kf.wp 100414 SUAMI KEPALA KELUARGA

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahirahmanirahiim
Suami merupakan kepala keluarga adalah sebagai seorang kepala rumahtangga serta bertanggungjawab memberikan nafkah dan didikan agama kepada keluarganya supaya taat kepada perintah Allah SWT dan meninggalkan semua larangannya. Segala dosa yang dilakukan oleh isteri dan anak-anaknya akan ditanggung oleh mereka sendiri dan tidak akan dapat dipertanggungjawabkan kepada suami atau orang lain.
Suami atau ayah hanya akan menanggung dosa karena tidak mendidik isteri dan anaknya ke jalan yang benar, yaitu kepada ajaran Islam.
Firman Allah SWT :

“ Katakanlah: ” (Sesudah Aku mentauhidkan Allah dan berserah diri kepada-Nya) Patutkah Aku mencari Tuhan selain Allah, padahal Dia lah Tuhan bagi tiap-tiap sesuatu? dan tiadalah (kejahatan) yang diusahakan oleh tiap-tiap seorang melainkan orang itulah saja yang menanggung dosanya dan seseorang yang boleh memikul tidak akan memikul dosa perbuatan orang lain (bahkan dosa usahanya saja), kemudian kepada Tuhan kamulah tempat kamu kembali, lalu Ia menerangkan kepada kamu akan apa yang kamu berselisihan padanya.”” (Al-An’am [6]: 164)
Suami yang memberikan didikan agama dan teguran kepada isteri dan anak-anaknya supaya jangan melakukan perkara-perkara yang dimurkai Allah SWT dan mematuhi segala peraturan dalam Islam, tetapi bila isteri dan anak-anaknya tetap melakukan perbuatan dosa, maka suami tersebut terlepas dari dosanya, karena suami tersebut telah menunaikan apa yang telah menjadi tanggungjawabnya sebagai kepala keluarga. Suami yang menghalalkan atau tidak berani menegur isterinya melakukan dosa seperti mendedahkan aurat dikira sebagai dayus dan tidak layak masuk syurga, kerana suami tidak mencegah isteri dan anak-anaknya melakukan kemungkaran, malah segala amalan suami tersebut akan ditolak oleh Allah dan dihunjamkan ke dalam api neraka oleh Allah SWT karena gagal menunaikan amanah dan tanggungjawabnya.

kf.wp 100414 SUAMI KEPALA KELUARGA2

Firman Allah SWT, yang artinya :
“Wahai orang-orang yang beriman jauhkanlah dirimu dan keluargamu dari azab api neraka”.
Pada anak-anak yang belum akil baligh, tidak ditetapkan lagi dosa dan pahalanya, karena mereka orang yang mukallaf, maka segala kejahatan dan dosa akan ditanggung oleh ayahnya sendiri, karena ayahnya merupakan kepala keluarga yang wajib bertanggungjawab untuk memberikan pendidikan agama kepada anak-anaknya dan sebaliknya apabila anak tersebut telah akil baligh, maka segala dosanya akan ditanggung oleh mereka sendiri, ini disebabkan oleh segala sesuatu dalam peraturan syariat Islam telah ditetapkan atas diri mereka karena telah mencapai akil baligh.
SubhaanAllah
Waallahualambissawab