120215 Hal yang Paling Mengotori Hati

 

Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatu

Adalah kita sering berusaha sekuat tenaga menjaga agar pakaian dan kendaraan tidak kotor. Kita juga menjaga ponsel, sandal,dan sepatu supaya tidak kotor. Tapi, kita jarang berusaha maksimal menjaga dan membersihkan hati kita dari kekotoran.

Padahal,”Amat sangat beruntung (sukses, menang, bahagia) orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh rugilah orang yang mengotorinya.” (QS. asy-Syams [91]: 9-10).

Harusnya menyadari bahwa kita tentunya sering lalai dan membiarkan banyak hal yang tidak perlu mengotori hati ini, karena kedekatan dengan Allah sangat tergantung pada qalbun salim. Bukan banyaknya ilmu dan amal, tapi bersihnya hati.

Semakin bersih hati seseorang, semakin mudah baginya untuk yakin. Lalu, jika ada yang bertanya, “Mengapa saya kurang yakin kepada Allah?”,maka yang begini ini berarti hatinya masih kotor.

Secara sederhana hal yang paling mengoroti hati sebetulnya ada 2 (dua):

  • pertama adalah cinta terhadap duniawi
  • kedua adalah nafsu.

Oleh sebab itu, mari kita melihat dunia ini dengan biasa-biasa saja dan berusaha menahan nafsu ini.

Seperti halnya terhadap dunia, umumnya kita sering menganggap kesuksesan berasal dari kekayaan, gelar, pangkat, kedudukan, popularitas, piala, medali, piagam dan sebagainya. Kita juga suka terkagum-kagum pada semuanya itu. Padahal tidak ada di dalam al-Quran, alat ukur kesuksesan kecuali cuma satu, yakni:

Inna akromakumindallahiatqokum.

(Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu). (QS. al-Hujurat[49]: 13).

Sebagai contoh,bangga dengan memiliki barang bermerek. Sebetulnya tidak salah dan boleh saja kalau kita mau membelinya. Tetapi jangan merasa bangga, mulia atau sukses karena memiliki barang bermerek. Hidup ini sama sekali tidak ada urusannya dengan merek. Justru perasaan bangga atau mulia dengan merek tersebut yang mengotori hati.

Misalkan kita punya jam tangan bermerek cilok (saya tidak boleh menyebut merek). Walaupun harganya lima puluh bahkan ratusan juta, tetap saja hanya jam tangan. Kecepatannya juga tidak berbeda dengan yang harga 20 ribu.

Apa artinya jam tangan lima puluh juta kalau tidak membayar zakat? Kalau memiliki jam bermerek berjuta-juta tapi hati kotor dan tidak beriman, maka sama saja dengan sampah.

Hal ini bukan berarti bermaksud menghina, namun disarankan tidak perlu membeli barang yang bermerek mahal. Nanti tidak ada yang percaya. Kita mengaku asli juga tetap akan dianggap kw tiga. Kita punya bukan karena ingin, tapi sesuai dengan keperluan.

Hal serupa pula sebagai contoh, menahan nafsu agar tidak berlebihan. Misalnya, jangan memaksakan diri membeli barang yang tidak perlu. Boleh jika niat membeli jam tangan yang bagus supaya awet. Karena yang penting bukan mahal atau murah. Berlebihan itu melampaui keperluan atau tidak.

Misalnya kita ingin punya jam yang tahan air, karena sering beraktivitas di dalam air, maka belilah jam tahan air sepantasnya. Tapi kalau pemakaiannya biasa saja, maka untuk apa memakai jam seorang penyelam, padahal berenang saja tidak bisa. Sejatinya kita harus benar-benar periksa hati dan tahan nafsu ini.

Dalam contoh yang lain, jangan memaksakan diri membeli ponsel yang ada internetnya. Harus kita periksa dulu hati ini. Apakah agar diakui dan pede dalam bergaul? Atau, untuk melihat hal-hal yang buruk? Kalau nafsu kita pasti suka. Tapi nafsu memang selalu membuat enteng urusan yang mencelakakan. Jika tidak perlu, lebih baik dijual dan tidak usah pakai ponsel sekalian.

Dalam hal ini kuncinya sederhana: Tahan nafsu kita, dan jangan sibuk dengan penilaian makhluk lain. Biasanya kita menyukai topeng-topeng duniawi tersebut diatas, karena ingin atau berharap pada makhluk. Seperti ingin dipuji, diakui, dikagumi,dan diperlakukan spesial. Lalu, kalau sudah diakui dan dikagumi orang lain, selanjutnya apa?

Kemungkinannya kita terus mempertahankan dan menambah pengakuan dan kekaguman orang. Apakah tidak lelah jika menghabiskan umur dengan sibuk mengurus penilaian makhluk dan menuruti nafsu? Hati menjadi cepat mengeras kalau hidup mengikuti nafsu dan betapa menjadi sia-sia hidup ini.

Makhluk tidak punya apa-apa! Hanya menumpang hidup, dititipi dan mengaku-aku saja memiliki yang memiliki segala-galanya adalah Allah SWT! Selain Allah seluruhnya sama seperti kita. Mondar-mandir dan petantang-petenteng sebentar, lalu mati. Selain Allah, tidak ada yang mempunyai pengampunan, pahala dan surga.

Biasa saja terhadap dunia. Ketika ada jangan sombong dan di saat sedikit tidak perlu minder atau iri pada orang lain. Karena bangga, sombong, ujub, riya maupun minder dan iri tersebut, sama-sama ciri pecinta dunia. Sepanjang dunia masih menyilaukan, hati kita pun amat sulit bersih.

Tentunya yang menulis ini pun belum sepenuhnya cocok dengan apa yang ditulis atau ditausiahkan. Namun, mari kita ikhtiar bersama-sama menjaga kebersihan hati.

Harus benar-benar serius menjaganya. Karena banyak kejadian di setiap waktu yang mudah membuat hati menjadi kotor. Sedangkan secara syariatnya, siapa lagi yang menjaga hati ini kalau bukan kita sendiri, benar?

Wallohu ‘alam bisshawab

Barakallah fiik