adalah bagian tasawuf. Topik yang dibahas, antara lain: meninggalkan maksiat, menjaga lisan, memelihara kedua telinga, memelihara atau menjaga lidah (lisan), memelihara batin, memelihara kemaluan, memelihara kaki, hal-hal yang berkaitan dengan kemaksiatan hati, sombong, ujub dan takabur.

Topik lainnya adalah pembahasan tentang hadirs Rasul SAW kepada Muadz bin Jabal RA, adab dan tata cara pergaulan, sikap seorang makhluk kepada khalik, adab kepada kedua orang tua dan cara bersikap jujur.

Dalam Bidayah al-Hidayah, Imam Ghazali membagi pembahasan kitabnya menjadi tiga bagian.

Bagian pertama tentang ketaatan (di dalamnya tentang masalah kebersihan jasmani seperti adab tayamum, wudlu, mandi, masuk masjid, dan lainnya.

Bagian kedua, dibahas tentang masalah tasawuf yang berkaitan dengan berbagai perbuatan maksiat yang harus dihindari atau dosa-dosa yang biasa dilakukan oleh anggota tubuh. Di antaranya, dosa mata, dosa telinga, dosa, mulut dan dosa kaki.

Bagian ketiga, topik yang dibahas berkaitan dengan cara berhubungan dengan Allah dan sesama manusia. Misalnya, adab kepada guru, adab pada orang tua, adab berteman dan adab kepada Allah.

Mengamalkan ilmu

Bila dilihat dari sistematika penulisan kitab ini yang menempatkan masalah kebersihan badan (jasmani) sebagai pembuka, tampaknya Imam al-Ghazali dan Syekh Nawawi al-Bantani mengharapkan agar seorang hamba senantiasa menjaga kebersihan diri sebelum menghadap Allah SWT.

Dengan terpeliharanya kebersihan badan, niscaya hal itu akan berimbas pada kebersihan rohani. Orang yang senantiasa memelihara lahirnya, maka dia juga akan memelihara batinnya.

Barang siapa yang bersih lahir dan batinnya, bersih jiwa dan raganya, niscaya ilmu yang dicarinya pun akan semakin mudah melekat.

Mengutip hadis Nabi SAW, dijelaskan,

Sesungguhnya pada setiap diri manusia itu, terdapat segumpal daging. Bila daging itu baik, maka akan baiklah seluruh badannya. Ketahuilah, hal itu adalah hati.”

Maksudnya adalah, hati yang bersih, maka akan bersih juga amal perbuatannya. Begitu juga dengan orang yang menuntut ilmu.

Orang yang bertambah ilmunya, namun tidak bertambah hidayah dan ketaatannya kepada Allah, sesungguhnya dia akan semakin jauh dari rahmat Allah.

Karena itulah, Rasul SAW senantiasa memohon do’a kepada Allah, agar ilmu yang didapatkan bermanfaat.

Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung pada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang kaku, amal yang tidak diterima dan do’a yang tidak didengar.”

Dalam riwayat lain dikatakan,

Sesungguhnya ilmu yang tidak diamalkan laksana pohon yang tidak berbuah.

Jadinya sia-sia belaka.

Manusia yang paling keras siksanya pada hari kiamat, ialah orang yang berilmu yang ilmunya tidak diberikan manfaat oleh Allah.

Syekh Nawawi menambahkan, dengan membersihkan diri melalui wudhu sebelum menghadap Allah, hal itu menunjukkan iktikad baik untuk mencari sesuatu berdasarkan hati nurani. Dengan jiwa dan hati yang bersih, maka akan memudahkan dirinya dalam menggapai ridla Allah.

Ibaratnya, dalam berwudhu hendaknya diniatkan tidak semata-mata membersihkan diri dari kotoran, tetapi juga ditujukan guna membersihkan diri dan anggota wudlu dari perbuatan maksiat.

Kitab ini selesai ditulis oleh Syekh Nawawi al-Bantani pada 1 Jumadil Awwal 1309 H, sekitar lima tahun sebelum wafatnya (25 Syawal 1314 H).

Wallahu a’lam.

 

 

source

MARAQI AL UBUDIYAH, PERPADUAN KITAN FIQIH DAN TASAWUF

 

Imam Abu Hamid bin Muhammad al-Ghazali (w 1111 M) adalah salah seorang tokoh Muslim terbesar di dunia. Namanya selalu diidentikkan dengan karyanya yang sangat fenomenal, yakni Ihya ‘Ulum ad-Din.

Karya tersebut membahas tentang masalah tasawuf, pendekatan seorang hamba dengan Tuhannya.

maraqi-al-ubudiyah-perpaduan-kitab-fikih-dan-tasawuf

Bahkan, sejumlah karyanya juga berkaitan erat dengan masalah tasawuf dan ilmu kalam. Sebut saja di antaranya adalah Bidayah al-Hidayah (Awal Mula Hidayah), al-Munqidz min ad-Dlalal (Penyelamat dari Kesesatan), al-Misykah al-Anwar (Cahaya Penerang), Kimiya as-Sa’adah (Kimia Kebahagiaan) dan Tahafut al-Falasifah (Kecelakaan bagi orang yang filsafat).

Imam al-Ghazali demikian nama populernya, sangat menguasai bidang tasawuf ini. Kendati demikian, al-Ghazali sendiri sebenarnya juga sangat ahli dalam bidang fikih.

Karyanya dalam bidang ini, antara lain, al-Mustasyfa min ‘Ilm al-Ushul. Namun, karena banyaknya karya al-Ghazalie dalam bidang tasawuf, banyak orang lebih mengenalnya sebagai ahli sufi ketimbang ahli fikih.

Karya-karya al-Ghazalie yang demikian banyak itu, membuat banyak ulama mempelajari isi kitab-kitabnya. Di Indonesia, bahkan sejumlah karya al-Ghazali dipelajari di pesantren-pesantren.

Karena isinya yang begitu baik, maka karya-karyanya itu kemudian diterjemahkan dalam sejumlah bahasa, seperti Inggris, Prancis, Jerman, Indonesia dan lainnya.

Di Indonesia, magnum opus karya al-Ghazalie, Ihya ‘Ulum ad-Din, begitu banyak diterjemahkan. Termasuk matan Ihya ‘Ulum ad-Din, yakni Bidayah al-Hidayah.

Oleh sejumlah ulama, Bidayah al-Hidayah kemudian beri komentar (syarah) lagi. Di antaranya yang dilakukan oleh Syekh Muhammad bin Umar al-Jawi al-Bantani (1815-1897 M/1230-1314 H), dengan memberi komentar atas matan Bidayah al-Hidayah, yakni Maraqi al-‘Ubudiyah.

Kitab (Maraqi al-‘Ubudiyah) ini terbilang cukup unik dan menarik, karena isinya tidak hanya membahas masalah tasawuf, sebagaimana umumnya kitab-kitab tasawuf.

Sesuai dengan kitab aslinya dari matan Bidayah al-Hidayah, maka kitab karya Syekh Nawawi al-Bantani ini, juga berisi penjelasan tentang masalah-masalah fikih. Karena itu, Syekh Nawawi membagi dua bagian isi kitab ini.

Bagian pertama berisi tentang masalah fikih, sedangkan bagian kedua berisi tentang masalah tasawuf.

Kitab Maraqi al-‘Ubudiyah ini memuat isi setebal 114 halaman (cetakan Toko Kitab al-Hidayah, Surabaya). Tak terlalu tebal dibandingkan dengan kitab sejenis seperti al-Hikam, karya Syekh Atha’illah as-Sakandari atau kitab Fath al-Muin karya Syekh Zainuddin bin Abd al-Azizi al-Malibari al-Fanani, maupun kitab lainnya seperti Safinah an-Naja, Kasyifah as-Saja, Kifayah al-Akhyar dan sebagainya.

Namun demikian, isi kitab Maraqi al-‘Ubudiyah ini begitu besar manfaatnya bagi umat Islam, terutama mereka yang mempelajarinya.

Walaupun memadukan dua bidang ilmu (fikih dan tasawuf), isi kitab ini tidak selengkap seperti kitab fikih dan tasawuf pada umumnya.

Kitab fikih, biasanya memuat permasalahan fikih mulai dari bab thaharah (bersuci), kemudian dilanjutkan dengan bab shalat, zakat, puasa, muamalah (ekonomi), jinayat (pidana), munakahat (pernikahan) dan haji.

Kitab tasawuf, biasanya memuat tentang adab seorang murid kepada guru atau hamba kepada Tuhannya, penataan hati, mengendalikan hawa nafsu dan amalan-amalan dalam upaya taqarrub ila Allah.

 

Barakallah

TIPS MENDIDIK ANAK

Belajar Kitab

belajar-kitab

Dalam kitab Tuhfat al-Maudud bi Ahkam al-Maulud (Panduan Mendidik Anak), Ibnu Qayyim berbagi tip praktis dalam mengurus dan mendidik anak.

Menurut dia, tiap perlakuan yang diberikan oleh orang tua baik secara fisik ataupun sevara nonfisik bisa memberikan dampak bagi pertumbuhan si buah hati.

Ibnu Qayyim menyarankan beberapa langkah dasar yang mesti ditempuh secara periodik dalam mendidik anak, diantaranya adalah sebagai berikut:

– Hendaknya menahan diri tidak membawa anak keluar rumah ataupun bepergian jauh sebelum lewat usia tiga bulan atau lebih. Selain untuk lebih mendekatkan bayi dengan si ibu, kondisi fisik si bayi masih rentan karena masih terlalu lemah.

– Pemberian asupan nutrisi bagi si bayi mesti dilakukan secara berjenjang sesuai dengan usianya. Nutrisi pertama yang baik diberikan adalah air susu ibu (ASI), lalu biskuit yang diseduh dengan air hangat, kemudian bisa berikan pula susu murni. Apabila kondisi telah memungkinkan, bisa diberikan menu masakan atau kuah. Hindari pemberian daging secara utuh karena pencernaannya belum sempurna. Daging bisa dikonsumsi setelah pencernaannya membaik.

– Mendekati usia si bayi hendak berbicara namun masih mengalami kesulitan, bisa dioleskan madu dengan sedikit garam di lidah mereka. Baik madu ataupun garam, mempunyai zat yang bisa membantu memperlancar bicara.

– Tradisikan mentalkin dan memperkenalkan kalimat tauhid atau syahadat sejak dini. Dengan memperkenalkan kalimat tauhid sejak awal, Allah senantiasa mendengar perkataan dan menjaga mereka. Dengan demikian, kelak ketika dewasa anak akan terbiasa dekat dan mengingat Allah. Inilah mengapa Bani Israel memberikan nama Imanuel bagi buah hati mereka. Imanuel berarti Tuhan bersama kami. Dan dalam Islam, nama yang paling disukai oleh Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman.

– Jangan mencegah balita berhenti menangis atau berteriak termasuk mencegahnya minum ASI tatkala lapar. Menangis bagi bayi mempunyai manfaat yang baik, terutama untuk membugarkan raga, melebarkan dadanya, menjaga suhu badannya yang natural, serta menghindarai penumpukan dahak.

– Jangan anggap remeh balita yang enggan belajar berjalan. Karenanya, latihlah selalu sekalipun misalnya, badannya belum bisa berdiri tegak karena hanya bisa duduk. Biasakanlah melatihnya perlahan.

– Hindarkan balita dari suara-suara berisik dan keras yang mengagetkan. Begitu pula pemandangan dan gerakan-gerakan negatif yang mengganggu pikiran. Faktor kebisingan dan suara gaduh yang buruk tersebut bisa jadi berakibat pada ketidakseimbangan akal. Jika menemukan kondisi gaduh seperti ini, segerakan menyusui dan menenangkannya.

– Perhatikan perkembangan perilaku anak. Perkembangan anak dipengaruhi oleh perlakuan orang tua kepada anak. Pola seperti apakah yang diterapkan dalam mendidik mereka? Kehangatan, sikap pemarah, kasar atau terburu-buru kah? Kesemuanya itu bergantung pada pola didikan yang digunakan oleh pendidiknya.

Karenanya tak sedikit anak yang gagal karena pola pendidikan keliru yang mereka terima. Termasuk pula hindarkan anak dari perkara tidak bermanfaat dan bathil. Jika tidak, anak akan terbiasa menikmatinya hingga dewasa kelak.

 

Barakallah

 

%d blogger menyukai ini: