ALLAH Maha Melihat dan Mendengar semua kebaikan maupun kemaksiatan sehalus apa pun. Tidak ada tempat yang tersembunyi bagi Allah. Semua tempat adalah ciptaan, milik dan dalam kekuasaan Allah. Gelap dan terang sama saja bagi Allah. Karena gelap Allah yang menciptakan, terang pun demikian.

 112515 Untuk Perempuan yang Pernah Tergelincir

Mungkin terlintass dalam pikiran, ” repot amat kalau Allah segala tahu.” Memang begitulah faktanya. Itu juga yang saya pikirkan. Bagaimana dengan apa-apa yang sudah dilakukan ketika dulu belum tahu ilmunya. Padahal tidak ada satu pun yang tidak dicatat di sisi Allah dan tidak selintasan hati pun yang tidak diketahui-Nya.

Bersembunyi dan segelap apa pun pasti terekam di sisi Allah. Orang-orang yang berdua-duaan itu pasti di keramaian. Masing-masingnya dikawal dua malaikat. Walaupun lampu dimatikan, tidak ada efeknya dan tetap dicatat. Belum lagi, Allah Maha Menyaksikan. Tidak ada satu pun yang luput dan mudah bila Allah berkehendak membukanya.

Jadi, kalau apa-apa yang telah kita perbuat ditutupi oleh Allah, maka tidak usah dibuka. Mari kita bertobat saja. Karena, bukankah masing-masing kita masih dihormati orang karena Allah yang menutup aib kita? Adakah di antara pembaca tulisan ini yang tidak memiliki dosa? Tidak ada dan tidak perlu diberitahukan kepada siapa-siapa. Kita tinggal bertobat saja.

Begitu halnya bila  ada seorang perempuan yang pernah tergelincir. Ketika akan atau pun sudah menikah, mungkin dia bertanya, ” … perlukah saya mengaku?”

Kalau tidak ditanya, tidak perlu. Siapa tahu suami dibuat tidak mengerti apa-apa oleh Allah. Namun, jika calon suami bertanya, “Kamu masih asli atau tidak?“, maka mengaku saja.

Memang ada kemungkinan tidak jadi dinikahi. Tidak mengapa, karena berarti itulah yang terbaik. Daripada tetap jadi menikah dan sepanjang pernikahan nanti menjadi bulan-bulan penderitaan. Lebih baik batal.

Allah Yang Maha Menyaksikan lagi Maha Mengawasi pasti menghargai kejujuran itu. Niatkanlah, “Ya Allah, saya jujur hanya karena Engkau.” Kemudian katakan kepada calon suami,”Saya pernah melakukan perbuatan hina, tolong pikirkan baik-baik, kang. Kalau akang siap mari, tapi kalau tidak siap jangan.”

Mungkin calon suami menjawab, “Maaf ya neng, saya tidak minat sama yang kayak gini.” Rasa pahit pasti ada, tapi tetaplah tenang, “Ya ngga apa-apa, kang. Berarti kita bukan jodoh, terima kasih.” Kalau ditanya, “Neng ngga apa-apa dibatalkan?” Maka kuatkan hati, bahwa “Sedih pasti saya sedih, tapi inilah penggugur dosa-dosa saya. Ngga apa-apa, yang penting saya sudah mengatakan yang sejujurnya.”

Allah pasti menghargainya. Mungkin di malam hari hatinya dihibur oleh Allah dan dilapangkan. Atau, mungkin pada waktunya Allah akan mendatangkan calon suami yang saleh, bisa menerima apa adanya dan memang yang terbaik untuk si neng.

“Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Rabb-mu, karena sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami.”(QS. ath-Thr [52]: 48)

Jadi, bersabar itu juga disaksikan oleh Allah. Cukuplah Allah yang menjadi saksi. Orang lain menghargai atau tidak kejujuran kita, tidak masalah. Yang penting Allah pasti menyaksikan dan pasti menghargai. Kita terus saja bertobat dan berbuat kebaikan, lillaahitala. Soal jodoh dan rezeki pasti beres. Berurusan dengan Allah tidak akan pernah dikecewakan.

Kita harus bersyukur karena betapa banyak aib kita ditutupi Allah. Mari kita terus bertobat kepada Yang Maha Pengampun dan tidak usah diomongkan kepada orang lain. Kecuali kalau ada kondisi yang menuntut kita harus jujur, seperti si neng tadi, maka jujurlah dengan niat lillaahitaala.

Kejujuran, kesabaran, kebaikan maupun keburukan dan kemaksiatan yang kita lakukan di mana pun dan sehalus apa pun pasti diketahui Allah.

“Sesungguhnya Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.” (QS. al-Hajj [22]: 17).

Wallohu ‘alam bisshawab