السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُِ

 

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Astagfirullahaladzim, Tiada Hari Tanpa Maksiat

 Sahabat muslim yang dirahmati Allah SWT.

“Tiada hari tanpa maksiat”, kata ini mungkin lebih tepat untuk suasana hidup di zaman ini.

Di kantor, di kampus, di jalan, bahkan di rumah sendiri, fasilitas maksiat tersedia.

Di kantor, godaan maksiat ada di mana-mana. 
Teman, orang luar, bahkan diri sendiri. Jika tidak karena iman, bukan mustahil akan mudah bermaksiat di hadapan Allah baik dengan terang-terangan atau tersembunyi. Kesempatan terbuka luas. Jadi kasir kita bisa memanipulasi uang, jadi pemasaran kita bisa memanipulasi dan korupsi waktu.

Televisi kita 24 jam menyediakan tontonan penuh fitnah dan umbar aurat. Bahkan di saat istirahat dan di tempat yang kita anggap aman dari gangguan mata, masih saja ada kesempatan bermaksiat.

gunakan dengan sesuai amanah tubuhmu apa yang dikehendaki Allah SWT

 

Memang, meninggalkan maksiat adalah pekerjaan yang tidak ringan. Ia lebih berat daripada mengerjakan taat (menjalankan yang diperintah oleh Allah dan Rasul-Nya), karena mengerjakan taat disukai oleh setiap orang, tetapi meninggalkan syahwat (maksiat) hanya dapat dilaksanakan oleh para siddiqin (orang-orang yang benar, orang-orang yang terbimbing hatinya).

Berkaitan dengan hal tersebut Rasulullah Sallallahu aalaihi wa sallam. bersabda:

“Orang yang berhijrah dengan sebenarnya ialah orang yang berhijrah dari kejahatan. Dan mujahid yang sebenarnya ialah orang yang memerangi hawa nafsunya.”

Apabila seseorang menjalankan sesuatu tindak maksiat, maka sebenarnya ia melakukan maksiat itu dengan menggunakan anggota badannya. Orang yang seperti ini sejatinya telah menyalahgunakan nikmat anggota tubuh yang telah dianugerahkan Allah pada dirinya. Dalam bahasa lain dapat dikatakan, ia telah berkhianat atas amanah yang telah diberikan kepadanya.

Setiap saat kita berkuasa penuh atas anggota tubuh kita, pikiran dan jiwa kita. Akan tetapi, terkadang, kita begitu susah menggendalikan apa yang menjadi ‘milik kita’ itu. Tangan, mata, kaki dan anggota tubuh yang lain, kerap bergerak diluar kendali diri, yang tak jarang bertentangan dengan idealisme atau nilai-nilai keyakinan yang kita anut dan kita yakini. Padahal dalam relung kalbu kita bersaksi bahwa semua anggota tubuh itu kelak akan menjadi saksi atas segala perbuatan kita di Padang Mahsyar.

Firman Allah SWT :

“Pada hari ini (Kiamat) Kami tutup mulut-mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksian lah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka lakukan (di dunia dahulu).” (QS Yassin: 65).

Bagaimana agar kita selamat dari maksiat?

Di bawah ini beberapa ikhtiar, yang bila dijalankan secara sungguh-sungguh, insya Allah membawa faedah.

1. Menjaga Mata

Peliharalah mata dari menyaksikan pemandangan yang diharamkan oleh Allah SWT seperti melihat perempuan yang bukan mahram. Hindari atau minimal kurangi –untuk pelan-pelan tinggalkan sejauh-jauhnya– melihat gambar-gambar yang dapat membangkitkan hawa nafsu. Termasuk menjaga mata, janganlah memandang orang lain dengan pandangan yang rendah (sebelah mata/menghina) dan melihat keaiban orang lain.

ilustrasi mata

2. Menjaga Telinga

Menjaga telinga dari mendengar perkataan yang tidak berguna seperti: ungkapan-ungkapan mesum/kotor/jahat. Poin kesatu dan kedua ini menjadi tidak mudah di saat dimana gosip telah menjadi komoditi ekonomi. Gosip telah menjadi kejahatan berjama’ah yang dianggap suatu hal yang lumrah dilakukan dan wajib ditonton dan disimak. Kehadirannya disokong dana yang tidak sedikit, di manajeri, ada penulis skenarionya, ada kepala produksinya, ada reporternya dan seterusnya.

Rasulullah saw bersabda :

“Sesungguhnya orang yang mendengar (seseorang yang mengumpat orang lain) adalah bersekutu (di dalam dosa) dengan orang yang berkata itu. Dan dia juga dikira salah seorang daripada dua orang yang mengumpat.”

Oleh karenanya, menjaga mata-telinga adalah pekerjaan yang memerlukan energi dan kesungguhan yang kuat dan gigih.

ilustrasi telinga

3. Menjaga Lidah

Lidah adalah anggota tubuh tanpa tulang yang kerap mengantarkan pada perkara-perkara besar. Kehancuran rumah tangga, pertengkaran sahabat karib, hingga peperangan antar negara, dapat dipicu dari sepotong daging kecil di celah mulut kita ini.

Rasulullah saw. bersabda :

“Kebanyakan dosa anak Adam karena lidahnya.” (Riwayat Athabrani dan Al Baihaqi)

Jagalah lidah dari perkara-perkara seperti berbohong, ingkar janji, mengumpat, bertengkar / berdebat / membantah perkataan orang lain, memuji diri sendiri, melaknat(mncela) makhluk Allah, mendoakan celaka bagi orang lain dan bergurau( yang mengandung memperolok atau mengejek) orang lain.

ilustrasi lidah

4. Menjaga Perut

Adalah hendaknya selalu di ingat: perut kita bukan tong sampah! Asupan atau Input yang masuk ke dalam perut akan berpengaruh secara langsung/tidak langsung terhadap tingkah laku/sikap/tindakan kita. Karenanya peliharalah perut dari makanan yang haram atau yang syubahat. Sekalipun halal hindari memakannya secara berlebihan, sebab hal itu akan menumpulkan pikiran dan hati nurani. Obesitas (kelebihan berat badan) adalah penyakit modern sebagai akibat lain dari tidak terkontrolnya urusan perut.

ilustrasi perut

5. Menjaga Kemaluan

Kendalikan sekuat daya atas dorongan melakukan apa-apa yang diharamkan oleh Allah SWT.

Firman Allah:

“Dan mereka yang selalu menjaga kemaluan mereka, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau apa-apa yang mereka miliki (daripada hamba jariah) maka mereka tidak tercela.” (Al Mukminun: 5-6)

ilustrasi kemaluan

6. Menjaga Dua Tangan

Kendalikan kedua tangan dari melukai seseorang (kecuali dengan cara hak seperti berperang, atau melakukan balasan yang setimpal). Katakan “stop”, pada tangan, ketika akan bertindak sesuatu yang diharamkan atau menyakiti makhluk Allah atau menulis sesuatu yang diharamkan atau menyakiti perasaan orang lain.

ilustrasi kaki

7. Menjaga Dua Kaki
Memelihara kedua kaki dari berjalan ke tempat yang diharamkan atau berjalan menuju kelompok orang atau penguasa yang zalim tanpa ada alasan darurat karena sikap dan tindakan itu dianggap menghormati kezaliman mereka, sedangkan Allah menyuruh kita berpaling dari orang yang zalim.

Firman Allah SWT. :

“Dan jangan kamu cenderung hati kepada orang yang zalim, nanti kamu akan disentuh oleh api neraka.” (QS Hud: 113)

ilustrasi kaki

Pintu-pintu bagi masuknya maksiat terbuka lebar pada ketujuh anggota tubuh tersebut di atas, begitu pula kunci-kuncinya ada dalam genggaman tangan kita untuk membendungnya. Jadi semua kembali kepada manusianya, tentu hamba Allah yang cerdik dan cerdas adalah mereka yang mempergunakan amanah tubuh untuk senantiasa berjalan di atas rel keridhaan-Nya.

Adalah sebuah hadits Nabi saw mengatakan,

“Barangsiapa meninggalkan maksiat terhadap Allah karena takut kepada Allah, maka ia akan mendapatkan keridhaan-Nya.” (Riwayat Abu Ya’li).

Subhanalloh, bagaimana dengan kita?

Barokallahu fiikum

salam santun ukhuwah silahturahim selalu.

Wallohualambisshawab

Bandung, 2012

bahaya lidah

PS :  Sahabat, mohon maaf sebelumnya bila ilustrasi yang digambarkan tidak membuat berkenan.