SENI TARAWANGSA  ASLI SUMEDANG

Jawa Barat memiliki khasanah budaya yang cukup kaya, khususnya kebudayaan Sunda yang masih dilestarikan hingga kini, salahsatunya adalah Kesenian Tarawangsa dapat ditemukan di Rancakalong, Sumedang. Tarawangsa sendiri adalah alat musik sederhana dari nenek moyang, berbentuk seperti rebab, dengan dua buah kawat untuk digesek. Awalnya digunakan dalam acara Ormatan, hiburan para petani untuk merayakan syukuran panen. Tarawangsa memiliki dua pengertian, pertama adalah alat musik gesek yang memiliki dua dawai yang terbuat dari kawat baja ataupun besi. Kedua, merupakan nama dari salah satu jeni musik tradisional khas Sunda.

 

seni calung tarawangsa 

Ilustrasi poto adalah calung tarawangsa dari Cibalong Tasikmalaya Selatan sejenis dengan seni tarawangsa dari Sumedang dengan perbedaan ensemble berupa instrumen calung (Calung Tarawangsa) dan Kacapi Jentreng (Tarawangsa)

Tarawangsa merupakan sebuah ensambel kecil yang terdiri dari sebuah tarawangsa dan sebuah alat petik tujuh dawai yang menyerupai kacapi, yang disebut jentreng.Tarawangsa punya dua kawat sebagai perlambang Sang Pencipta selalu menciptakan makhluk berpasang-pasangan. Sedangkan jentreng berdawai tujuh. Bila seluruh digabung jumlahnya sembilan sama dengan jumlah wali penyebar Islam di Tanah Jawa.

Kesenian ini menggambarkan bahwa musik ritual dihubungkan dengan sesuatu yang berkaitan dengan upacara keagamaan atau kepercayaan yang diyakini oleh sekelompok orang atau masyarakat dalam rangka penyembahan dan penghormatan terhadap yang gaib. Dalam hal ini musik digunakan sebagai media menuju alam yang dihuni oleh makhluk halus. Pada dasarnya musik sakral untuk prosesi ritus dipengaruhi oleh keyakinan yang dianut oleh masyarakat pendukungnya. Musik sakral dapat digunakan sesuai dengan keinginan masyarakatnya, salah satunya musik yang dianggap keramat dapat digunakan untuk pengusir ruh jahat yang dapat memudarkan keteraturan yang sudah dijalin antara alam manusia dan alam gaib atau antara manusia dengan alam semesta. Selain sebagai media upacara syukur terhadap hasil bumi, keselamatan, dsb, musik ritual yang dinggap keramat itu dapat menimbulkan ketentraman batin yang meyakininya. Esensinya musik ritual yang sakral mempengaruhi emosi manusia, hingga menimbulkan kehalusan budi yang mendengarkannya.

Kesenian yang disertai dengan ritual dari Rancakalong membawa pesan-pesan dalam hubungan manusia dengan alam. Penghormatan kepada sesatu yang gaib menyiratkan pesan bahwa ada keseimbangan alam semesta harus dijaga. Ucapan syukur atas hasil panen menggambarkan,kita sebagai mahluk hidup tidak boleh lupa akan kehadiran Yang Maha Esa dalam setiap apa yang kita peroleh.

Dalam pertunjukan Tarawangsa ini pemain biasanya terdiri terdiri dari dua orang, yaitu satu orang pemain Tarawangsa dan satu orang pemain Jentreng. Semua pemain Tarawangsa terdiri dari laki-laki, dengan usia rata-rata 35 – 60 tahunan.Dalam pertunjukannya ini biasanya melibatkan para penari yang terdiri dari laki-laki dan perempuan. Mereka menari secara teratur. Mula-mula penari laki-laki yang kemudian disusul dengan penari perempuan. Musik ritual tarawangsa mengantarkan masyarakat pendukungnya (orang-orang yang menari) pada keadaan alam bawah sadar hingga trance (tak sadarkan diri). Hingga saat ini pun masyarakat Rancakalong selalu menyajikan seni tarawangsa pada setiap upacara-upacara tradisinya, terutama upacara yang berkaitan dengan mitos Dewi Sri (Dewi Padi).

About these ads