Seorang aktivis berunjuk rasa menolak sosialisasi kondom di Mandala, Makassar, Sulsel, Senin (25/6). Mereka mengecam kebijakan pemerintah yang menggelar kampanye kondom bagi remaja karena dianggap melegalkan perzinaan.
 

 

 

 

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu

Adalah banyak di antara ummat Islam saat ini yang telah melupakan kewajiban untuk menjaga pandangan dan kemaluan mereka. Alhasil mereka terjerumus dalam lembah perbuatan zina.

Padahal, Allah memerintahkan Nabi-Nya dan juga orang-orang yang beriman untuk menjaga pandangan dan kemaluan mereka. Dia juga memberitahukan kepada mereka bahwa Dia senantiasa mengetahui dan memperhatikan segala hal yang mereka kerjakan. 

Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.” (QS. Al-Mukmin: 19).

Pada mulanya perintah tersebut diatas tertuju pada pandangan. Lalu Allah SWT perintahkan hamba-Nya untuk menjaga pandangan sebelum menjaga kemaluannya, karena semua yang terjadi itu bermula dari pandangan mata, laksana api besar bermula dari lilitan kecil menjadi besar begitu saja dan tak terkendali. Jadi pada awalnya dimulai dari pandangan kemudian terlintas dalam pikiran lalu menjadi langkah dan selanjutnya terjadi dosa ataupun kesalahan. 

Maka banyak dikatakan bahwa barang siapa yang mampu menjaga pandangan, pikiran, ucapan dan tindakan, berarti ia telah menjaga agamanya, karena itu Islam menekankan kepada ummatnya untuk selalu menjaga kemaluannya agar terhindar dari perbuatan zina.

Dan, orang-orang yang memelihara kemaluannya. Kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki. Maka sesungguhnya, mereka dalam hal ini tiada tercela. Barang siapa mencari yang sebaliknya, mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. : (Al-Ma’arij [70] : 29-31)”

Kerusakan akibat dari zina termasuk dampak paling besar karena dapat merusak kemaslahatan mata rantai keturunan, kehormatan alat vital, serta mendatangkan permusuhan dan kebencian yang lebih besar di kalangan manusia, baik dari pihak istri, sahabat, anak perempuan, maupun ibunya. Besarnya dosa zina berada tepat setelah dosa pembunuhan.

Allah SWT menegaskan haramnya berbuat zina dalam firman-Nya:

Dan, orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina. Barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (balasan) dosa(nya). (Yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dan dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh. Kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(Al-Furqan [25] : 68 – 70).

Allah SWT menyertakan zina dengan syirik dan pembunuhan. Dia juga menjadikan balasan atasnya adalah hidup kekal di neraka dalam siksa yang berlipat ganda jika pelakunya enggan bertauba beriman dan beramal shalih.

Allah SWT berfirman:

“Dan, janganlah kalian mendekati zina. Sesungguhnya, zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” ( Al-Israa’ [17] : 32)” 
Allah SWT menyatakan kekejian zina merupakan keburukan yang demikian keji sehingga diterima oleh akal semua makhluk.

Hak ini sesuai sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Shahih-nya, Ari Amr bin Maimun al-Audy. Dalam riwayat itu ditulis: “Di masa jahiliyyah, aku melihat kera yang berzina dengan kera yang lain. Lalu, berkumpullah para kera dan melempari keduanya dengan batu hingga mati.” 

Allah SWT juga menerangkan bahwa ujung dari perbuatan ini adalah berupa jalan yang buruk karena merupakan jalan kerusakan, kebinasaan, kefakiran di dunia dan siksa, kehinaan serta bencana di akhirat.

Jagalah karunia pandangan, menjaga kemaluan sehingga derajat kita selalu diangkat dan tidak direndahkan di mata manusia terlebih Allah SWT.

Naudzubillahhimindzalik !

 

Wallohu ‘alam bisshawab