Cerdik Berdoa Menurut Riwayat Nabi Ibrahim A.S.

Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatu 
Bismillahirahmannirahim 
Ibrahim adalah sosok manusia yang “terlalu” cinta kepadaD Zat Pemilik Cinta. Saking cintanya, Ibrahim rela mengorbankan anak kesayangannya untuk Allah. Saking percayanya, Ibrahim tidak mau ditolong Jibril tatkala ia akan dibakar Raja Namrudz.
safe_image.phpDikisahkan, ketika Ibrahim dilemparkan ke dalam api yang menyala-nyala datanglah Jibril menawarkan bantuan. Namun apa yang dikatakannya, “Saya tidak membutuhkan pertolongan engkau, saya hanya membutuhkan pertolongan Allah”.

Kecintaan Ibrahim tampak nyata pada saat detik-detik akhir kehidupannya.

Ketika Malaikat Maut akan menjemputnya, terjadilah dialog.

“Untuk apa engkau datang kepadaku?” tanya Ibrahim.

“Aku diperintahkan kekasihmu (Allah) untuk menjemputmu?” jawab Malaikat Maut.

Saat itu timbul sifat manusiawi Ibrahim, hingga ia bertanya lagi, “Relakah seorang kekasih menyakiti kekasihnya?”.

Mendengar pertanyaan tersebut Malaikat Maut segera menghadap Allah SWT, lalu ia kembali dengan membawa jawaban. “Wahai Ibrahim, Allah memberikan pesan: ‘Tidakkah seorang kekasih merindukan pertemuan dengan kekasihnya?”. Akhirnya Ibrahim menjawab, “Segerakanlah kau cabut nyawaku!”.

Karena keistimewaan-keistimewaan itulah Allah SWT memberinya gelar “Khalilullah” atau “Kekasih Allah”. Yang Mahakuasa pun memuliakan Ibrahim di antara manusia serta menjadikannya sebagai seorang uswatun hasanah atau teladan yang baik bagi generasi sesudahnya (QS Al Mumtahanah [60]: 6). Karena dia adalah Kekasih Allah, do’a-do’anya pun adalah do’a-do’a yang ijabah. Do’a yang beliau panjatkan tersambung langsung dengan Arasy, tanpa hijab. Apa yang beliau minta, Allah SWT  kabulkan, termasuk do’a untuk kebaikan anak cucu serta keturunannya.

Dikisakan, tatkala meninggalkan istri dan bayinya di Lembah Bakkah yang gersang dan tak berpenghuni, dengan linangan air mata, Ibrahim memohon kepada Allah Azza wa Jalla, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya engkau telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanaman dekat rumah-Mu (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami, (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat. Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka, dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur”.

Redaksi do’a yang beliau ucapkan ini terlihat sangat menarik. Ada kecerdikan di sana. Beliau mampu memilih kata-kata yang tepat, padat serta dalam maknanya. Dalam do’a yang termuat dalam QS Ibrahim [14]: 37-38 tersebut juga dalam QS Al Baqarah [2]: 126, Nabi Ibrahim meminta rezeki berupa buah-buahan, tidak berupa pohonnya, atau tidak berupa emas dan permata. Mengapa?

Pertama, di padang pasir yang gersang, buah-buahan adalah barang yang teramat langka, mahal dan mewah. Terlebih pada masa keluarga Nabi Ibrahim hidup. Nilai air dan buah-buahan jauh melebihi nilai barang mewah lainnya.

Kedua, tidak semua pohon memiliki buah. Ada pohon yang tidak berbuah. Ada pula pohon yang berbuah, tapi rasanya pahit sehingga tidak bisa dimakan. Dengan kata lain, adanya pohon tidak otomatis menghadirkan buah. Namun ketika ada buah pasti ada pohon, minimal ada pasokan buah-buahan yang melimpah ke tempat tersebut. Sekarang terbukti, walaupun kota Makkah berada di daerah padang pasir yang tandus, namun buah-buahan yang ada di kota ini sangat melimpah.

 

 

Allah SWT telah mengabulkan do’a Ibrahim. Jawaban terhadap do’a Nabi Ibrahim, Allah ungkapkan dalam QS Al Qashash [28]: 57, ”Bukankah Kami telah meneguhkan kedudukan mereka dalam tanah haram (tanah suci) yang aman, yang didatangkan ke tempat itu buah-buahan dari segala macam (tumbuh-tumbuhan) sebagai rezeki (bagimu) dari sisi Kami? Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui”.

SubhanAllah

Barakallah

Wallohualambisshawab