Do’a : Kunci Pembuka Pertolongan Allah

Sejatinya, do’a adalah salah satu kunci terpenting untuk membuka pintu-pintu pertolongan Allah. Ketika kita sudah mentok, tidak bisa berbuat apa-apa, pintu solusi seakan tertutup, dunia menjadi tampak gelap, kemungkinan untuk keluar dari masalah hampir mendekati mustahil, maka do’alah jalan keluarnya.

 

KF - adab bedo'a 2 munajat

 

 

 

Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw. bersabda,

“Tidak ada yang dapat menolak taqdir (ketentuan) Allah Ta’ala selain do’a. Dan Tidak ada yang dapat menambah) umur seseorang selain (perbuatan) baik.” (HR At Tirmidzi)

Secara garis besar, takdir atau ketentuan Allah itu ada dua macam. Ada takdir yang tidak bisa berubah dan ada takdir yang bisa berubah atau diganti. Takdir yang tidak bisa diubah misalnya tanggal lahir, orang tua kita, jenis kelamin, warna kulit, tipe suara, jenis rambut, suku bangsa, dan hal sejenisnya.

Ada pula ketetapan Allah yang bisa berubah atas upaya manusia dan menyesuaikan sesuai dengan keinginan. Misalkan, Allah Swt. sudah menetapkan bahwa kita tidak akan lulus ujian pada tahun ini. Namun, kita masih bisa mengusahakan dan “mempengaruhi” Allah  untuk mengganti takdir buruk ini dengan takdir yang lebih baik, yaitu lulus ujian dengan nilai terbaik, misalnya dengan belajar sungguh-sungguh sebagai jalan ikhtiar.

Contoh lain, Allah SWT menakdirkan seseorang akan celaka atau terkena musibah. Ketentuan ini belum final karena ia bisa “mempengaruhi” ketentuan Allah ini dengan melakukan amal-amal yang dapat mencegah terjadinya hal tersebut, bahkan menggantinya dengan ketentuan yang lebih baik.

Kata Nabi saw, sebagaimana tercantum dalam HR Tirmidzi di atas, do’a merupakan sarana paling tokcer untuk mengubah ketentuan Allah SWT. yang telah ditetapkan untuk manusia. Dengan doa, kita bisa berharap bahwa takdir yang Allah Swt. tentukan atas diri kita bisa berubah.

Namun tentu saja harus ada “bahan bakar” yang bisa membuat doa “menyala”. Bahan bakarnya adalah tabungan amal kebaikan, kepasrahan, kerendahan hati, tobat, dan keyakinan bahwa hanya Allah-lah satu-satunya penolong. Dengan bahan bakar semacam ini, do’a akan sangat powerfull dalam membebaskan seorang hamba dari kesulitan.

Allah SWT menakdirkan Nabi Ya’kub kehilangan anak kesayangannya, yaitu Nabi Yusuf, bahkan kemudian beliau kehilangan penglihatan dan anaknya yang lain, Bunyamin (saudara terdekat Yusuf). Dengan do’a, tak tanggung-tanggung 30 tahun lamanya, Allah SWT berkenan mengganti takdir tersebut dengan takdir yang lebih baik, yaitu mempertemukannya kembali dengan kedua anaknya, mengembalikan penglihatannya, menghilangkan kesedihannya, dan menjadikan keluarganya berada dalam kebahagiaan yang lebih baik dari sebelumnya. Kisah yang sama terjadi pula pada Nabi Adam dan nabi-nabi yang lain, dan tokoh-tokoh sejarah setelahnya.

Dengan demikian, kita dapat berkata bahwa takdir seorang manusia itu adalah “hasil interaksi antara dirinya dengan Allah SWT. Semakin baik interaksi kita dengan Allah, akan semakin baik pula takdir yang akan kita dapatkan, maka sudah selayaknya kita berdo’a kepada Allah tanpa mengenal bosan agar:

  1. Allah SWT tidak mengganti takdir baik kita dengan takdir buruk, di antaranya dengan meminta keterjagaan diri dari dosa dan maksiat (sesungguhnya dosa dan kemaksiatan dapat mengubah nikmat jadi bencana);
  2. Allah SWT berkenan mengubah atau mengganti takdir buruk yang telah ditetapkan untuk kita dengan takdir yang lebih baik yang akan menyelamatkan kita di dunia dan akhirat;
  3. Allah SWT berkenan memberi kita kemampuan untuk ridha, bersabar, atau mensyukuri takdir yang telah Dia ditetapkan untuk kita, khususnya takdir yang tak bisa diubah, dan memberi kita kekuatan untuk beristighfar (bertobat) atas kesalahan kita dalam “memilih” takdir dari-Nya.

 

Barakallah

Semoga bermanfaat

 

Wallohualambisshawab