Hikmah & Renungan

Rantai Tolong Menolong

MAS Dasuki, dia biasa dipanggil. Dia bersama istri berjualan beraneka sayuran, ikan, ayam dan bumbu-bumbu dapur. Pokoknya semua bahan-bahan mentah untuk ibu-ibu olah menjadi masakan yang lezat tersedia disini. Jika tidak ada, Insya Allah bisa dipesan dan dibayar esok harinya. Mereka berjualan di depan rumah mereka dan biasanya dimulai pukul 06.00-an.

Sekitar pukul 10-an, mas Dasuki berjualan makanan matang. Ada ayam bakar, sayur kacang panjang campur tempe, urap, ikan tongkol, ikan emas atau ikan bandeng. Warung nasi ini terletak bersebelahan dengan warung sayur-mayurnya tapi masih di tanah mereka sendiri.

Berbeda dengan mpok Kemeh. Penjual nasi uduk, bakwan, tahu dan penganan sarapan lainnya ini, membuka dagangannya di lorong yang membatasi antara rumah pak Hasan Basri dan pak Waluyo. Akibatnya jika ada kendaraan yang akan keluar melalui lorong itu, mpok Kemeh harus menggeser gerobak dagangannya dahulu.

Tapi sekarang, tempat dagangannya sudah lebih aman. Karena dia mendapat izin dari pak Hasan Basri. Dia bisa berdagang di depan rumah pak Hasan Basri. Dengan bermodalkan gerobak dagangan dan terpal penutup, mpok Kemeh beraksi.

Selain menjajakan dagangan buatannya sendiri, mpok Kemeh juga menjajakan makanan titipan orang. Hitung-hitung menolong orang dan juga bisa mendapat tambahan pemasukkan.

Bila dagangannya tidak habis, maka dia titipkan ke warung pak Waluyo.

Senang rasanya melihat orang saling tolong menolong. Pak Hasan Basri mengizinkan bagian depan rumahnya menjadi tempat mpok Kemeh berdagang. Sementara mpok Kemeh menolong orang dengan menerima titipan makanan. Pak Waluyo pun juga punya jasa di sini, dia membantu mpok Kemeh menjajakan makanannya yang belum laku.

Di kehidupan perkotaan yang sarat ego, cuek bebek, ananiyyah (ke-akuan) kata orang Arab, ternyata kita masih melihat pemandangan saling tolong menolong.

Barakallah fiikum