mengapa-kita-sulit-mendengar-nasihat1

“Ini benar-benar sulit. Bulan depan anak-anak sudah mulai sekolah. Kontrakan rumah juga sudah mau habis. Saya nggak tahu harus gimana lagi.” Seorang wanita mengeluhkan suaminya yang masih menganggur kepada seorang kerabat.

Kemudian, kerabat tersebut menanggapi sambil mencoba memberikan nasihat. “Seharusnya kamu bersyukur. Setidaknya kamu kan masih bisa jualan. Sabar dan tetap berusaha. Insya Allah rezeki sudah ada yang mengatur.”

Lalu, wanita tersebut menjawab ketus. “Kamu yang nggak merasakan sendiri sih bisa ngomong seperti itu. Apalagi hidupmu enak. Suami punya penghasilan bulanan yang bisa diandalkan.”

Sudah sepatutnya bagi kita sesama muslim untuk saling menasihati. Sesungguhnya kita harus bersyukur ketika ada saudara yang menegur dan mengingatkan jika kita berbuat salah. Namun, tanpa disadari kita justru terkadang jengah dan kesal mendengar nasihat tersebut. Memandang itu sebagai sesuatu yang mengganggu dan berpikir mengapa orang lain campur tangan dengan urusan kita.

Seridaknya ada beberapa penyebab mengapa kita kerap sulit menerima nasihat yang disampaikan orang lain. Lalu, bagaimana pula cara untuk mengatasinya?

  1. Sikap Arogan

Mungkin kita masih menderita sindrom ‘saya lebih baik dari orang lain’. Menerima nasihat membuat kita merasa bahwa kita tidak berhak atas segala yang kita dapatkan saat ini. Hal yang berbahaya di sini adalah kita yang berpikir diri kita lebih baik dari siapapun, sehingga ketika ada seseorang menasihati, bukannya mendengar kita justru mencari kekurangan orang tersebut untuk dijadikan celah apakah dia berada di posisi yang pantas untuk memberikan nasihat itu untuk kita. Padahal, adakah seseorang dari kita yang bisa memastikan bahwa kita benar-benar lebih baik dibandingkan orang lain?

Solusinya adalah kita harus sering-sering untuk merendahkan diri di hadapan Allah swt. Sekali kita menyadari bahwa tanpa pertolongan dan kasih sayang-Nya, kita bukanlah siapa-siapa, kita pun menjadi lebih mudah untuk menghargai orang lain. Semakin sering menjadikan sesuatu sebagai cara untuk mencari kekurangan orang lain, semakin sulit juga kita akan menemukan kebijaksanaan dari nasihat yang kita terima. Mulailah dengan menghormati orang-orang di sekeliling kita, daripada menghabiskan waktu untuk membuat penilaian.

  1. Cara Menasihati

Tidak jarang kita menerima nasihat dengan nada yang berkesan menggurui, di tempat yang salah, dan pada waktu yang tidak tepat. Alih-alih mendengarkannya, kita justru menolak dan melawan. Memang terkadang kita sulit untuk menerima kritik dan teguran dari orang lain, tapi yang perlu kita ingat adalah kita harus tetap sabar dan pandai dalam menjaga emosi. Nasihat orang lain mungkin terdengar seperti penilaian keliru atas diri kita, namun yakinlah bahwa apa yang mereka katakan dapat membawa kita menjadi seseorang yang lebih baik di depan Allah swt.

Jika kita dalam kondisi demikian, satu hal penting yang perlu kita lakukan adalah bersyukur kepada Allah swt karena masih menghadirkan orang-orang yang peduli terhadap kita. Tetaplah bersikap baik dengan mengucapkan terima kasih dan tersenyum. Yakinkan bahwa ini adalah bukti bahwa Allah swt masih menyayangi kita dengan adanya teguran dari orang lain atas kesalahan yang kita perbuat.

dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nur [24]: 22)

  1. Tidak Tepat Waktu

Sering kali orang lain memberikan nasihat kepada di waktu yang tidak tepat. Kita pun akan cenderung tersinggung atau marah. Tapi, tetap tenanglah. Kendalikan emosi dan jangan langsung menanggapi dengan kesal. Ambil napas dalam-dalam, simpan sejenak nasihat tersebut dan selesaikan dulu perasaan kesal dalam diri kita. Seiring berjalannya waktu dan membiasakan diri, insya Allah ke depannya kita akan lebih mudah dalam mengontrol emosi, menerima dan meyakini bahwa nasihat yang orang lain berikan akan menjadikan kita pribadi yang lebih baik di kemudian hari.

mengapa-kita-sulit-mendengar-nasihat2

Penyebab lainnya serta cara yang perlu dilakukan untuk mengatasi tersebut, sehingga kita dapat lapang dada mendengar segala nasihat adalah sebagai berikut.

  1. Malas dan Ketakutan Akan Kesalahan

Ya, benar! Meskipun kita hadir di kajian-kajian dan memperoleh berbagai nasihat, tidak jarang itu hanya masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri. Kita terlalu malas untuk keluar dari zona nyaman kita untuk melakukan sesuatu yang baru, sehingga kita tak kunjung memperbaiki diri.

Akhiri kemalasan yang melanda! Yakinkan bahwa untuk menjadi pribadi yang lebih baik, kita harus memperbaiki atas kebiasaan dan sikap kita saat ini. Dengan adanya kemauan untuk berubah menjadi yang lebih, insya Allah kita pun akan lebih siap dan senang mendengar nasihat seseorang. Karena kita telah bertekad, bahwa kita akan berubah menjadi pribadi yang lebih baik.

  1. Kesenjangan Generasi

Jika kita mendengar nasihat dari orangtua, kita cenderung untuk berkata, “Apa yang mereka tahu tentang masalah yang saya hadapi sekarang?” Jika kita mendengar nasihat dari orang yang lebih muda, kita cenderung berkata, “Bisa-bisanya dia menasihati saya, padahal dia masih muda dan tidak berpengalaman.” Akhirnya, tidak ada nasihat dari siapapun yang mau kita dengar.

Sadarilah, bahwa mereka yang memberikan nasihat kepada kita adalah orang-orang yang masih menyayangi kita. Orangtua, kakak, adik, saudara, kerabat, sahabat, pasangan, dll. Jangan memandang apakah mereka orang yang sudah tua atau jauh lebih muda dari kita.

Terlebih jika itu datang dari ayah atau ibu, meskipun nasihatnya tampak tidak sesuai dengan permasalahan yang kita hadapi saat ini, bersabarlah dan tetap terima dengan baik. Sesungguhnya Allah telah berfirman:

Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak keduanya, san ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.” (QS. Al Isra [17]: 23)

Mari kita ingat kisah para sahabat. Mereka meninggalkan adat dan kebiasaan lamanya setelah memeluk Islam. Sepanjang waktu mereka menerima berbagai nasihat agar menjadi muslim yang lebih baik.

Bayangkan jika mereka berhenti menerima nasihat seperti apa yang mereka lakukan, apakah mereka akan menjadi mereka yang dicintai Allah?

Tentuk tidak. Mereka dicintai Allah Rasul-Nya karena mereka senantiasa mendengar dan menuruti nasihat-nasihatnya. Mereka menjadi orang-orang penting yang di kemudian hari memberikan kejayaan Islam di masanya.

Mereka adalah contoh nyata bahwa menerima nasihat adalah sesuatu yang akan membawa kebaikan bagi kita pribadi maupun orang lain.

Waallahu a’lam bisshawab

@kaefota