kf.wp 100414 MUSIBAH ITU MERUPAKAN PELEBUR DOSA

Dalam sebuah hadis disebutkan, ” Kelak pada hari kiamat akan didatangkan seorang penduduk dunia yang paling mendapatkan nikmat dari penghuni neraka, lalu ia dicelupkan ke dalam neraka dengan sekali celupan. Kemudian ditanya : “ Wahai anak keturunan Adam, apakah kamu pernah melihat kebaikan? Apakah kamu pernah mendapatkan kenikmatan? ”

la menjawab : “ Tidak, demi Allah, wahai Tuhanku. ”
Lantas didatangkan seorang yang paling menderita di dunia dari penduduk surga, lalu ia dicelupkan ke dalam surga sekali celupan. Lantas ditanya,:
“ Wahai anak keturunan Adam, pernahkah kamu melihat penderitaan?
Pernahkah kamu merasakan kesengsaraan? ”
la pun menjawab : “ Tidak demi Allah, wahai Tuhanku. Tidak pernah aku mengalami penderitaan dan tidak pernah melihat kesengsaraan. ” (HR. Muslim).

Secara kasat mata, ada segolongan manusia yang menderita secara fisik karena baru saja ditimpa suatu bencana serta kehilangan harta benda yang dimiliki, tetapi bagi manusia beriman, cobaan fisik seperti itu tidak membuatnya sakit berkepanjangan. Musibah yang menimpa tidak menjadikannya berputus asa dari karunia-Nya. Ujian yang diterima justru dijawab dengan tetap beribadah kepada-Nya, bahkan dia semakin mendekatkan diri kepada-Nya. Dengan sikap tawakal dan sabar, insya Allah, dia tak akan merasakan sakitnya musibah ketika hidup di dunia, karena Allah SWT menggantinya dengan kenikmatan yang tiada tara, sebagai balasan atas keimanannya kepada Yang Maha kuasa, dia akan tetap dapat bertahan di tengah cobaan hidup yang bertubi-tubi, kadar iman dan takwa mendorongnya untuk tetap mengatakan kepada Sang Pencipta :
“ Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun “
” Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali.” (QS. Al-Baqarah [2]: 156).

Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah menyebutkan, orang-orang beriman ketika tertimpa musibah dan cobaan, akan tetap berusaha mengobati dirinya sendiri, dengan cara sebagai berikut :
Pertama,
menyadari sepenuhnya dunia adalah tempatnya ujian, petaka, dan musibah.

Kedua,
melihat sekelilingnya bahwa masih banyak musibah orang lain yang jauh lebih besar dari musibah yang menimpa dirinya.

Ketiga,
menyerahkan sepenuhnya kepada Allah SWT seraya mengharap pahala atas musibah yang menimpanya, serta meminta pengganti yang lebih baik hanya kepada-Nya.

Keempat,
meyakini bahwa cobaan dan musibah sebagai pelebur dari dosa-dosanya yang telah lalu.

kf.wp 100414 MUSIBAH ITU MERUPAKAN PELEBUR DOSA2

Rasululah saw bersabda :
“ Senantiasa cobaan menimpa laki-laki dan perempuan yang beriman, pada tubuhnya, harta dan anaknya, sehingga ia berjumpa dengan Allah SWT dalam keadaan tidak memiliki dosa. ”
(HR Ahmad dan At-Tirmidzi).

Wallohualambissawab