Tahun Baru Islam i Muharram

Tahun Baru Islam 1 Muharram Hijriyah

Memasuki Tahun Baru Islam 1 Muharam (Hijriyah), sebagai Muslim dituntut menyikapi momentum dengan muhasabah (introspeksi diri).

Apakah ibadah atau amal saleh kita selama ini sudah memenuhi syarat untuk diterima oleh Allah SWT?
Dilandasi keimanan, ilmu, ikhlas dan sesuai dengan sunah Rasul?
Bekal amal saleh apa yang sudah kita miliki untuk kehidupan di akhirat kelak?

Muhasabah harus dilakukan sepanjang waktu, hari demi hari, bahkan detik demi detik, setidaknya pergantian tahun baru Islam menjadi “momentum tahunan” — muhasabah.

“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kamu sekalian kepada Allah, dan hendaklah setiap diri, mengevaluasi kembali apa yang telah dilakukan untuk hari esok (akhirat)” (QS. Al-Hasyr: 18).

Tafsir Syekh Syihabuddin Mahmud bin Abdullah al-Husaini al-Alusi dalam kitabnya Ruhul Ma’ani:

“Setiap perbuatan manusia yang telah dilakukan pada masa lalu, mencerminkan perbuatan dia untuk persiapan diakhirat kelak. Karena hidup di dunia bagaikan satu hari dan keesokan harinya merupakan hari akherat, merugilah manusia yang tidak mengetahui tujuan utamanya”

Umar bin Khottob mengatakan: Hasibu anfusakum qobla antuhasabu.
“Evaluasilah (hisablah) dirimu sendiri sebelum kalian dihisab (di hadapan Allah kelak)”

Memasuki Tahun Baru Hijriyah juga memaknai peristiwa hijrah Rasulullah SAW dan para sahabat dari Makkah ke Madinah yang menjadi awal perhitungan kalender Islam.

Di #Madinah, Rasul membangun 3 fondasi masyarakat Islami menuju daulah Islamiyah:

1. Masjid,
2. Ukhuwah Islamiyah,
3. Perjanjian damai dengan semua warga Madinah (Piagam Madinah).

Mari makmurkan masjid, semarakkan aktifitas ibadah dan dakwah di dalamnya, eratkan ukhuwah sesama Muslim dan kembangkan toleransi beragama tanpa merusak akidah.

Sabda Nabi SAW, Muhajir (orang yang berhijrah) dalam makna luas, adalah dia yang meninggalkan larangan Allah SWT:
“Al-Muhajiru man hajara ma nahallahu ‘anhu”

Wallahu a’lam bish-shawabi.