kf.wp 092113 anak

 

 

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu

 

Dalam Alquran, anak dapat dikelompokkan kepada 5 (lima) tipologi, yaitu:

1. anak sebagai ujian, (QS. Al-Anfal [8]:28),

2. anak sebagai perhiasan hidup dunia, (QS. Al-Kahfi [18]:46),

3. anak sebagai cahaya mata, (QS. Al-Furqan [24]:74),

4. anak sebagai musuh, (QS. At-Taghabun [64]:14) dan

5. anak sebagai amanah, (QS.At-Tahrim [66]:6).

Berkaitan erat dengan tugas dan kewajiban orangtua, maka tipologi di atas menunjukkan besarnya peranan dan tanggung jawab orang tua (ibu dan bapak) dalam mengasuh dan mendidik anak, terutama agamanya (akhlak) sehingga terbentuk sebuah keturunan yang ideal (zurriyah thayyibah) atau anak saleh.

 

Firman Allah SWT:

“Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras; mereka tidak mendurhakai Allah atas apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka  dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim [66]:6).

 

Dalam hadist sahih, Rasulullah saw menegaskan:

“Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap kamu bertanggung jawab terhadap kepemimpinannya. Kepala Negara adalah pemimpin dan ia bertanggung jawab terhadap nasib rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin di dalam rumah tangganya dan dia bertanggung jawab terhadap keluarganya. Seorang isteri adalah pemimpin di rumah suaminya dan dia bertanggung jawab terhadap rumah tangganya. Seorang pembantu adalah pemimpin atas harta benda majikannya dan ia bertanggung jawab terhadap kepemimpinannya.” (HR. Muttafaqun ‘Alaih)

Dengan demikian, anak merupakan bagian dari amanah Allah SWT, di mana kalangan orangtua tidak dibenarkan melalaikannya, apalagi lari dari memikul amanah besar tersebut.

 

Dalam sebuah riwayat, Rasulullah saw telah memberikan peringatan yang sangat keras terhadap orangtua yang lari dari tanggung jawab seperti tersebut diatas:

“Sesungguhnya Allah memiliki para hamba yang tidak akan diajak berbicara pada hari kiamat, tidak disucikan dan tidak dilihat.”

Lalu beliau ditanya: “Siapa mereka itu wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab,

“Anak yang berlepas diri dari orangtuanya dan membencinya serta orangtua yang berlepas diri dari anaknya.” (HR. Ahmad dan Thabrani).

 

Imam Ibn Qayyim al-Jauziyah pernah mengatakan, “Barang siapa yang dengan sengaja tidak mengajarkan sesuatu yang bermanfaat bagi anaknya dan menelantarkannya begitu saja, berarti dia telah melakukan suatu kejahatan yang sangat besar. Kerusakan pada diri anak kebanyakan datang dari sisi orangtua yang meninggalkan mereka dan tidak mengajarkan kewajiban-kewajiban dalam agama termasuk sunnah-sunnahnya.”

Di zaman sekarang ini, orang tua pada umumnya nampak tidak mengalami banyak kesulitan dalam menyekolahkan putra-putrinya, khususnya dari segi peluang atau kesempatan.  Lembaga pendidikan sekolah dan pesantren atau madrasah banyak berdiri di hampir semua tempat secara merata, pemerintah dan lembaga swasta pun banyak yang menyediakan beasiswa pendidikan, sehingga banyak pula yang memperoleh semua peluang itu.

Akan tetapi, dengan tidak menutup mata, tidak sedikit orang tua yang lepas kontrol, bahkan ada yang sama sekali tidak peduli terhadap bimbingan agama dan karakter kepribadian anaknya. Akibatnya, terjadi kerusakan pada diri anak yang ditandai dengan sifat dan tingkah laku yang tidak terpuji. Nauzubillahi Min Dzalik.

Dengan demikian, agar dapat dianugerahi keturunan yang baik, baik dari segi intelektualitas maupun moralitas, maka dapat dicermati sejumlah ayat alQuran yang penting untuk dibaca dan diamalkan, setidaknya selepas shalat wajib lima waktu, salah satu di antaranya adalah surah Ali Imran ayat 38 sebagaimana berikut,

“Wahai Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku keturunan yang baik dari sisiMu, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar dan Mengabulkan do’a.” (QS. Ali Imran [3]: 38).

Aamiin

 

Wallahu al-Musta’an.