SAAT melihat fenomena pergaulan remaja zaman ini, Anda mungkin akan terkejut. Video siswa SMA yang menolak untuk ditertibkan dan membentak-bentak polwan sempat menjadi berita heboh. Pasalnya siswa SMA ini setelah lulus ujian melakukan aksi konvoi di jalanan dengan mencoret-coret pakaian seragam.

 050916 Lemahnya Pendidikan Keluarga & Sekolah Sejak Kecil

Belum lagi banyak remaja yang memperagakan adegan dewasa terhadap teman kencannya. Bagaimana tidak, anak zaman sekarang begitu mudahnya melakukan tindakan yang hanya pantas dilakukan oleh pasangan suami istri? Keprihatinan semakin mendalam saat melihat mereka yang begitu mudahnya mengumbar gambar privasi.

Bobroknya moral remaja baik laki-laki maupun perempuan menunjukkan lemahnya moral, kehampaan jiwa, dan suramnya visi masa depan. Ini bisa menjadi cambukan untuk semua pihak. Tanpa perlu menyalahkan orang lain, justru kita sendirilah yang harus bertanggung jawab mengarahkannya, baik peranan kita sebagai sahabat, orangtua, guru, ulama, aktivis sosial maupun pejabat pemerintahan.

Alangkah bijaknya jika kita menjadikan keluarga sebagai sarana pendampingan remaja. Jika lemah perhatian dan pendidikan keluarga sejak kecil, maka di saat dewasa menjadi penyebab terjadinya penyimpangan-penyimpangan.

Tiap-tiap kalian adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas yang dipimpinnya. Seorang iman adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas yang dipimpinnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin dalam keluarganya dan bertanggung jawab atas yang dipimpinnya. Dan, seorang perempuan adalah pemimpin di rumah suaminya dan bertanggung jawab atas yang dipimpinnya.” (H.R Bukhari, 2546)

Sejak dini, inilah saat yang tepat untuk mendidik moral anak-anak. Masa-masa ini harus dijadikan fokus utama yang memerlukan kerja sama dari semua pihak.

Selain keluarga, sekolah juga memegang peran penting dalam mendidik moral anak-anak. Guru adalah orangtua yang kedua untuk mendidik anak-anak. Tanggung jawab guru dan sekolah sangat besar.

Dalam banyak kesempatan, anak-anak kehilangan sosok orangtua dan guru teladan, yang lebih banyak mendidik anak dengan perbuatan (hal) dari pada perkataan (maqal). Juga mempengaruhi mereka melalui perhatian, kasih sayang, dan pergaulan yang baik.

Waallohu a’lam bisshawab

@kaefota