Keturunan Sultan Demak Jadi Pahlawan Nasional Indonesia

Presiden Joko Widodo menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada empat pejuang kemerdekaan Indonesia. Keempatnya adalah Letjen TNI (Purn) Djamin Ginting dari Sumatera Utara, Sukarni Kartodiwerjo dan KH Abdul Wahab Hasbullah dari Jawa Timur, serta Mohamad Mangoendiprojo dari Jawa Tengah.

Salah seorang dari keempat pahlawan nasional yang baru itu, Mohamad Mangoendiprojo, adalah salah seorang keturunan Sultan Demak dan Prabu Brawidjaja. Ia berperan besar dalam peristiwa 10 November 1945 di Surabaya.

Darah perlawanan terhadap pemberintah kolonial Belanda diwarisinya dari para leluhur. Kakek buyut Mohamad, Setjodiwirjo atau Kyai Ngali Muntoha, juga dikenal sebagai pemimpin perlawanan pada kurun 1825-1830.

Bersama  Pangeran Diponegoro, Kyai Ngali Muntoha memperluas perlawanan ke daerah Kertosono, Ngawi dan Banyuwangi.

Adapun Mohammad yang mengikuti jejak buyutnya, setelah lulus dari OSVIA pada tahun 1927, menjadi Pamong Pradja. Ia sempat menduduki posisi Wakil Kepala Jaksa dan kemudian Asisten Wedana di Jombang, Jawa Timur.

Rasa kebangsaan dan keinginan membela negara, membuat Mohammad pada tahun 1944 meninggalkan posisi bergengsi dari Belanda itu. Ia bergabung dengan Pembela Tanah Air (Peta). Ketika itu usianya 38 tahun. Setelah lulus pendidikan, ia kemudian ditugaskan sebagai Daidancho atau Komandan Batalyon di Sidoardjo.

Setelah Jepang kalah dalam Perang Dunia Kedua, Mohamad bergabung dengan Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang kemudian menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR).

Pada tanggal 25 Oktober 1945 pemerintahan sipil Belanda atau NICA mendarat di Surabaya. Mohamad dan sejumlah temannya, seperti Bung Tomo, Doel Arnowo, Abdul Wahab, Drg Moestopo, memimpin perlawanan menghadapi Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia.

Di saat bersamaan, Mohamad diangkat sebagai pimpinan TKR di Jawa Timur. Surat pengangkatannya sebagai komandan TKR Jawa Tengah ditandatangani Jenderal Oerip Soemomihardjo.

Mohamad juga mendapat tugas khusus untuk menjalin komunikasi dengan pihak Sekutu pada saat gencatan senjata tanggal 29 Oktober 1945.

Sore hari, Mohamad dan Jenderal Mallaby memeriksa pasukan  yang sedang gencatan senjata di seluruh Surabaya. Rombongan ini berhenti di Jembatan merah depan Gedung Internatio. Pemuda-pemuda Indonesia tampak sedang mengepung pasukan Gurkha yang bertahan di dalam gedung.

Mohamad masuk ke dalam gedung yang dikuasai Inggris untuk melakukan negosiasi. Tanpa disangka, Mohamad kemudian disandera oleh tentara Ghurka dan terjadilah tembak-menembak antara tentara Inggris dan pemuda Surabaya. Mobil Mallaby meledak dan terbakar. Mallaby tewas di dalam mobil.

Pihak Inggris tentu marah dan meminta seluruh tentara dan pemuda Indonesia meletakkan senjata.

Mohamad Mangoendiprojo tentu menolak permintaan ini hingga pecahlan pertempuran 10 November 1945.

Pertempuran itu berlangsung selama 22 hari. Sebanyak  6.315 anggota TKR tewas. Mohamad Mangoendiprojo walau terkena pecahan mortir di pelipisnya, tetap terus memimpin pertempuran melawan tentara Sekutu.

Setelah pertempuran Surabaya, Mohamad Mangoendiprojo dipromosikan menjadi Jendral Mayor dan Kepala Staff TNI, yang surat keputusannya ditanda-tangani oleh Presiden Soekarno.

Setelah karier militernya berakhir, Mohammad Mangoendiprojo menerima tugas menjadi Bupati Ponorogo untuk mengamankan daerah Madiun setelah pemberontakan PKI Muso. Tugas selanjutnya adalah sebagai Residen atau Gubernur pertama di Lampung.

Mohammad Mangoendiprojo meninggal dunia pada 13 Desember 1988,  dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan di kota Bandar Lampung. Mohamad Mangoendiprojo adalah ayah dari Letjen Himawan Soetanto, Mertua dari mantan Menko Polkam Soesilo Soedarman, serta Eyang dari Menko Maritim Indroyono Soesilo “Kabinet Kerja” Jokowi-JK  (2014-2019) dan Eyang dari anggota DPR RI Aroem Hadiati (2014-2019).