072116 Rahasia 700 Kata dalam Al-Quran

Untuk bisa lancar berbicara dalam bahasa Arab, dibutuhkan minimal penguasaan 1.500 kata. Dengan modal vocabulary sebanyak itu, maka secara alami akan bertambah terus ketika didayagunakan dengan cara berbicara, membaca beragam bacaan dan menulis.

Tetapi, mungkin Anda akan terkejut. Al Qur’an yang berisi 6236 ayat, 114 surat dan 30 juz itu, hanya membutuhkan 700 kata untuk berbicara tentang tauhid, keimanan, kehidupan, akhirat, sains, sejarah, alam semesta baik mikro maupun makro kosmosnya, hukum dan seluruh aspek kehidupan.

Inilah bukti kehebatannya. Dengan 700 kata yang penggunaan kata-kata berulang-ulang itu, justru menjadi rahasia kedalamannya.

Secara struktur, 700 kata itu menghasilkan berbagai ilmu yang tak habis-habisnya digali. Mulai dari mantiq (logika), dialektika, uslub (diplomasi) dan ilmu komunikasi.

Secara bahasa, 700 kata itu melahirkan kaidah tata bahasa (nahwu – shorof) dan balaghoh (sastra) tingkat tinggi.

Secara bunyi, 700 kata itu melahirkan ilmu baca atau qiro’ah dan tajwid. Ilmu qiroah itu sendiri bercabang hingga 7 madzhab yang disebut qiroah sab’ah.

Dari 700 kata itu telah menghasilkan ribuan penjelasan berupa hadist-hadist dan dari 700 kata itu pula, lahir beragam ilmu yang ditulis dalam puluhan ribu judul kitab.

Penggunaan 700 kata ini, sekaligus mengajarkan tentang cara berpikir sederhana melalui keringkasan kalimat-kalimat yang justru mampu menguraikan kompleksitas berbagai persoalan dengan mudah. Ungkapan “sebaik-baik tulisan adalah yang singkat dan padat”, sebetulnya belajar dari cara berpikir Qur’an.

Dari 700 kata ini, kita belajar tentang literasi. Tentang teknik menulis yang baik. Konsep penulisan piramida terbalik itu sebetulnya belajar dari cara Qur’an menulis pesan..

The last but not least. Kitab dengan 700 kata ini telah menyelamatkan bahasa Arab dari kepunahan karena pengaruh kebudayaan yang terus berubah dinamis.

Ini bukan semata misteri. Tetapi menjadi bukti akan i’jaz atau kehebatan kitab ini.

Selama 1.400 tahun sejak turun hingga hari ini, selalu ada saja manusia yang ingin melecehkan kehebatan ilmu ini.

Namun, yang ada adalah semakin tampak kebodohan mereka karena tidak satupun yang bisa meniru apalagi menandinginya walaupun satu ayat.

Lalu, apa maksud tulisan ini?

Bukan untuk apa-apa. Bacalah… bacalah… resapilah… pahamilah… ambil lautan ilmunya lalu tulislah. Sebab, selama 1.000 tahun ini umat Islam telah tertidur pulas.

Wallohualambishshawab

@kaefota