062613 menengok orang sakit

 

 

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu

 

Seorang Yahudi selalu bersiap diri setiap kali Rasulullah saw melewati jalan dekat rumahnya. Jika Rasulullah saw sudah terlihat, dia pun segera mengambil kotoran unta lalu melemparkannya ke tubuh sang manusia mulia. Mendapat perlakukan tersebut, Rasulullah saw tidak pernah marah, beliau hanya tersenyum dan segera membersihkan kotoran tersebut.

Pada suatu waktu Yahudi tersebut meludahi wajah Rasulullah saw yang suci, dari rumahnya yang berada persis di atas jalan yang biasa beliau lewati. Kejadian seperti ini terus berulang hingga beberapa lamanya. Selama waktu itu pula Rasulullah saw senantiasa sabar dan tidak memberi balasan, kutukan ataupun ancaman.

Suatu hari beliau melewati jalan itu lagi dan aneh bin ajaib, Yahudi itu tidak terlihat batang hidungnya sehingga Rasulullah saw pun terbebas dari gangguannya. Namun demikian, Rasulullah saw malah penasaran. Beliau pun berusaha mencari tahu ke mana Yahudi yang setiap hari melemparinya dengan ludah dan kotoran. Selidik punya selidik, si Yahudi itu dikabarkan sakit keras sehingga tidak bisa keluar rumah.

Setelah mendapatkan berita tersebut, Rasulullah saw pun bergegas ke rumah si Yahudi untuk menjenguknya. Terkejutlah si Yahudi ketika tahu bahwa Muhammad saw, orang yang setiap hari dia ganggu dan dia hina menyambangi rumahnya ketika dia dalam keadaan tidak berdaya, mukanya yang pucat terlihat semakin pucat.

Setelah meminta izin kepada tuan rumah, Rasulullah saw menemui si Yahudi itu dengan baik-baik, menanyakan kabar dan membawakan kepadanya sedikit buah tangan. Ketakutan yang menyelimuti tubuh yang tergolek karena sakit itu, sedikit demi sedikit memudar dan akhirnya hilang. Rasa benci yang menyeruak di dadanya perlahan berganti menjadi rasa cinta. Yahudi tua itu menangis tersedu. Dia merasa malu, menyesal dan sangat bersalah karena perbuatannya selama ini yang tidak senonoh kepada seorang manusia mulia. Kunjungan Rasulullah saw hari itu benar-benar telah mengubah hidupnya. Seseorang yang senantiasa dizaliminya justru menjadi orang pertama yang datang menjenguk ketika dia sakit. Sebagai tanda terima kasih dan pertobatannya, Yahudi itu pun mengucapkan dua kalimat syahadat di hadapan Rasulullah saw, dia masuk Islam karena budi baik Rasulullah saw.

Ada begitu banyak mutiara berharga yang dapat kita ambil dari kisah menakjubkan ini. Satu di antaranya adalah begitu mudahnya Rasulullah saw memaafkan seseorang yang jelas-jelas menghinakan, mencemoohkan dan selalu berusaha mencelakakan dirinya. Tidak hanya itu, beliau telah bersikap ihsan kepadanya, bukan hanya sekadar memaafkan, lebih jauh lagi dengan mudahnya beliau berlaku baik kepadanya. Hinaan beliau balas dengan senyuman dan do’a, upaya mencelakakan beliau dibalas dengan kunjungan persahabatan. Ketika si Yahudi sakit, bisa saja beliau datang kepadanya dengan membawa misi balas dendam, namun itu semua jauh dari jalan kehidupannya yang suci bersih. Beliau datang ke rumah si Yahudi dengan misi sangat mulia, misi seorang tetangga yang menjenguk tetangganya yang sakit.

Kisah tersebut diatas membawa sebuah pesan bahwa menengok orang yang sakit adalah perbuatan yang sangat disukai Rasulullah saw, hal tersebut adalah salah satu sunah yang wajib kita ikuti. Jika pada orang kafir yang jelas-jelas permusuhannya saja ada kewajiban menengoknya (dalam kedudukannya sebagai tetangga dan orang yang didakwahi), apalagi terhadap saudara seiman dan saudara sedarah yang dekat dan mengasihi kita. Ada haknya yang harus kita tunaikan ketika dia sakit, yaitu menjenguknya, membahagiakannya dan berusaha meringankan penderitaannya. Kelihatannya kecil dan sepele dalam hal menjenguk orang sakit, akan tetapi ada begitu banyak kebaikan dan kemuliaan yang ada di dalamnya. Itulah mengapa para malaikat akan berebut mendo’akan orang-orang yang mau meluangkan waktu untuk menjenguk saudaranya yang sakit.

 

“Orang yang apabila engkau sakit dia menjengukmu

dan apabila engkau berbuat dosa dia mengingatkanmu,

dialah yang layak dijadikan sahabat.”

 

— Dzun-Nun Al Mishri —

Memenuhi Hak Sesama Muslim

Menurut Rasulullah saw, menengok saudara yang sakit termasuk satu dari tujuh kewajiban seorang muslim terhadap muslim lainnya. 6 (enam) kewajiban lainnya adalah mengantarkan jenazah saudara kita ketika dia meninggal, menghadiri undangannya ketika dia mengundang, menolongnya ketika dia teraniaya, melaksanakan sumpah, menjawab salam, dan mendoakannya ketika dia bersin.[1]

Adalah satu kata yang layak kita renungkan dan cermati, yaitu kata “hak”. Kata ini menyiratkan adanya kewajiban dari yang dibebani hak tersebut untuk menunaikan kewajibannya kepada pihak yang memiliki hak tersebut. Ketika tidak memenuhi kewajibannya dia terjerumus ke dalam kezaliman karena dia menahan sesuatu yang bukan miliknya. Misalkan dalam sebuah contoh, di dalam harta kita ada hak fakir miskin, maka artinya tidak semua harta yang kita miliki menjadi hak mutlak kita sebab di dalamnya ada bagian orang lain yang harus kita tunaikan. Pada saat kita menahan dan tidak mau memberikan hak tersebut kepada yang berhak menerimanya secara otomatis kita telah terjatuh ke dalam dosa, yaitu memakan harta milik orang lain. Begitu pula dengan waktu, energi dan kesehatan kita, ada hak orang lain di dalamnya yang harus kita tunaikan, satu di antaranya adalah hak untuk menjenguknya ketika dia sakit.

Ketika saudara kita sakit, misalnya (entah itu tetangga, rekan kerja, guru, terlebih lagi orang tua kita), dan ketika itu kita tahu bahwa dia sakit dan kita memiliki kemampuan untuk menjenguknya (baik waktu luang, kesehatan, keamanan, dan biaya untuk menjenguknya), akan tetapi kita tidak menunaikan kewajiban tersebut, saat itulah kita telah menyia-nyiakan hak saudara kita.[2]

Karena hal tersebut diatas, maka  pantas apabila di akhirat kelak Allah SWT memintakan pertanggungjawaban dan mempertanyakan keengganan orang-orang yang menyepelekan hak saudaranya yang seharusnya dia tunaikan.

Rasulullah saw pernah bersabda bahwa Allah berfirman pada hari Kiamat sebagai berikut.[3]

Wahai anak Adam, Aku telah sakit, tetapi kamu tidak menjenguk-Ku.”

Dia (anak Adam) menjawab, “Ya Rabbi, bagaimanakah aku menjenguk-Mu, padahal Engkau Rabbul ‘Alamin?

Allah berfirman, “Tidakkah kamu tahu bahwa hamba-Ku telah menderita sakit, tetapi kamu tidak menjenguknya? Apakah kamu tidak tahu bahwa kalau kamu menjenguknya, niscaya kamu dapati (pahala dari)-Ku berada di sisinya?

Wahai anak Adam, Aku meminta makan kepadamu, tetapi kamu tidak memberi-Ku makan.

Dia menjawab, “Ya Rabbi, bagaimana aku memberi-Mu makan, padahal Engkau Rabbul ‘Alamin?

Allah berfirman, “Tidakkah kamu tahu bahwa hamba-Ku meminta makan kepadamu, tetapi kamu tidak memberinya makan? Apakah kamu tidak tahu bahwa kalau kamu memberinya makan, niscaya kamu dapati balasannya ada pada-Ku?

Wahai anak Adam, Aku meminta minum, tetapi kamu tidak memberi-Ku minum.

Dia menjawab, “Ya Rabbi, bagaimana aku memberi-Mu minum, padahal Engkau Rabbul ‘Alamin?

Allah berfirman, “Tidakkah kamu tahu bahwa hamba-Ku meminta minum kepadamu, tetapi kamu tidak memberinya minum? Apakah kamu tidak tahu bahwa kalau kamu memberinya minum, niscaya kamu mendapati balasannya ada pada-Ku?

Apa makna dari perkataan, “Aku sakit, engkau tidak menjenguk-Ku; Aku lapar, engkau tidak memberi-Ku makan; Aku haus, engkau tidak memberi-Ku minum?Bagaimana Allah Yang Mahaperkasa dan Yang Mahakaya berfirman bahwa Dia sakit, Dia lapar dan Dia haus? Hakikatnya adalah Allah ‘Azza wa Jalla itu bersama orang-orang sakit, orang-orang lapar dan orang-orang yang kehausan. Siapa yang mendekat dan menolong orang sakit, kelaparan dan kehausan berarti dia sedang mendekat dan menolong Tuhannya.

Mendekat kepada Allah SWT dapat dilakukan melalui shalat, puasa, zakat, membaca Al Qur’an, atau ibadah haji. Namun, membantu orang sakit, kelaparan dan kehausan termasuk cara cepat untuk mendekat sekaligus meraih cinta-Nya.

Rasulullah saw bersabda sebagai berikut:

Manusia yang paling dicintai Allah adalah manusia yang paling bermanfaat bagi manusia lain. Amal yang paling utama adalah memasukkan rasa bahagia ke dalam hati orang beriman, mengenyangkan yang lapar, melepaskan kesulitan, dan membayarkan utang.” (Ibnu Hajar Al Atsqalani dalam Nashaihul ‘Ibad). r

 

 

“Hak seorang muslim terhadap muslim lainnya ada lima:

menjawab salam, menjenguknya ketika sakit,

mengantarkan jenazah, memenuhi undangan,

dan menyambut doa terhadap orang yang bersin.

 

— HR Bukhari dan muslim 

 

 

Wallohu’alambisshawab

 

 


[1] HR Bukhari Muslim

[2] Imam Ath Thabari menekankan bahwa menjenguk orang sakit merupakan kewajiban bagi orang yang mengharapkan berkah (dari Allah datang lewat diri)nya, disunahkan bagi orang yang memelihara kondisinya. Imam Nawawi mengutip kesepakatan ulama bahwa menjenguk orang sakit hukumnya bukan wajib (‘ain), melainkan wajib kifayah.

[3] HR Muslim