Kursi Antik ini selesai dibuat tahun 1292 oleh Mpu Djanggaoe, keturunan dinasti Syailendra, dan dibantu oleh gurunya I Nyoman Ranggapati, beliau juga murid Mpu Gandring.

Kursi antik ini dipersembahkan untuk Sultan Malik Al Saleh, Raja Samudra Pasai, sebagai tempat Raja dan para pembantunya bermusyawarah dan mengambil keputusan penting kerajaan, tapi sebelum kursi ini dipersembahkan sang raja telah wafat pada tahun 1292, bersamaan dengan selesai dibuatnya kursi antik ini, sehingga membuat Mpu Djanggoe sedih dan kecewa,  3 (tiga) tahun kemudian, yaitu tahun 1295 beliau juga wafat.

Selanjutnya kursi ini dipelihara oleh Sidharta I Nyoman, kepercayaan setia Mpu Djanggaoe.

080616 Kursi Tertua di Indonesia

Setiap bagian kursi mempunyai eter/energi yang sangat luar biasa dan bertingkat tingkat. Eter/energi yang paling kuat dan menentukan ada dalam Kursi Utama, dalam Kursi Utama adaRuh Wahyu Keprabon, Bokor ada Ruh Titisan Mpu Djanggaoe dan Mpu Djangari dan bagian kursi lainnya ada Ruh Wahyu Kedaton.

Kursi antik tersebut selama lebih dari 700 tahun keadaannya mengenaskan, tidak terawat, dan tidak diperlakukan sebagaimana mestinya, hanya dianggap sebagai Seni Ukir Mebeler.

Selama enam (6) tahun (th 1999 s/d th2005) fenomena/misteri kursi tersebut, sedikit demi sedikit mulai terungkap. Pada perkembangan selanjutnya, bagi yang duduk di kursi tersebut, suka mengalami pejalanan Spiritual.

LATAR BELAKANG

Tujuan dibuatnya kursi tersebut, sebagai souvenir atau hadiah buat Sultan Malik Al Saleh, Raja Samudra Pasai, sebagai balas jasa atau balas budi karena Mpu Djangari adik kandung Mpu Djanggaoe yang merantau dari pulau Bali, diangkat dan dipercaya sebagai penasihat utama kerajaan oleh Sultan Malik Al Saleh, walaupun dia bukan beragama Islam.

Pada awalnya Sultan Malik Al Saleh adalah raja Perlak, sebuah kerajaan kecil yang merupakan cikal bakal berdirinya kerajaan Samudra Pasai, wilayah Aceh sekarang. Sultan Malik Al Saleh merupakan raja pertama kerajaan Samudra Pasai dan merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia dan bertahan sampai dengan 4 (empat) keturunan. Setelah Sultan Malik Al Saleh meninggal datang Marcopolo dari Venesia Itali.

Sultan Malik Al Saleh tahu akan diberi persembahan kursi oleh Mpu Djanggaoe, dan beliau sangat mengharapkan persembahan tersebut, karena akan sangat membantu dalam mengambil keputusan kerjaan, tapi belum sempat menerimanya karena bersamaan dengan selesainya pembuatan kursi tersebut Sultan Malik Al Saleh telah meninggal dunia pada tahun 1292, hal tersebut membuat Mpu Djanggaoe kecewa dan frustasi.

Kekecewaan Mpu Djanggaoe, disamping karena persembahan kursinya tidak sempat diterima Sultan Malik Al Saleh yang keburu meninggal, juga penggantinya Sultan Muhammad (anak kandung Sultan Malik Al Saleh) tidak memperdulikan dan memperhatikan, tidak mirosea (menyepelekan) maksud dan tujuan serta kegunaan dibuatnya kursi tersebut.

Keberadaan kursi tersebut sangat terkenal kemana mana, karena kehebatan/kelebihan proses pengerjaannya dan keahlian pembuatnya, sehingga sempat diperebutkan oleh 4 (empat) kerajaan yaitu : Kerajaan Demak, Kerajaan Majapahit, Kerajaan Pajang dan Kerajaan Banten.

Mpu Djanggaoe dan Mpu Djangari tidak menikah selama hidupnya karena harus perjaka sampai tua untuk menjaga kesucian dan kebersihan jiwanya untuk menambah linuwih dan kesaktian ilmunya, dan sebagian besar hidupnya dicurahkan untuk mengabdi pada kerajaan Samudra Pasai (membuat Kursi dan Senjata Pusaka Kerajaan), oleh sebab itu dia tidak mempunyai keturunan. Kekecewaan Mpu Djanggaoe sangat terbawa pada ruh titisan beliau pada bokor.

SPESIFIKASI

  1. Model : Ukir Penuh 411 (4 Kursi, 1 Meja dan Dudukan, 1 Bokor)
  2. Bahan : Kayu Pohon kelapa (Utuh / Masif)
  3. Jok : Ijuk, dilapisi karung Goni dan kain warna Djingga
  4. Usia : Lebih dari 700 tahun (dibuat sekitar Tahun 1292)
  5. Pembuat : Mpu Djanggaoe dan Gurunya (I Nyoman Ranggapati)
  6. Tujuan : Sebagai tempat Raja mengambil keputusan penting

PROSES PEMBUATAN

Pembuatan kursi antik ini membutuhkan waktu lebih dari 10 (sepuluh) tahun, dibuat dari tahun 1282 sampai dengan tahun 1292. Dalam ide, perencanaan dan pembuatan kursi ini, Mpu Djanggaoe banyak dibantu oleh gurunya yaitu I Nyoman Ranggapati secara kebatinan karena beliau sudah meninggal.

Mpu Djanggaoe sebetulnya tidak bisa membuat dan mengukir kursi, dia mampu melakukannya karena sangat dibantu oleh gurunya yang ahli ukir. Dalam membuat dan mengukir kursi tersebut dilakukan secara naluri, dengan mata tertutup, tanpa perencanaan bentuk/model kursi dan motif ukiran, dan sering dilakukan pada malam hari ditempat sepi.

Dalam mencari dan mengangkut bahan-bahan kursi tersebut, Mpu Djanggaoe dibantu oleh orang kepercayaannya yaitu Sidharta I Nyoman. Dia hanya sebagai rakyat kecil dan bodoh, tapi sangat jujur dan setia kepada Mpu Djanggaoe, nenek moyangnya berasal dari India.

Magis dalam Kursi Utama adalah Ruh Wahyu Keprabon, Meja dan tiga (3) kursi lainnya, ada Ruh Wahyu Kedaton. Sedangkan pada Bokor ada Ruh Titisan dari Mpu Djanggaoe dan Mpu Djangari dan berfungsi sebagai tempat penyimpanan Senjata Pusaka Kerajaan, untuk menambah kekuatan dan kesaktian senjata tersebut. “Surwenda Danurwendawadah yang bersih isinya juga bersih”.

Watek dari Wahyu Keprabon hanya bisa dikendalikan tidak bisa taklukkan atau dikuasai. Sifat atau tabiat dari Ruh Wahyu Keprabon dalam kursi utama ngencik jiwa seorang pemimpin (ksatria, wibawa, arif, bijaksana dan kharismatik),. Sesuai dengan sifat ruh tadi maka kursi tersebut sangat cocok dan besar manfaatnya sebagai tempat musyawarah dan mengambil keputusan para pemimpin.

Proses Pembuatan Kursi adalah :

  1. Dengan ritual / semedi yang sangat mendalam selama 40 hari
  2. Setiap bagian dari kursi tersebut mempunyai eter/energi yang sangat kuat dan bertingkat-tingkat
  3. Pengerjaannya dilakukan satu persatu dengan jarak waktu yang cukup lama dan bahan didapat dari tempat yang berbeda-beda sesuai dengan petunjuk ritual/semedi
  4. Waktu pembuatan lebih dari 10 tahun (tahun 1282 s/d tahun 1292).
  5. Dibuat dengan mata tertutup.
@kaefota
Iklan