Sanghyang Tikoro Bandung merupakan salah satu destinasi wisata di Bandung yang misterius dan kontroversial. Konon wilayah Bandung dulunya adalah sebuah danau yang dikenal dengan nama Danau Bandung Purba.

Air Danau Bandung Purba ini kemudian menghilang di sebuah tempat misterius bernama Sanghiyang Tikoro. Bekas danau yang mengering ini kemudian menjadi cikal bakal terbentuknya wilayah Bandung Raya. Dan dari Sanghyang Tikoro ini diyakini muncul sebuah peradaban yang sangat terkenal, yakni suku Sunda di Bandung.

Mungkin karena kisah itulah Sanghiyang Tikoro dinyatakan sebagai destinasi wisata di Bandung yang paling misterius dan kontroversial.

Sanghyang Tikoro adalah sebuah gua di kawasan hutan yang masih perawan di Bandung. Tempat wisata alam di Bandung ini berada di tengah hutan yang sulit dijangkau. Letaknya jauh dari keramaian kota.

sanghyang-tikoro-bandung.jpg

Sanghyang Tikoro terletak antara kecamatan Rajamandalala dan kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat. Sangyang tikoro berada disamping PLTA Saguling sekitar 17 km dari pusat bendungan dan berada di wilayah turbin terakhir.

Wisatawan jarang ada yang berani datang ke destinasi wisata di Bandung yang satu ini. Kecuali mereka yang memiliki nyali tinggi, karena tempat wisata di Bandung ini dikenal angker dan tertutup.

Jika datang sendiri, pasti bikin bulu kuduk kita merinding. Tidak heran kalau destinasi wisata di Bandung ini sepi dari aktifitas wisatawan.

Memang tempatnya agak tersembunyi sehingga jarang banyak orang yang mengetahui langsung bagaimana bentuk Sanghyang Tikoro. Goa Sanghyang Tikoro sangat erat dengan legenda Sangkuriang yang terkenal.

Menurut kacamata ilmiah, Sanghyang Tikoro terbentuk sebagai akibat dari meletusnya Gunung Sunda. Dahsyatnya letusan mengakibatkan seluruh permukaan badannya hancur tak bersisa.

Setelah letusan, yang tersisa hanyalah lubang-lubang lekukan yang dalam dengan muntahan laharnya sangat panas menyebabkan sungai di daerah Batujajar, Cililin dan Padalarang tertimbun dan berubah menjadi lahar dingin.

Lama kelamaan menggunung dan membentuk sebuah telaga yang kemudian populer dengan sebutan Talaga Bandung. Luas Talaga Bandung, menurut data panjangnya mencapai sekitar 6 km dan lebarnya sekitar 15 km.

Tanah di Padalarang dan Cililin umumnya mengandung kapur. Namun, sedikit demi sedikit akhirnya terkikis membentuk lubang aliran yang kelak kemudian dikenal sebagai Sanghyang Tikoro.