Misalkan ada yang pulang salat dari masjid, lalu dia disapa,”Saya lihat saudara ini memang orang yang saleh.” Dalam hatinya langsung mengiyakan, “Yah, memang sudah garis hidup saya jadi orang saleh.”

Dia langsung termakan oleh kata-kata saleh, dan lupa terhadap dosa, kemaksiatan maupun salatnya yang tidak khusyuk.

Setiap yang Beriman Pasti Diuji

Naluri manusia memang senang dipuji, sebab memang sudah ditanamkan oleh Allah. Namun,seharusnya senang dipuji ini adalah dipuji oleh Yang Mahatahu tentang siapa diri kita yang sebenarnya. Bukan senang dipuji oleh orang atau makhluk yang sama sekali tidak tahu apa-apa.

Membohongi diri sendiri kalau kita merasa senang,apalagi termakan oleh pujian dari yang tidak mengetahui siapa seutuhnya kita.

Rasulullah saw menganjurkan agar wajah ditaburi dengan pasir bila ada yang memuji. Kita dipuji karena Allah menutupi dosa, aib dan kekurangan kita.

Pujian merupakan contoh ujian dari Allah. Pujian itu termasuk ke dalam ujian dengan kebaikan.

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan,Kami telah beriman, dan mereka tidak diuji lagi? Dan sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. al-Ankabt [29]: 2-3)

Setiap yang beriman pasti diuji. Untuk mengingatkan siapa yang benar dan siapa yang berdusta. Tapi ujian tidaklah berbahaya, yang berbahaya adalah salah dalam menyikapinya, berbahaya kalau kita termakan atau terlena olehnya.

Contoh dalam ujian yang enak atau ujian dengan kebaikan sebenarnya amat banyak. Namun kita sering tidak sadar, mudah lupa dan termakan olehnya, bahkan ada yang tidak menganggapnya sebagai ujian.

Mulai dari yang sederhana, seperti saat melihat iklan yang berhadiah langsung mobil mewah, rumah megah atau perhiasan.

Baru melihat iklan begitu saja kita bisa lupa dan tidak mau bertanya ke hati terdalam: Apakah kita yakin kalau memiliki yang seperti itu akan langsung bahagia? Atau, ketika melihat artis yang ganteng-ganteng dan cantik-cantik. Apakah yakin dengan memiliki pasangan yang berpenampilan indah dan menawan, hidup kita akan langsung bahagia? Semua ini ujian.

Berhati-hatilah dengan ujian-ujian yang mengenakkan, misalnya diberikan harta oleh Allah. Jika tidak benar-benar hati-hati,akan semakin terus termakan. Penyakit akan semakin lengkap. Dari ingin memperlihatkan kepada orang (riya), merendahkan orang yang tidak punya (sombong), sampai merasa diri berbeda dari yang lain atau seakan yang paling sukses (ujub).

Karena memang tidak mudah punya harta. Mungkin ada kebaikan yang bisa kita lakukan dengan harta itu. Misalnya memberi sumbangan. Namun yakinkah kita, dengan bermacam penyakit tadi, sumbangan itu bisa menjadi amal? Memantapkan niat agar ikhlas saja terasa sulit. Maksud memberi menjadi supaya dikenal sebagai dermawan atau agar orang yang ditolong nanti membalas budi maupun supaya tidak menyusahkan.

Setiap yang beriman pasti diuji, bisa dengan ujian kebaikan atau sebaliknya. Namun kita harus tetap tenang karena salah menyikapi ujian itulah yang berbahaya dan yang mudah kita lupakan adalah ujian yang menyenangkan. Padahal ujian yang ini amat banyak macamnya, baik dalam hal harta, pangkat, gelar hingga popularitas.

Oleh sebab itu, kita harus senantiasa berhati-hati menyikapi setiap ujian selama mampir di dunia ini. Jangan semakin diberi ujian,malah semakin tidak kenal siapa diri kita yang sebenarnya. Semakin tidak mau mengakui bahwa kita ini hanyalah hamba Allah yang tidak punya apa-apa, berlumur dosa, bodoh, hina,dan kotor.

“Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta.”

Waalohu ‘alam bisshawab