“Dan menunjukkan jalan kepada seseorang adalah sedekah” (HR Bukhari)

 

 

Assalamualaikum warhmatullahi wabarakatu

Bismillahirahmannirohim

 

Seperti yang diketahui, Al Malik disebutkan oleh Rasulullah saw setelah Ar Rahman dan Ar Rahim. Urutan seperti ini sama dengan yang diungkap Allah dalam Al Qur’an.

Dalam QS Al Fatihah pun kita temui Al Malik setelah penyebutan Ar Rahman dan Ar Rahim, firmannya, arrahmaanirrahiim; maaliki yaumiddiin (QS Al Fatihah [1]: 3-4).

 

 

hashr

hashr

 

 

Dalam QS Al Hasyr [59]: 22-23, “Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia; Yang Mengetahui yang gaib dan nyata. Dialah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, Maharaja ….

Urutan ini memiliki dua makna.

Pertama, pemilik rahmat belum tentu memiliki kekuasaan. Misalnya, seorang ibu yang menyayangi anaknya. Walaupun mempunyai rahmat atas anaknya, ia tidak memiliki kekuatan atas anaknya tersebut. Sang ibu tidak bisa menentukan nasib anaknya. Dengan demikian, sifat Al Malik mempertegas kekuasaan Allah atas makhluk yang dirahmati-Nya.

Makna kedua adalah kekuasaan Allah atas makhluk-Nya didasari oleh rahmat-Nya. Bukan karena keangkuhannya sebagai Pencipta, melainkan karena kecintaannya sebagai Pemelihara. Dalam memerintah, Dia mendasarinya dengan kasih sayang.

 

 

Allah

 

 

 

Kata malik terdiri atas huruf mimlam, dan kaf yang mengandung makna kekuatan dan kesahihan. Kata ini pada mulanya berarti ‘ikatan’ dan ‘penguatan’. Kata ini diulang lima kali dalam Al Qur’an.

Al Malik mengandung arti penguasaan terhadap sesuatu karena kekuatan pengendalian dan kesahihannya. Malik biasa diterjemahkan dengan ‘raja’ karena dialah yang menguasai dan menangani perintah dan larangan, anugerah, dan pencabutan. Demikianlah yang diungkapkan oleh Ustaz Quraish Shihab.

 

 

IMAM GHAZALI

 

 

Al Ghazali menerangkan bahwa Al Malik adalah yang pada esensi dan sifat-sifatnya tidak membutuhkan wujud apa pun, sedangkan setiap wujud membutuhkan Dia. Tidak ada yang dapat melepaskan diri dari Dia, apakah itu dalam hal esensinya atau sifat-sifatnya, keberadaannya, atau kelangsungan hidupnya, tetapi keberadaan setiap sesuatu itu adalah dari Dia atau dari sesuatu yang berasal dari Dia. Yang selain Dia tunduk kepada-Nya, baik itu esensinya atau sifat-sifatnya, sedangkan Dia terlepas dari segala sesuatu. Seperti inilah raja yang mutlak.

Allah, Al Malik berarti Dialah Maharaja yang menguasai segala sesuatu. Dia menguasai kerajaan langit dan bumi serta segala isinya (QS Az Zukhruf [43]: 85). Dia pula pemilik kerajaan akhirat dan dunia.

… dan milik-Nya kerajaan pada hari ditiup sangkakala.” (QS Al An’am [6]: 73)

Dialah Maharaja yang tidak membutuhkan wujud apa pun. Dia tidak membutuhkan pertolongan atau bantuan manusia dan Dia pun tidak membutuhkan persembahan siapa pun.

 

 

5157

 

 

Aku tidak menghendaki rezki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan.” (QS Adz Dzariyat [51]: 57)

 

Manusia bisa saja menjadi raja, tetapi kekuasaannya sangat terbatas. Boleh saja ia menguasai wilayah kerajaannya, tetapi tidak bisa menguasai jiwa-jiwa rakyatnya. Karena keterbatasan inilah, setiap raja akan bertekuk lutut di hadapan kekuasaan Sang Maharaja, baik disadari ataupun tidak, hal inilah yang telah dialami oleh Firaun.

 

Semoga bermanfaat

 

Wallohu’alam bisshawab