5 (LIMA) WAKTU YANG KITA RINDUKAN5 (LIMA) WAKTU YANG KITA RINDUKAN

Sudah berkali-kali saat adzan berkumandang, disebuah pelataran mesjid dikomplek tempat ku tinggal pasti terparkir sebuah motor dengan gerobak bakso diatasnya. Hingga pada suatu saat, setelah sholat Magrib, aku coba menyapanya saat itu lagi hujan besar, pasti nikmat sambil menyantap bakso hangat-hangat.
” Mulai jam berapa keluar kang? ” tanyaku,
” Saya keluar habis dzuhur. ” kata si akang baso, sebut saja Kang Aceng.
Dia berkeliling hingga setelah isya, dari obrolan panjang tersyirat kata kata yang terpatri dalam hatiku…
” SAYA DAGANG BAKSO, UNTUK ISI WAKTU SAJA AGAR TAK SIA-SIA SAMBIL IKHTIAR CARI NAFKAH PAK,
YANG UTAMANYA SAMBIL MENUNGGU WAKTU SHOLAT ”.

Disuatu kesempatan lain, saat adzan Isya, kembali aku temukan sebuah peristiwa yg mengharukan, saat Tukang bakso ini dikerumuni calon pembeli, dengan santunnya dia berucap :
“… maaf sudah Adzan isya’ saya tinggal dulu ke mesjid ya…” dengan langkah pasti, dia tinggalkan kerumunan pembeli itu melaju mantap ke rumah Allah SWT.

Subhanallah!
Jadi panggilan Allah SWT berupa Adzan atau panggilan waktu Sholat adalah merupakan momen terbaik dan tertinggi diatas segala aktifitas duniawi.

Di tangan Allah-lah segala bentuk kekayaan, yang dibagikan kepada seluruh makhluk hanyalah setetes air ditengah luasnya samudera, mengapa kita harus takut kehilangan kekayaan yang tak seberapa untuk sejenak memenuhi panggilan-NYA ?
Haruskah panggilan dari Dzat yang memenuhi segala kebutuhan kita, kita akhirkan karena adanya peluang yang mungkin tidak akan datang lagi, lalu siapakah yang menciptakan WAKTU dan Peluang itu sendiri ?
Jangankan sebuah Peluang, JATAH HIDUP kita saja bisa dicabut kapan saja kalau Allah SWT mau.

“ Dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’ (dalam keadaan berjamaah). ” (QS Al Baqoroh [2] : 43).

Rasululloh saw telah bersabda :
“ Demi Dzat yang jiwaku yang ada di tangan-Nya, ingin kiranya aku memerintahkan orang-orang untuk mengumpulkan kayu bakar, kemudian aku perintahkan mereka untuk menegakkan sholat yang telah dikumandangkan adzannya, lalu aku memerintahkan salah seorang untuk menjadi imam, lalu aku menuju orang-orang yang tidak mengikuti sholat jama’ah, kemudian aku bakar rumah-rumah mereka.” (HR. Bukhori)

Dari Abi Hurairah ra berkata bahwa Rasulullah saw didatangi oleh seorang laki-laki yang buta dan berkata, :
“ Ya Rasulullah, tidak ada orang yang menuntunku ke masjid.”
Rasulullah saw berkata untuk memberikan keringanan untuknya.
Ketika sudah berlalu, Rasulullah saw memanggilnya dan bertanya,
” Apakah kamu dengar adzan shalat? ”
” Ya”, jawabnya.
” Datangilah “, kata Rasulullah saw.
(HR Muslim 1/452)

Sahabat besar Ibnu Mas’ud rodhiyallohu’anhu berkata tentang orang-orang yang tidak hadir dalam sholat jama’ah :
“ Telah kami saksikan (pada jaman kami), bahwa tidak ada orang yang meninggalkan sholat berjama’ah kecuali orang munafik yang telah diketahui kemunafikannya atau orang yang sakit ”.

Dengan demikian apakah harus meninggalkan kantor atau rumah setiap kali waktu sholat tiba, bukankah salah satu ruang kantor atau rumah kita bisa kita jadikan Masjid untuk berjama’ah bersama para karyawan lain atau seluruh anggota keluarga ?
Ajaran Islam tidak pernah mempersulit pengikutnya untuk melaksanakan ketaatan dan kepatuhan terhadap Allah SWT. Selalu ada JALAN MUDAH untuk yang ingin TAAT KEPADA ATURAN Allah SWT.

Barakallahu fiikum

Wallohualambissawab