“Kurangilah kesenanganmu dengan dunia. Supaya berkurang pula kedukaanmu pada dunia.” (Al-Hikam)

kf.wp 072714 Inilah Kehidupan, Meraih Bahagia Dunia-Akhirat

Alhamdulillah, pujian seutuhnya hanya milik Allah yang Maha pengasih dan penyayang. Dialah yang mengurus kita setiap saat, kapan pun dan di mana pun. Shalawat dan salam tetap tercurah kepada Rsulullah, Muhammad Saw.

Dunia ini kiranya akan tampak indah dan menyenangkan versi nafsu.Padahal, yang lebih baik adalah akhirat. Maka kita harus berani mengurangi kesenangan dunia. Hanya saja bukan berarti semua yang ada di dunia ini buruk.

Disebutkan duniawi itu adalah segala sesuatu yang melalaikan kita kepada Allah. Bukan segala hal yang ada di dunia. Contoh, banyak harta bisa disebut cinta dunia, tapi juga bisa cinta akhirat. Kalau dalam mencari nafkah caranya bersih, niatnya lurus, walaupun selama bekerja tampak berlebihan, itu bukan karena cinta dunia, tapi akhirat.

Sebaliknya ibadah bagus, setiap malam tahajud, umrah, haji tapi kalau niat di dalam hati untuk dipuji orang, maka cintanya lebih pada dunia. Jadi, jangan dikira orang yang sibuk dengan dunia disebut pecinta dunia. Orang yang sibuk dengan akhirat pun belum tentu cinta akhirat.

Secara umum dunia yang paling menggoda tidak jauh dari uang, harta, kedudukan, jabatan, popularitas, pujian, dan penghargaan. Yang dikejar-kejar untuk memperoleh kebahagiaan.

Padahal kekayaan bukanlah jaminan hidup jadi cukup (bahagia). Cukup itu dari tawakal. Cukup itu tidak ada kaitannya dengan kekayaan. Cukup itu kaitannya dengan keyakinan.

Begitu pun kebahagiaan tidak datang dari dunia berikut isinya. Bahagia datang dari keyakinan dan kepatuhan kita kepada Allah. Siapa pun yang diberi dunia tapi tidak diberi keyakinan, maka dunia yang akan menyiksa dirinya. Memperbudak, menyengsarakan, dan menghinakan.

Siapa pun yang memiliki keyakinan, istiqamah, patuh kepada Allah, dijamin dia akan sangat kaya. Walaupun di dompetnya tidak ada uang, tapi dijamin hatinya akan mendapat kelapangan. Mungkin rumahnya kontrakan, tapi derajatnya akan menjulang tinggi meskipun dari sisi pekerjaaan secara duniawi dianggap rendahan.

Orang yang yakin kepada Allah, akan dicabut di hatinya rasa gentar kepada apa pun selain Allah. Dicabut pula rasa sedihnya terhadap duniawi ini. Itulah kebahagiaan. Siapa pun yang sangat takut kepada selain Allah, maka dia tidak pernah merasa bahagia.

Setidaknya, jangan lantas menganggap orang yang banyak kekayaan itu bahagia. Belum tentu seperti itu. Allah membagi kekayaan sesuai dengan kehendak-Nya, namun ‘ Dia’, Insya Allah memberikan kecukupan.

Jadi tidak apa-apa andaikan gaji kecil atau sekiranya tidak memiliki tabungan, yang bahaya itu adalah tidak punya keyakinan kepada Allah dan tidak diberi rasa cukup. Itulah ciri mereka yang tidak akan memperoleh kebahagiaan di dunia maupun akhirat.

Wallohua’alam bishowab