Doa : Sebuah Cita-Cita

Muslim Prays Inside Baiturrahman Mosque 

 

Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatu

Bismillahirahmannirohim

 

Menurut Rasulullah saw, do’a adalah saripatinya ibadah; Ad du’âu mukhl ’ibâdah (HR At Tirmidzi melalui Anas bin Malik).

Dalam riwayat lain, beliau pun menyebut do’a sebagai ibadah itu sendiri; Ad du’âu huwal ’ibâdah (HR At Tirmidzi dan Abu Daud melalui Nu’man bin Basyir).

Mengapa do’a dikatakan sebagai ibadah, sesuatu yang sangat mendasar dalam kehidupan seorang Muslim? Dalam setiap ibadah pasti terdapat permohonan, dan do’a sendiri adalah permohonan seorang hamba kepada Tuhannya yang dilakukan dengan penuh kerendahhatian. Dengan demikian, tidak ada ibadah yang tidak disertai do’a, baik itu yang terucap maupun tidak terucap. Keduanya saling berhubungan dan tidak bisa dipisahkan antara satu sama lain.

Karena ibadah adalah kewajiban utama seorang Muslim, maka do’a harus menjadi bagian terpenting yang tidak boleh lepas dari kehidupannya. Dapat dikatakan, tingkat kecintaan dan kedekatan Allah kepada hamba-Nya sangat dipengaruhi oleh intensitas do’a yang dipanjatkan hamba tersebut. Dalam sebuah riwayat disebutkan, ”Allah Swt. sangat mencintai seorang hamba yang memanjatkan do’a kepada-Nya berulang-ulang”. Sebaliknya, kemurkaan Allah kepada seorang hamba sangat dipengaruhi pula oleh intensitasnya dalam berdo’a. Abu Hurairah meriwayatkan dari Nabi saw, ”Barangsiapa yang tidak menyampaikan permohonan kepada Allah SWT, niscaya Dia akan murka kepadanya”.

Sejatinya do’a adalah salah satu sarana terpenting dari Allah yang disediakan bagi manusia sehingga ia mampu mengembangkan dirinya secara optimal. Ada proses pembentukan nilai-nilai positif dari sebuah do’a yang akan menjadikan seseorang menjadi lebih baik. Salah satunya adalah menjadikan seorang Muslim memiliki tujuan yang jelas dalam hidupnya. “Begin with end in your mind,” demikian pakar manajemen mengatakan. Segalanya akan terasa mudah bila sebelumnya kita memiliki gambaran tentang peristiwa yang akan terjadi. Kalau seperti ini, hasilnya seperti ini, dan seterusnya. Seseorang mengalami kegamangan dalam hidup, karena ia tidak yakin dengan apa yang dilakukannya dan ini bersumber dari ketidakjelasan tujuan.

Memulai dari tujuan akhir, akan membuat semua amal menjadi jelas, terarah dan terprogram. Semangat pun tidak akan mati. Saat mengalami kegagalan, kita tidak akan larut dalam kegagalan tersebut, sebab ada tujuan besar yang akan dicapai, dan yang tak kalah penting, berpikir menurut tujuan akhir akan memastikan masa depan kita. Imam Ibnul Jauzi mengatakan, “Siapa yang melihat akhir suatu perkara di awal langkahnya, dengan mata hatinya, kelak ia akan beroleh hasil yang sangat baik dari perbuatannya dan akan selamat dari akibat buruknya”.

Rasulullah saw dan para sahabat mampu istiqomah memperjuangkan tegaknya kebenaran walau menghadapi beragam kesulitan karena mereka memiliki tujuan yang jelas dalam hidupnya. Seorang sahabat pernah bertanya, “Ya Rasul kalau saya memercayai engkau, beriman kepada Allah, beribadah, dan berjuang di jalan Allah, keuntungan apa saya akan dapatkan?” Rasul yang mulia menjawab, “Di dunia kamu akan bahagia dan di akhirat kamu akan mendapat syurga”. Sahabat itu berujar, “Dua itu sudah cukup bagi saya”.

Do’a hakikatnya adalah tujuan, keinginan, atau target yang ingin kita raih, sehingga menjadikan hidup kita menjadi lebih terarah. Orang yang bagus do’anya niscaya akan terprogram hidupnya. Ia memiliki target dan perencanaan untuk memenuhi target tersebut.

Saat kita mengucapkan do’a sapu jagat misalnya, itulah target kita: selamat dunia akhirat. Saat kita berdo’a lunas utang, maka itulah target kita: bebas utang. Saat kita berdo’a meminta jodoh yang saleh atau salehah, itulah target kita: menikah dan berkeluarga dengan orang yang baik akhlaknya. Tentu saja, target tidak akan pernah tercapai apabila kita tidak mengusahakannya.

Do’a adalah pupuk, sedangkan ikhtiar sebagai bibitnya. Tidak mungkin kita akan panen, jika kita segan menebar bibit. Jadi dengan demikian do’a yang baik adalah do’a yang disertai dengan ikhtiar maksimal. Itulah iman dan amal saleh. Misalnya, ketika kita minta diberi pasangan hidup yang saleh, kita pun dituntut untuk memprogram dan merencanakannya, di antaranya membuat planning kapan kita menikah, apa yang harus dipersiapkan, di mana mencari jodoh dengan kriteria saleh tersebut, dan sebagainya. Hampir tidak mungkin mendapatkan jodoh yang saleh di tempat-tempat maksiat. Kita pun jangan hanya berdo’a minta pasangan yang saleh tanpa kita sendiri berusaha mensalehkan diri kita sendiri.

InsyaAllah

 

 

KF - abdi ngadu'a asli

 

 

Siapa yang melihat akhir suatu perkara

di awal langkah dengan mata hatinya, kelak ia

akan beroleh hasil yang sangat baik dari perbuatannya

dan akan selamat dari akibat buruknya”

 

— Ibnul Jauzi —

Barakallah
Wallohualambisshawab