kf.wp 100 hari tanda

 

 

 

Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatu

 

Adalah seorang Kiai bertanya pada santrinya, “Jika usiamu tinggal tiga bulan saja, hal apakah kiranya yang akan kamu lakukan?”

Ia tercenung, dan segera saja sederetan rencana-rencana nan muluk-muluk serta mulia melintas di benaknya. Bagaikan sebuah bentuk puzzle, sepotong demi sepotong ia mulai tersusun dan memberikan gambaran bentuk.

“Saya akan rajin Tahajud, meminta maaf pada orang tua, banyak berdo’a, bersedekah dan berbuat kebajikan sekuat dan selama saya bisa!”,  sungguh merupakan sebuah jawaban yang menurutnya fantastis.

Mendengar jawaban itu, Pak Kiai hanya tersenyum. “

Kamu yakin?” demikian tanyanya yang jelas sarat dengan keraguan.

“Insya Allah yakin, Kiai!” jawabnya tak kalah tegasnya.

“Apabila memang usiamu tinggal tiga bulan saja, kamu akan segera menghabiskannya dalam ketakutan, kemarahan, dan kekecewaan! Dengan kata lain, waktu itu pasti akan kamu sia-siakan. Tahukah kamu bahwa seseorang itu tidak akan pernah menghasilkan sesuatu hal yang terbaik jika ia terjebak dalam pemilihan tujuan! Tujuan kamu kan mengoptimalkan waktu yang tiga bulan bukan?” dengan terpaksa santri itu mengangguk.

Nah, semua orang juga tahu bahwa tujuan terbaik itu adalah semata-mata hanyalah Allah, bukankah Allah SWT adalah awal dari segalanya, sekaligus juga akhir dari segalanya? Awal yang akhir dan akhir yang awal.”

Dia terdiam, setengah tidak mengerti.

“Kadang-kadang orang yang sedang jatuh cinta itu malah akan lebih rasional. Kalau dia ditanya mengapa melakukan ini semua, jawabannya biasanya sangat sederhana, “Karena cinta saja!” Mengapa kita tidak pernah memperlakukan Allah SWT seperti itu, “Semua kulakukan karena sayang saja!” Bukankah Allah itu sebagaimana prasangka hamba-Nya? Jika kita sayang kepada-Nya, apalagi Allah SWT kepada kita!”

Jadi bagaimanakah jawaban yang semestinya?

 

 

kf.wp 050213 kematian21-300x155

 

 

 

“Santai saja. Mau tiga bulan, mau tiga tahun, mau tiga abad, ataupun tiga detik lagi, namanya juga cinta, pasti tidak akan sabar ingin berjumpa! Ingatlah kisah Ibrahim dikala Malaikat Maut hendak menjemputnya.

’Untuk apa engkau datang kepadaku?’

’Aku diperintahkan kekasihmu (Allah) untuk menjemputmu?’

’Relakah seorang kekasih menyakiti kekasihnya?’

“Wahai Ibrahim, Tidakkah seorang kekasih merindukan pertemuan dengan kekasihnya?’

Ibrahim tersenyum, ’Segerakanlah kau cabut nyawaku!’.”

 

Subhanallah

“Orang yang telah merasakan manisnya cinta kepada Allah

akan terpasung; tidak bisa pergi ke mana-mana lagi, tidak bisa melepaskan diri dari jeratan cinta-Nya. Ia tidak ingin mati, tidak ingin dishalati, dan tidak ingin dikuburkan kecuali dalam cinta-Nya”

 — Yahya bin Mu’adz —

Wallohu’alambisshawab