Dalam al-Quran tidak ditemui “al-Muhsin” dalam bentuk nama, tetapi dalam bentuk fiil atau kata kerja. Antara lain dalam surat al-Qashash [28] ayat 77,

Dan berbuat baiklah, sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu.

Pastinya, kita tidak mungkin menandingi kebaikan Allah SWT. Yang sangat penting adalah Allah menyelimuti segala-galanya dengan kebaikan. Allah Mahabaik, dan kebaikan Allah tidak mengharap apa pun dari kita. Yang beriman maupun yang tidak beriman, tetap diberi-Nya kecukupan dan kehidupan. Orang yang mengingkari-Nya pun diurus oleh Allah, apalagi terhadap yang beriman. Pasti baik, dan tidak ada keburukan dari Yang Mahabaik.

Semua perbuatan, hukum, takdir dan ketentuan Allah pasti baik. Yang membuat kita sengsara adalah kita sering berburuk sangka kepada-Nya. Lebih yakin dengan apa yang kita sukai daripada yang disukai Allah. Sengsara itu dikarenakan kita sering tidak ridhodengan ketentuan Allah. Padahal kita ridho atau tidak, tetap saja ketentuan Allah bakal terjadi.

Al-Muhsin yang Mahabaik

Seperti katanya sekarang dollar berada di bawah sepuluh ribu (disembunyikan di bawah uang sepuluh ribu). Nah, bagi yang membidangi ekonomi, soal dollar tentu harus berusaha dipecahkan. Tapi bagi kita tidak usah panik terhadap dollar yang berada di Rp13-14 ribu.

Pertama, karena kita juga tidak punya dollar.

Kedua, panik tidak menyelesaikan masalah. Yang terpenting adalah dollar bukan Tuhan kita.

Allah yang menjamin kita. Dollar mau seperti apa saja, bahkan dalam situasi ekonomi sesulit apa pun, kalau Allah mencukupi pasti tetap cukup. Kalau kita ridhoatas takdir dan ketentuan Allah, maka Allah memberi hadiah dengan hati kita menjadi lapang. Tapi kalau kita tidak ridho, maka hati menjadi sempit dan masalah menjadi rumit.

Sebagaimana sehat dan sakit, keduanya karunia Allah. Karena ada dosa yang tidak bisa gugur kecuali lewat sakit. Ada pahala yang tidak terkejar oleh amal kecuali dengan sakit. Atau kedudukan di sisi Allah yang tidak terangkat oleh salat dan saum, tapi bisa dicapai dengan sakit. Asalkan kita ridhodan sabar.

Jadi, tidak ada keburukan dari Allah. Allah Mahabaik dan kita juga diperintahkan-Nya supaya berbuat baik.

“Dan berbuat baiklah. Sesungguhnya Allah sangat mencintai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. al-Baqarah [2]: 195).

Dalam al-Quran, kata “yuhibb” ada yang diikuti dengan “muttaqiin.” Tapi yang paling banyak adalah “yuhibbul muhsiniin,” yaitu “sangat mencintai orang-orang yang muhsin.” Dalam sebuah pertempuran pun, seorang muslim dilarang berlaku keji. Bahkan ketika hendak menyembelih hewan pun, sembelihlah dengan cara yang baik.

Ini artinya, pertama, tidak ada pembunuhan keji dalam Islam. Misalkan kita diberi takdir perang (naudzubillaah), maka kita tidak boleh mencabik-cabik atau mengencingi musuh, seperti yang gambarnya pernah beredar itu. Tidak boleh! Dalam Islam, bertempur itu bukan untuk berbuat zalim.

Kedua, bahwa untuk mengantarkan binatang yang harus disembelih kepada kematiannya, kita diperintahkan supaya melakukannya dengan cara yang baik dan terbaik. Nah, terhadap binatang yang mau disembelih saja kita harus berbuat baik, lalu bagaimana mungkin terhadap binatang yang hidup tidak kita perlakukan sebaik mungkin?

Misalkan kuda. Jangan biarkan lantai tempat tidurnya keras, sehingga badannya lecet. Tapi pakailah serbuk gergaji misalnya. Atau ketika menaikinya, gunakan tata krama, seperti diusap dulu. Rasulullah saw juga pernah menasihati orang yang sedang berdiskusi di atas kuda, agar turun dan kudanya tidak kecapaian.

Hal ini sungguh luar biasa. Islam adalah agama yang sangat luar biasa. Karena kalau kepada kambing kurban saja kita harus berbuat baik, maka bagaimana tidak kita harus berbuat lebih baik kepada sesama manusia yang punya akal dan perasaan?

“Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertakwa, Apakah yang telah diturunkan Rabb-mu? Mereka menjawab, Kebaikan. Bagi orang yang berbuat baik di dunia ini akan mendapat balasan yang baik. Dan sesungguhnya negeri akhirat pasti lebih baik, dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang-orang yang bertakwa.”(QS. an-Nahl [16]: 30)

Oleh karena itu, kalau kita mau dekat dan dicintai Allah, maka cukup satu saja yang dalam pikiran kita, yaitu kebaikan. Ayo! Kita cari ilmu yang banyak supaya bisa berbuat baik lebih banyak. Karena setiap amal itu dipandu oleh ilmu. Orang kurang ilmu pasti kurang amal, dan akan kurang pula kebaikannya.

Kita latih diri dengan berbagai pengalaman dan wawasan supaya semakin banyak kebaikan yang bisa diperbuat. Baik ilmu, tenaga, pikiran, harta, waktu maupun perhatian.

“Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang muhsin.”(QS. an-Nahl [16]: 128)

Wallohu a’lam bishshawab