Baduy, Andalan Pariwisata Kabupaten Lebak

Kampung Baduy

Warga Baduy luar dari Kampung Cipaler, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Banten, Jawa barat, membawa hasil panen dari ladang menuju rumah masing-masing. Saat ini, masyarakat Baduy tengah menjalani masa panen dan sebulan kemudian akan mengadakan pesta untuk mensyukurinya. Foto diambil Selasa (16/3).
Sebanyak 158 wisatawan mancanegara (wisman) mengunjungi obyek wisata budaya suku Baduy di pedalaman Kabupaten Lebak, Banten. “Jumlah wisman itu sampai dengan September dan kami terus meningkatkan penataan obyek wisata budaya,” kata Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Budaya, dan Pariwisata Kabupaten Lebak, Syaifullah Saleh di Rangkasbitung, Jumat (26/10/2012).

Menurut Syaifullah, saat ini, obyek wisata budaya Baduy merupakan andalan pariwisata di Kabupaten Lebak.

Sebagian besar pengunjung dari kalangan pelajar dan mahasiswa untuk konservasi maupun mempelajari budaya setempat. Pasalnya, keunikan masyarakat Baduy hingga kini masih mempertahankan adat istiadat dan menolak kehidupan modern.

Kawasan hutan yang dihuni masyarakat Baduy seluas 5.100 hektare tanpa jalan, jaringan listrik, televisi, radio, dan kendaraan. Bahkan, masyarakat Baduy Dalam berpakaian putih-putih berpergian ke luar daerah harus berjalan kaki dan dilarang naik angkutan kendaraan. “Banyak para antropolog datang ke Baduy untuk melakukan penelitian,” kata Syaifullah.

Selain itu, juga masyarakat Baduy cukup sederhana dan belum pernah terjadi kerawanan pangan. “Kami menilai Baduy memiliki nilai jual obyek wisata,” katanya.

Menurut Syaifullah, dari 158 wisman tersebut mereka kebanyakan berasal dari Belanda, Inggris, dan Swiss.

Selama ini, kunjungan wisman ke Baduy perlu ditingkatkan sehingga dapat mendorong perekonomian masyarakat.

Selain wisman, obyek wisata Baduy ramai dipadati pengunjung saat liburan panjang. Mereka datang dari berbagai daerah, seperti Jakarta, Bogor, Tangerang, Bandung, dan Yogyakarta.

Perjalanan Rangkasbitung menuju Ciboleger, pintu gerbang kawasan Baduy berjarak 22 kilometer bisa ditempuh selama satu jam dengan angkutan umum. “Saat ini, kondisi jalan menuju Baduy relatif bagus,” katanya.

Sekretaris Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Sarpin mengatakan, selama ini, rombongan pengunjung obyek wisata Baduy kebanyakan dari perguruan tinggi, sekolah, peneliti, lembaga, instansi swasta, dan pemerintah, sedangkan dari kalangan keluarga relatif kecil. “Kami yakin ke depan kunjungan wisata adat Baduy meningkat, baik wisatawan mancanegara maupun wisatawan lokal,” kata Sarpin.

Masyarakat Baduy Luar beristirahat selepas bekerja di teras rumah di Kampung Cipaler, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten, Selasa (16/3). Adat mengharuskan masyarakat Baduy bekerja untuk memenuhi kebutuhan mereka secara mandiri. 
Salah satu perkampungan Baduy di punggung Gunung Kendeng di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, sepi saat matahari terbit karena penghuni ke ladang. 
Seorang warga Baduy bersama anaknya melewati jembatan bambu di atas sungai yang memisahkan antara wilayah Baduy Dalam dan Baduy Luar.