Berdoa (Ilustrasi)
Berdo’a

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu 

Bismillahirahmannirohim

Nabi Muhammad saw mengajarkan sebaik-baiknya do’a istighfar yang disebut dengan sayyidul istighfar, adakah do’a yang paling baik untuk memohon masuk syurga dan mohon supaya dijauhkan dari api neraka?

Adalah sesungguhnya Allah SWT itu sangat menyukai orang yang selalu berdo’a penuh harap dalam meminta kepada-Nya, dan Allah menganggap sombong kepada orang yang tidak mau berdo’a dan meminta kepada-Nya. Allah SWT berfirman, “Dan, Tuhanmu berfirman, ‘Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Ku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah- Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS Ghafir [40]:60). 

Do’a untuk memohon syurga dan agar dijauhkan dari siksaan api neraka sangat banyak dan beragam yang dapat dipilih. Berdo’a juga kalau tidak bisa dalam bahasa Arab dapat dilakukan dengan bahasa sendiri. Hal yang penting adalah kita berdo’a dengan kesadaran sepenuh hati, kerendahan diri, dan penuh pengharapan kepada Allah SWT karena Allah Maha Mengetahui dan Maha mendengar.

Di antara do’a yang diajarkan Nabi Muhammad saw adalah:

Aisyah ra meriwayatkan bahwa Rasulullah saw mengajarkannya do’a ini :“Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu seluruh kebaikan, baik yang cepat (di dunia) maupun yang lambat (di akhirat), baik yang aku ketahui maupun yang tidak aku ketahui. Dan, aku berlindung kepada-Mu dari seluruh kejelekan, baik yang cepat maupun yang lambat, baik yang aku ketahui maupun yang tidak aku ketahui. Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan apa saja yang dimohonkan oleh hamba-Mu dan nabi-Mu (Muhammad saw). Dan, aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan apa saja yang dimohonkan perlindungannya oleh hamba-Mu dan nabi-Mu. Ya Allah, sesungguhnya aku mohon pada-Mu surga dan setiap perkataan atau perbuatan yang mendekatkan kepadanya, dan aku berlindung kepada-Mu dari neraka dan dari setiap perkataan atau perbuatan yang mendekatkan kepadanya. Dan, aku mohon kepada-Mu agar Engkau menjadikan setiap ketentuan yang Engkau tentukan untukku adalah kebaikan.” (HR Ibnu Majah, Ahmad dan Ibnu Hibban).

Allah SWT dan Rasul-Nya juga mengajarkan bahwa dalam berdo’a harus bertawasul dengan menyebut asma Allah yang Agung karena dengan hal itu do’a akan lebih cepat dikabulkan oleh Allah SWT, tentunya sambil tetap berhati-hati terhadap penyimpangan menggunakan asma-Nya.

Allah SWT menegaskan, “Hanya milik Allah asmaul husna maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS Al-A’raf [7]:180).

Dalam hadist Nabi Muhammad saw dijelaskan, Dari Anas, ia berkata, “Saya pernah duduk bersama Rasulullah saw dalam suatu halaqah, sedangkan seorang laki-laki melaksanakan shalat, dan ketika rukuk dan sujud, kemudian dia duduk dan membaca tasyahud, lalu ia berdo’a dengan membaca, ‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu, dengan perantara bahwa Engkaulah pemilik segala puji, tidak ada Tuhan selain Engkau, Engkau Maha Penyayang, pencipta langit dan bumi, ya Allah, Maha Gagah lagi Maha Mulia, ya Allah, Tuhan yang Mahahidup dan berdiri sendiri, ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu.’ Maka, Rasulullah saw bertanya kepada para sahabat, ‘Apakah kalian tahu dengan apa ia berdo’a?’ Mereka menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.’ Rasulullah saw bersabda, ‘Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh ia telah berdo’a kepada Allah dengan nama-Nya yang Agung yang jika orang berdo’a kepada-Nya dengan nama itu maka akan dikabulkan-Nya dan jika orang meminta kepada-Nya dengan nama itu maka akan diberikannya.’” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban dan al-Hakim).

Rasulullah saw mengajarkan bahwa ketika hendak berdo’a kepada Allah SWT mulailah dengan memuji dan mengagungkan Allah SWT lewat asma-Nya kemudian mengucapkan shalawat kepada Nabi Muhammad saw dan baru memohon keperluan kita.

Dengan memulai do’a lewat memuji dan mengagungkan Allah SWT dan diikuti dengan penghambaan diri kepada-Nya serta pengakuan akan kekurangan dan kelemahan diri di hadapan-Nya maka itu tentu lebih baik daripada orang yang langsung meminta dan memohon keperluannya, dan itulah yang dilakukan oleh para nabi Allah, seperti Nabi Adam AS yang berdo’a, “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (QS al-A’raf [7]:23).

Barakalloh
Wallahu a’lam bishshawab.