Lupa Menyebabkan Manusia Abai akan Akhirat

 

 

77005882_XS 

 

 

Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatu

 

Adalah pada dasarnya, manusia itu “pelupa”. Inilah sebabnya, Allah SWT memerintahkan kepada orang beriman untuk menulis perjanjian di antara mereka, dengan dihadiri para saksi. Hal ini seperti difirmankan Allah SWT dalam surah Al-Baqarah ayat 282.

” Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis diantara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkannya, maka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan ( (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadanya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (diantaramu). Jika tak ada dua orang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka yang seorang lagi mengingatkannya. Jangalah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil: dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil disisi Allah dan lebih dapat menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu, (Tulislah mu’amalah itu), kecuali jika mu’amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan diantara kamu, maka tak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulinya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual-beli, dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah kepada Allah: Allah mengajarmu: dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS Al Baqarah [2]:282)

 

Bagi mereka yang lupa bahwa dunia merupakan tempat sementara dan mereka yang tidak memperhatikan ayat-ayat Allah, tetapi merasa puas dengan permainan dunia dan kesenangan hidup, menganggap memiliki diri mereka sendiri, serta menuhankan diri sendiri, Allah SWT akan memberikan hukuman yang berat. Al-Qur’an menggambarkan keadaan orang yang demikian.

Tidak sedikit manusia yang lebih mengejar keduniawian dan melupakan akhirat, mereka lebih senang untuk menumpuk harta dan lupa untuk menegakkan shalat, memberi sedekah kepada kaum miskin, dan menjalankan ibadah yang akan menyejahterakan mereka pada hari Kemudian.

Mereka sering berkata, “Saya punya sesuatu untuk dikerjakan”, dan “Saya punya cita-cita”, “Saya bertanggung jawab”, “Saya tidak punya cukup waktu”, “Saya punya sesuatu untuk diselesaikan”, dan “Saya akan lakukan nanti”. Mereka menghabiskan kehidupannya hanya untuk memenuhi kehidupan dunia.

Inilah penyebab banyak orang membodohi diri sendiri ketika mereka menimbun harta dan kekayaan atau “kapal pesiar, mobil mewah, saham, rumah, dan tanah”, seolah-olah benar-benar ada. Mereka lupa bahwa akan ada hari perhitungan kelak.

Semoga tidak lupa bahwa dunia merupakan tempat sementara dan tidak melupakan akhirat serta selalu menjalankan ibadah yang akan membahagiakan dan menyejahterakan di hari akhirat kemudian. Aamiin

 

Barokalloh

 

Wallohu a’lam bisshawab